Rabu, 29 Jan 2020
radartulungagung
icon featured
Trenggalek
Pilbup Trenggalek

Ipin Bisa Lawan Bumbung Kosong, Jika Kandidat Lain Tak Greget Daftar

14 Januari 2020, 09: 35: 59 WIB | editor : Andrian Sunaryo

ilustrasi

ilustrasi

KOTA, Radar Trenggalek- Para bakal calon (balon) bupati/wabup sepertinya belum greget macung sekaligus bersaing dalam pemilihan bupati dan wakil bupati (Pilbup) di Bumi Menak Sopal September mendatang. Apalagi, dimungkinkan calon lawannya adalah calon incumbent. Kendati demikian Komisi Pemilihan Umum (KPU) tetap melaksanakan kegiaan lima tahunan tersebut sesuai tahapan, walaupun nanti hanya satu pasangan calon (paslon) mendaftar.

Hal ini merujuk pada Undang-undang nomor 10 tahun 2016, merupakan perubahan kedua UU nomor 1 tahun 2015 tentang pemilihan gubernur, bupati dan walikota. Dalam peraturan tersebut, diperbolehkan paslon tunggal."Untuk regulasi pilbup 2020 sementara ini masih memakai peraturan lama, telah jelaskan menjadi peraturan KPU (PKPU) nomor 3 tahun 2017, PKPU 15 tahun 2017 dan terakhir PKPU 18 tahun 2019," kata Gembong Derita Hadi Ketua KPU Tulungagung.

Dia melanjutkan, jadi nanti ketika pendaftaran paslon dibuka pada 16 hingga 18 Juni 2020 mendatang, dan baru ada satu paslon yang mendaftar, maka KPU akan membuka lagi proses pendaftaran. Terkait lamanya proses lanjutan pembukaan pendaftar tersebut, KPU belum bisa menginformasikan. Sebab menunggu PKPU terbaru tentang hal tersebut."Biasanya akan ada PKPU terbaru atau Surat Edaran (SE) KPU RI di menit-menit terakhir jika hal tersebut terjadi. Makanya kami belum bisa memberikan informasi terkait hal tersebut," tuturnya.

Apabila sampai pembukaan kembali pendaftaran masih satu paslon, KPU tetap melaksanakan proses pilbup. Sehingga nanti dua gambar pada surat suara adalah nomor satu terdapat foto dan nama paslon yang mendaftar sebagaimana mestinya, sedangkan nomor dua foto paslon buram yang sering diartikan sebagai bumbung kosong. Sedangkan pencoblosannya seperti pencoblosan sebagaimana mestinya.

Dari situ, paslon nomor satu bisa ditetapkan sebagai pemenang jika meraup suara minimal 50 persen ditambah satu suara dari suara sah. Sebaliknya, jika yang memperoleh suara minimal 50 persen ditambah satu adalah bumbung kosong, maka pilbup dikatakan gagal. Sebab tidak bisa melahirkan pemenang. Sehingga pemilihannya akan diulangi pada pemilihan serentak terdekat."Jadi prosesnya akan tetap kami lakukan sesuai prosedur, dan jika sampai tidak bisa ditetapkan pemenang, bupati yang akan memimpin sampai ada pemilihan selanjutnya kami serahkan ke pemerintah," jelas Gembong. (*)

(rt/zak/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia