Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Mengenal Tazkia Nur Rahma, Difabel Trenggalek yang Jago Membatik

25 Oktober 2019, 09: 29: 25 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

TERAMPIL: Tazkia ketika mempraktikkan cara membatik di sekolahnya.

TERAMPIL: Tazkia ketika mempraktikkan cara membatik di sekolahnya. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Memiliki keterbatasan bukan menjadi halangan Tazkia Nur Rahma untuk minder dan berkreasi. Sebab, kendati termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK)tunarungu atau difabel, dirinya mahir membatik. Tak ayal, berkat keterampilannya tersebut, dia berhasil meraih juara II lomba membatik pada Lomba Kreativitas Siswa Nasional (LKSN) Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Cuaca panas dan sinar surya menyengat kulit terasa di area Kecamatan Trenggalek, kemarin (23/10). Namun cuaca seperti itu tidak membuat warga malas beraktivitas. Seperti di SLB Kemala Bhayangkari. Terlihat di salah satu kelas, terdapat tiga siswa putri asyik membuat kerajinan batik dengan seorang siswa membuat desain serta dua siswa menggoreskan canting pada kain yang dibatik.

Mereka begitu asyik membatik hingga tidak ada yang membedakan mereka dengan perajin batik pada umumnya. Bersamaan itu, terlihat seorang guru yang mengarahkan bagian apa yang kurang. Itu lazim dilakukan ABK tunarungu. Sebab jika tidak didampingi, kebanyakan dari mereka lebih memilih ngobrol dengan temannya daripada membatik.

Salah satu dari siswa tersebut adalah Tazkia Nur Rahma. Ketika bertemu Jawa Pos Radar Trenggalek ini, setelah membatik, melalui bahasa isyarat yang diartikan Kepala SMA LB Kemala Bhayangkari Pardiono, dia bercerita tentang kegiatannya terseebut. "Saya suka membatik karena asyik. Namun jika berkumpul dengan teman, tidak bisa menolak jika diajak ngobrol. Makanya harus ada guru yang mendampingi," ucap Tazkia Nur Rahma kepada Koran ini melalui bahasa isyarat yang diartikan Kepala SLB Kemala Bhayangkari Pardiono.

Ketertarikannya membatik tersebut bermula ketika dirinya di kelas X SMALB tersebut. Saat itu pada kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas, sang guru memberi penjelasan tentang mata pelajaran (mapel keterampilan). Ada dua yang dikenalkan dalam mapel tersebut, yaitu membatik dan tata boga, membuat kue. Setelah mempelajari keduanya, ternyata dirinya lebih suka belajar membatik. "Saat itu guru memutar video membatik dan setelah melihatnya, saya tertarik," katanya.

Sejak itulah, Tazkia, sapaan akrab Tazkia Nur Rahma, mulai belajar membatik. Sedikit demi sedikit dirinya mulai menguasai hingga batikannya membentuk pola yang tak kalah dengan para pebatik lainnya dan layak jual. Itu dibuktikan ketika hasil karyanya diikutkan sebuah pameran, banyak orang yang tertarik dan membeli.

Tak ayal, hal tersebut membuat sekolah tak ragu mengikutkan batik buatannya dalam LKSN tingkat provinsi. Ternyata perjuangan itu tidak sia-sia. Karena pola yang indah dan memiliki karakter beda dengan daerah lainnya seperti terdapat gambar Turangga Yaksa khas Trenggalek, batik Tazkia masuk nominasi dan berhak mengikuti final di Kota Batu bulan kemarin.

Kesempatan tersebut tidak disia-siakan Tazkia, dengan ketelatenan dan keuletannya, dirinya berhasil meraih juara dua dan berhak mewakili Jatim pada lomba serupa tingkat nasional. Hal itu terjadi karena juara satu lomba tersebut didiskualifikasi karena kelebihan umur. Namun sayang, ketika mengikuti lomba tingkat nasional, Tazkia belum bisa membawa yang terbaik. Karena dirinya kesulitan dalam mewarnai batik buatannya. "Sebenarnya sudah berlatih. Namun ketika pewarnaan, saya bingung karena waktunya mepet. Sebab, malam yang saya bawa merupakan malam membatik, sedangkan peserta lainnya membawa malam warna. Sehingga ketika membatik langsung ada warnanya. Semoga saja ini bisa menjadi pelecut semangat pada lomba berikutnya," jelas gadis asal Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek ini. (ed/and)

(rt/zak/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia