Rabu, 29 Jan 2020
radartulungagung
icon featured
Features

Mengenal Agung Prihartono, Owner AGPSTUFF

20 Desember 2019, 15: 52: 51 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERKUALITAS: Agung Prihartono menunjukkan koleksi dan produksi jersey desain miliknya.

BERKUALITAS: Agung Prihartono menunjukkan koleksi dan produksi jersey desain miliknya.

Dari hobi, menjadi peluang bisnis. Begitulah yang terjadi pada Agung Prihartono. Hobinya bermain basket berbuah manis pada bisnis jersey miliknya. Bahkan, produk jersey miliknya menjadi langganan tim-tim IBL.

Baju-baju jersey tergantung rapi di sebuah rak kayu panjang. Di salah satu sudut ruangan, seorang pria berpostur tinggi sedang sibuk menata jersey yang sudah siap dikemas. Ya, dia adalah Agung Prihartono, seorang pelatih basket profesional asal Tulungagung sekaligus owner AGPSTUFF. Di kediamannya yang berlokasi di Perumahan Bumi Mas Blok N-2, Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru, ini dia merintis bisnisnya. “AGPSTUFF itu singkatan nama saya, yakni Agung Prihartono,” jelasnya mengawali cerita.

Basket bukan hal baru baginya. Karirnya di dunia basket telah dimulai sejak di bangku SMP. Bahkan, hingga kini dari tangan dinginnya telah lahir jebolan atlet-atlet profesional seperti Restu Dwi Purnomo, yang telah melanglang buana di kancah nasional maupun internasional. Berangkat dari pengalaman sebagai pemain dan atlet inilah yang membuatnya memutuskan untuk berbisnis jersey hingga segala kebutuhan pemain basket.

Pria yang juga pernah menjadi pemain Pekan Olahraga Nasional (PON) Jatim 2004 ini mengaku memulai bisnis membuat kostum bola basket atau jersey sejak 2005 silam. Kala itu, dia ingin mencoba hal baru dengan memiliki sebuah brand sendiri. Namun tidak jauh dari hobi basketnya. Dengan modal yang tidak besar, dia pun nekat membuka usaha. Dia mulai menjalin kerja sama dengan penjahit yang bisa membuat jersey, kaus basket, dan sejenisnya. “Modal niat yang pertama,” katanya.

Dari situ dia mencoba menjajakan barang dagangannya. Dengan sabar dan ulet dia mulai sebagai support tim yang pernah dikenalnya. Media sosial seperti instagram pun menjadi salah satu upayanya dalam memasarkan produk. Menurutnya, kesabaran dan keuletan merupakan kunci meraih kesuksesan. “Dulu mengawalinya membutuhkan kerja keras. Karena saat itu masih baru dan saya harus menunjukkan kualitas. Kebetulan saya dulu pemain basket sehingga masih mengenal pemain dan pelatih beberapa tim sekolah serta universitas,” terangnya.

Demi menjaga kualitas, pemilihan bahan dan desain pun dia lakukan sendiri. Bahkan, Agung harus beberapa kali ke luar kota untuk mencari bahan yang berkualitas dengan harga yang cukup terjangkau. Ini dilakukan karena menurutnya, menunjukkan baju hasil produksinya mampu bersaing dan memiliki kualitas tak kalah apik. “Semuanya saya handle sendiri. Bahkan, produksi saya saat ini termasuk nomor tiga se-Indonesia,” imbuh pria 35 tahun ini.

 Berkat keuletannya, kini jersey yang diproduksinya telah melanglang buana. Tak hanya pasar lokal, tapi juga nasional. Ini terbukti, beberapa tim unggulan di Indonesian Basketball League (IBL) dan Developmental Basketball League (DBL) pun pernah memilihnya menjadi support atau sponsor. Kini, dia pun dipercaya untuk memegang tiga tim IBL. Yaitu NSH Jakarta, Hangtuah Sumsel, Satya Wacana Salatiga, serta Tim Bogor Siliwangi. Tim-tim ini mempercayakan seluruh keperluan pemain, seperti jersey latihan, jersey bertanding, hingga merchandise pada AGPSTUFF. “Ini berkat kualitas yang saya tunjukkan. Jadi bisa dikenal di pasar nasional. Bahan dan desain yang berbeda dengan produksi jersey lainnya. Rata-rata mereka mengenal saya dari tampilan jersey pemain unggulan, kemudian menghubungi saya lewat instagram atau media sosial lainnya,” katanya.

 Membangun bisnis bukan tanpa badai. Bisnis pun dibangunnya dengan jatuh bangun. Bahkan, dia pernah mendapat pengalaman pahit. Yakni kena tipu dengan rekan bisnis hingga membuat deadline pengerjaan mundur dari kesepakatan. Ini membuatnya harus ganti rugi alias tombok. Namun, kejadian tersebut menjadi pengalaman baginya untuk kembangkan bisnis ke depan. Hasilnya, kini dia mampu terima pesanan hampir sepuluh tim setiap bulannya. Dengan kuota sekitar 100 piece. “Bulan ini saja yang mengantre ada 16 tim. Alhamdulillah masih diberi kelancaran,” terangnya.

 Disinggung mengenai aktivitas di dunia basket, pria kelahiran 4 September 1984 ini mengatakan, sekarang memilih fokus bisnis sembari mengajar dan menjadi pelatih. “Basket itu ibarat sudah jadi bagian dari hidup saya. Jadi meski sekarang sudah tidak aktif bermain, masih aktif menjadi pelatih di SMAN 1 Boyolangu,” tandasnya.

(rt/nda/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia