Rabu, 26 Feb 2020
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Rogoh Rp 25 Juta, Bangun Lantai dan Atap

Di Sentra Pemindangan Bengkorok, Watulimo

03 Januari 2020, 09: 15: 59 WIB | editor : Andrian Sunaryo

MASIH SEGAR: Beberapa karyawan di sentra pemindangan bengkorok yang sedang membersihkan pindang dengan air beberapa waktu lalu.

MASIH SEGAR: Beberapa karyawan di sentra pemindangan bengkorok yang sedang membersihkan pindang dengan air beberapa waktu lalu. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

WATULIMO, Radar Trenggalek – Pelaku pemindangan ikan pindahan dari wilayah pemukiman ke sentra pemindangan bengkorok, Desa Tasikmadu, Kecamatan Trenggalek, tampaknya harus merogoh gocek lebih dalam untuk membangun fasilitas operasionalnya. Pasalnya, dari pengakuan pemindang, mereka membutuhkan biaya hingga puluhan juta untuk memenuhi kebutuhannya saat ini.

Pemilik usaha pindang, Suprihatin mengungkapkan, dirinya masih sekitar seminggu lalu beroperasi dan pindah di sentra pemindangan. Itu karena aturan yang menganjurkan pemindang yang beroperasi di sekitar permukiman warga agar pindah ke sentra pemindangan kalau tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). “Terus terang, saya tidak terbebani dengan perpindahan lokasi dari permukiman ke sentra pemindangan. Saya harus menaati peraturan pemerintah,” ungkap warga Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo itu.

Terbitnya aturan itu, akhirnya berhasil memindahkan Suprihatin untuk beroperasi di sentra pemindangan. Namun, dia harus dihadapkan dengan biaya hingga puluhan juta untuk menunjang operasionalnya. Seperti fasilitas lantai, atap, dan sebagainya. Untuk itu, dirinya terpaksa mulai mencicil untuk membangun fasilitas tersebut. “Sekitar Rp 25 juta habis untuk membangun mester (lantai, Red) dan atap,” ungkapnya.

Pengeluaran biaya yang tidak murah itu pun harus ditempuh Suprihatin  karena dia mengaku tidak memiliki jalan lain. Di satu sisi, aturan memang menganjurkan pindah ke sentra pemindangan. Di sisi lain, ada banyak desakan dari tetangga karena usahanya berdampak terhadap lingkungan.

Seminggu beroperasi di sentra pemindangan, kesan awalnya ternyata baik. Karena sebanyak 25 karyawan yang membantu usahanya mengaku cocok memindang di tempat yang baru. Mereka mengatakan, tempatnya lebih besar dan anginnya semilir. “Justru lebih enak. Airnya enak, karyawan saya juga marem sambil melihat lokasi wisata,” ujarnya.

Hanya, ungkap Suprihatin, dirinya harus menambah biaya operasional untuk 25 karyawannya karena kebanyakan mereka memiliki rumah yang jauh dari sentra pemindangan. Sehingga biaya transpor pun dia tambah untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). “Mungkin saya menambai bensin-bensin. Tahu diri lah, kalau rumah mereka juga jauh dan gajinya nggak seberapa. Makanya saya tambah sedikit-sedikit,” ungkapnya.

Suprihatin berharap agar bangsal pemindang bisa dipakai secara permanen. Dia mengaku sudah mengeluarkan untuk membangun beberapa fasilitas menunjang operasionalnya yang notabene tidak sedikit. “Jadi biar tidak dipindah-pindah lagi,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Perikanan (Disperi) Cusi Kurniawati menanggapi, sentra pemindangan memang tidak dipakai permanen sehingga mereka dapat memakai saja. Ketika nanti mengacu pada master plan-nya yang memerlukan pemindahan bangsal, mereka juga perlu dipindah. “Kami sudah memfasilitasi berupa bangsal-bangsal dan ada IPAL. Namun, ketika fasilitas itu kurang dan untuk kebutuhan operasionalnya, mereka harus membangun sendiri,” ujarnya. (*)

 SEPUTAR PEMINDANG BARU:

- Fasilitas operasional belum lengkap.

- Karena itu, pemindang perlu membangun fasilitasnya sendiri.

- Seperti lantai dan atap.

- Biaya operasional transpor karyawan bertambah.

- Biaya membangun fasilitas hingga Rp 25 juta.

- Pemindang baru di sentra pemindangan tidak merasa keberatan.

- Dengan biaya dan penambahan operasional karyawan.

- Karena sudah tidak memiliki pilihan lain.

- Dari satu sisi, aturan agar berpindah ke sentra pemindangan.

- Di sisi lain ada desakan dari tetangganya sendiri.

- Sentra pemindangan telah memberikan fasilitas berupa bangsal dan IPAL.

- Di luar itu, pemindang perlu mencukupi fasilitasnya sendiri.

- Bangsal tidak dapat dipakai secara permanen.

SUMBER: PEMILIK USAHA PINDANG DAN KEPALA DISPERI

(rt/pur/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia