Rabu, 26 Feb 2020
radartulungagung
icon featured
Features
Budiono, Perajin Miniatur Pinisi meski Lumpuh

Inspirasi dari YouTube, Karyanya Sering Ikut Pameran Desa

15 Januari 2020, 10: 15: 59 WIB | editor : Andrian Sunaryo

SITI KREATIF: Budiono saat menyelesaikan miniatur kapal layar yang terbuat dari bambu, Jumat lalu (10/1).

SITI KREATIF: Budiono saat menyelesaikan miniatur kapal layar yang terbuat dari bambu, Jumat lalu (10/1). (NURUL LAILIL M/RATU)

Delapan tahun silam, tulang ekor Budiono retak karena mengalami kecelakaaan lalu lintas. Vonis lumpuh pun harus diterima warga Desa Jarakan, Kecamatan Gondang ini. Meski begitu, semangat dan keyakinan membuatnya kembali bangkit dengan menghasilkan karya yang istimewa.

SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Gondang, Radar Tulungagung

Kecelakaan lalu lintas itu terjadi pada 2013 silam. Selama setahun lebih dia tak bisa beraktivitas normal. Vonis kelumpuhan membuatnya semakin terpuruk dan tak lagi percaya diri. Bahkan, hatinya yang tak sekuat baja, membuatnya membatasi gerak dirinya bersosialisasi dengan tetangga dan teman dekatnya.

Tak ingin terus berlarut dan sembari menguatkan hati, Budiono berusaha bangkit. Yang awalnya hanya terbaring di tempat tidur, mulai ada kemauan untuk belajar duduk. Soal duduk pun, diakui Budiono, tidak semudah yang dibayangkan. Dia harus berhati-hati dan sering kali menahan sakit. Berhasil melakukan itu adalah hal yang sangat membahagiakan. "Sekarang pun duduk lama gini ya lumayan capek," katanya saat ditemui Koran ini di rumahnya

Kendati geraknya lebih terbatas, Budiono sangat gembira bisa beraktivitas lagi. Seperti beberapa waktu lalu, di tengah cuaca yang cerah menghiasi langit di RT 03/RW 02 Dusun Bakalan, Desa Jarakan, Kecamatan Gondang, Budiono larut dengan aktivitas. Meski terik semakin menyengat, tak menghalanginya merangkai bambu yang sudah di-irat-nya membentuk cekungan seperti layar sebuah kapal pinisi.

Ya, aktivitas ini mulai ditekuninya enam bulan lalu. Sebelumnya, pria berusia 39 tahun ini bekerja di pabrikan dan buruh bangunan. Tapi sekarang dia melakukan pekerjaan berbeda. Yakni membuat miniatur kapal pinisi dan klasik yang terbuat dari bambu. Ide itu muncul ketika dia melihat YouTube. Caranya yang mudah membuatnya mulai tertarik membuat. Dengan bermodal bambu yang tidak dipakai di rumahnya, dia berkreasi dan menyulapnya menjadi sebuah karya yang bernilai ekonomi tinggi.

"Butuh lima hingga seminggu untuk menyelesaikan miniatur dengan panjang 60 sentimeter ini. Karena keterbatasan saya ini," katanya

Respons positif dari warga sekitar pun membuatnya semakin semangat menggelutinya. Bahkan, karyanya sering dibawa ke pameran desa menjadi salah satu produk unggulan desa. Budiono mengakui, karyanya dibentuk semirip mungkin dengan aslinya. Apalagi, aksesori seperti layar, tangga, pagar, penyangga dan lainnya juga dirakit sedemikian rupa, menjadi nilai plus dari karyanya.

"Nggak ada kesulitan sih. Tapi memang butuh ketelatenan dalam proses finishing-nya. Seperti merakit aksesori pendukung," terangnya

Untuk bahan, Budiono mengaku memakai bambu yang sudah tua. Sehingga mudah dalam membentuk irat bambu sesuai keinginannya. Jika dihitung, satu miniatur kapal pinisi itu membutuhkan kurang lebihlima ruas bambu. Dia pun merangkainya dengan lem besi karena dianggap lebih awet dan cepat kering.

"Semua pengerjaan saya sendiri. Ini menunjukkan kalau keterbatasan tidak bisa menghalangi saya untuk membuat sebuah karya," tambahnya.

Untuk pemasaran, Budiono masih mengandalkan metode getok tular dan dari pameran. Budiono mengaku sudah menjual puluhan miniatur berbagai model. Mereka yang beli banyak memanfaatkan karyanya itu untuk memperindah interior ruang tamu.

"Maunya ya dipasarkan ke medsos. Biar pemasarannya lebih meluas. Tapi, jumlahnya akan dibatasi," tandasnya. (*)

 

(rt/lai/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia