Rabu, 29 Jan 2020
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Berkedok Guru Spiritual, Klaim Bisa Sulap Upal Jadi Asli

31 Desember 2019, 16: 53: 30 WIB | editor : Andrian Sunaryo

BANYAK: Deretan barang bukti hasil ungkap kasus penipuan bermodus penggandaan uang saat rilis pers di Polres Trenggalek, kemarin (30/12).

BANYAK: Deretan barang bukti hasil ungkap kasus penipuan bermodus penggandaan uang saat rilis pers di Polres Trenggalek, kemarin (30/12). (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

KOTA, Radar Trenggalek - Sindikat peredaran uang palsu (upal) sepertinya semakin marak terjadi menjelang akhir tahun. Pasalnya, baru-baru ini Korps Bhayangkara berhasil merilis jaringan upal asal Desa Bogoran, Kecamatan Kampak. Modus tersangka kali ini dengan berkedok sebagai guru spiritual yang mengklaim mampu mengubah upal menjadi asli.

Kapolres AKBP Jean Calvijn Simanjuntak membenarkan adanya kasus tersebut. Tersangka peredaran upal diketahui bernama Misdiyanto alias Ateng, warga Dusun Branjang RT 19/RW 06, Desa Bogoran, Kecamatan Kampak. "Dalam aksinya, tersangka sengaja menyuruh dua saksi untuk menyewa pemandu lagu (PL) dengan menggunakan upal," ungkapnya.

Dalam kronologi kejadiannya, awalnya kedua saksi, yakni Perry Wahyu Saputra dan Damuri diminta tersangka Ateng menyewa PL untuk mengisi acara musik. Untuk meyakinkan saksi, waktu itu tersangka Ateng sengaja memberi uang Rp 300 ribu berupa pecahan Rp 50-an. Di tengah perjalanan mencari PL, kedua saksi tak sengaja mampir untuk membeli rokok di warung. Mereka membeli dua bungkus rokok seharga Rp 34 ribu. "Namun, pemilik warung merasa curiga dengan uang pecahan yang diberikan Perry (panggilannya, Red). Dia pun melaporkan kecurigaan itu ke Polsek Kecamatan Kauman, Tulungagung," kata dia.

Dari hasil laporan itu, Korps Bhayangkara melakukan penyelidikan sekaligus mengumpulkan bahan keterangan terkait peredaran upal tersebut. Sehingga ditemukan dari hasil gelar perkara dengan Polres Tulungagung, ternyata TKP pertama peredaran upal berada di wilayah hukum Polres Trenggalek. Hingga berhasil menangkap kedua saksi di jalan raya Kedunglurah, Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan. “Menurut keterangan kedua saksi, mereka mengaku tidak mengetahui uang yang dipakainya adalah palsu,” ujarnya.

Dari hasil pengakuan kedua saksi, aparat kepolisian akhirnya berhasil mengendus keberadaan Ateng di rumahnya Dusun Branjang RT 19/RW 06, Desa Bogoran, Kecamatan Kampak. Tak pelak, Kamis (12/12) lalu, tim berhasil menangkap Ateng. “Dari tangan tersangka, tim mengamankan uang Rp 50 ribu yang diduga palsu,” ungkapnya. 

Calvijn melanjutkan, dari pengakuan Ateng, dia mengaku bisa mengubah upal menjadi uang asli. Dengan cara menaruh upal di bawah wadah bak, kemudian upal tersebut mampu berubah menjadi uang asli dengan sendirinya. “Setiap upal yang digandakan pelaku Ateng mengambil berapa persen dari uang yang diduga menjadi asli tersebut. Namun, langsung disimpan ke rekening,” ujarnya. 

Dari pengakuan Ateng, upal yang berubah menjadi asli memiliki jangka waktu sebelum akhirnya menghilang dengan sendirinya. Untuk mencegah uang itu hilang, maka setiap uang yang diyakini asli itu selalu disimpan di rekening. “Belum dapat dibuktikan kebenaran praktik mengubah upal menjadi asli itu. Namun, dia pernah menggandakan uang hingga Rp 100 juta,” tegasnya.

Akibat kasus ini, tersangka dikenakan pasal 36 ayat (2), (3) jo pasal 26 ayat (2), (3) UU RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. “Tersangka diancam hukuman paling lama 15 tahun penjara,” pungkasnya. (*)

(rt/pur/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia