Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Kehidupan Sosial, Zuly Kristanto Telurkan Buku Antologi Geguritan

25 Oktober 2019, 09: 38: 17 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

EKSPRESI JIWA: Zuly menunjukkan buku antologi geguritan berjudul Ombak Wektu.

EKSPRESI JIWA: Zuly menunjukkan buku antologi geguritan berjudul Ombak Wektu. (Zuly FOR RATU)

Eksistensi puisi Jawa atau geguritan masih terus menggema. Hal ini dibuktikan Zuly Kristanto, penulis muda asal Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol. Dia menelurkan sebuah buku antologi geguritan berjudul Ombak Wektu yang menyoroti kondisi sosial saat ini.

Waktu adalah sesuatu yang sulit diulang kembali. Meskipun di masa yang akan datang acap kali ada peristiwa sama, tidak sampai 100 persen mirip. Sehingga waktu yang telah lalu hanyalah meninggalkan memori dan kenangan, baik pahit maupun manis.

Hal inilah yang digambarkan seorang Zuly Kristanto melalui buku antologi geguritan berjudul Ombak Wektu yang diterbitkannya beberapa waktu yang lalu. Dalam buku berisi 180 judul puisi, dia menyoroti berbagai hal yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. “Buku ini berisi geguritan yang saya buat sejak 2010 hingga 2018,” katanya kemarin (24/10).

Menurut pemuda asal Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol ini, membuat geguritan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan karya sastra pada umumnya. Hanya saja penggunaan kata harus bermakna kuat yang menggambarkan sebuah hal. Sehingga dia harus benar-benar memikirkan kata apa yang dimasukkan dalam rangkaian puisi karyanya. “Puisi kan lebih padat dalam penggunaan kata. Sehingga harus benar-benar efektif dalam menggambarkan sebuah hal,” tambahnya.

Pemuda 29 tahun ini melanjutkan, rata-rata puisi yang diciptakannya itu menggambarkan kondisi sosial yang diketahuinya dari kacamata pribadinya. Baik itu kritik sosial, bermasyarakat, hingga urusan asmara. Semua digambarkan dalam gaya bahasa yang mendayu-dayu khas geguritan. “Semua bisa saya gambarkan dalam sebuah judul puisi,” ujarnya lantas tersenyum.

Salah satu judul geguritan yang menjadi favoritnya adalah yang berjudul Panatagama. Dia menggambarkan kondisi sosial politik yang sempat mewarnai blantika kehidupan bangsa ini pada pesta demokrasi beberapa waktu lalu. Bagi dia, seorang pemimpin tetaplah harus bisa ambyur di seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Sehingga harus bisa memimpin maupun mengayomi seluruhnya. “Hal ini tentu menjadi keinginan semua orang, tidak hanya saya pribadi. Pemimpin haruslah bisa menjadi orang yang bisa mengayomi seluruh kawula-nya,” tuturnya.

Sedangkan untuk geguritan bertema percintaan, alumnus jurusan pendidikan bahasa daerah Universitas Negeri Surabaya ini seakan-akan menembus memori para generasi ambyar yang menggandrungi lagu ciptaan Didi Kempot. Selain menggambarkan pengalaman pribadi, ada juga pengalaman rekan sejawatnya yang diulasnya dalam bentuk puisi menyentuh hati. “Di balik itu semua, saya tetap ingin sastra Jawa tetap terus lestari dan tidak cepat hilang di tengah arus kemajuan zaman,” tandasnya.

(rt/rak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia