alexametrics
Selasa, 31 Mar 2020
radartulungagung
icon-featured
Trenggalek

Diduga Lalai, Pasien DBD di Trenggalek Meninggal

RSUD dr Soedomo Klaim Perawatan Sesuai SOP

15 Februari 2020, 08: 48: 05 WIB | editor : Andrian Sunaryo

TURUT BERDUKA : Bupati Trenggalek Moch Nur Arifin mendengarkan cerita Triana Estiningrum ibunda almarhum Berlian Nuraini Larifah.

TURUT BERDUKA : Bupati Trenggalek Moch Nur Arifin mendengarkan cerita Triana Estiningrum ibunda almarhum Berlian Nuraini Larifah.

KOTA, Radar Trenggalek - Manajemen pelayanan di RSUD dr Soedomo Trenggalek tampaknya harus segera berbenah. Pasalnya, pelayanan rumah sakit pelat merah tersebut kembali dikeluhkan pasien. Terakhir dirasakan keluarga Triana Estiningrum, anaknya Berlian Nuraini Larifah, 13, meninggal karena penyakit deman berdarah dengue (DBD) setelah dirawat di rumah sakit tersebut.

Menurut Triana Estiningrum, ibu korban, Berlian Nuraini Larifah tiba di IGD RSUD dr Soedomo Kamis (6/2) sekitar pukul 10.00 setelah dirujuk dari puskesmas setempat. Setiba di rumah sakit, dengan alasan prosedur yang ada, harus mendapatkan kamar perawatan dahulu, pasien tidak kunjung ditangani. Barulah setelah melakukan perdebatan, sekitar pukul 16.00 pasien mendapatkan perawatan juga mendapatkan kamar. "Seharusnya dengan kondisi anak saya seperti itu perawatannya di ICU. Namun beberapa kali perawat diingatkan jawabannya sudah prosedur rumah sakit untuk pasien DBD. Karena tidak tahu, saya hanya bisa menurut," ungkap Triana Estiningrum di hadapan Bupati Trenggalek Moch. Nur Arifin ketika bertakziah, kemarin (14/2).

Bukan hanya itu, lanjut warga Desa Rejowinangun, Kecamatan Trenggalek ini, selama proses perawatan di kamat inap tersebut, beberapa kali anaknya muntah darah dan mimisan. Namun ketika melaporkan ke perawat yang bertugas, hanya dijawab pasien DBD seperti itu, tidak ada penanganan. Puncaknya pada Minggu pagi (9/2), setelah diberi tambahan enam kantong darah, kondisi pasien semakin menurun. Dari situ dokter yang bertugas memerintah agar memberi tambahan empat kantong darah lagi, tapi perintah tersebut hanya dilakukan melalui pesan singkat. Namun, pesan singkat tersebut baru dibuka pada siang hari. "Selain itu, juga masih banyak lagi, seperti perawat yang memberi jawaban seenaknya saja. Karena merasa perawatan yang dilakukan ke anak saya seenaknya sendiri, saya lantas meminta pulang dan memindah perawatannya ke rumah sakit lain," katanya sambil bersedu-sedu.

Ternyata takdir berkata lain, ketika menunggu proses pemulangan tersebut, ternyata sang anak meninggal. Untuk itu, ketika bertemu bupati, dirinya berpesan agar manajemen rumah sakit diubah agar tidak ada pasien lain yang mengalami nasib yang sama. "Apalagi saat itu konsentrasi saya terpecah karena adiknya juga sakit dengan gejala yang sama. Akhirnya karena trauma, saya mengantarkan anak kedua saya ke rumah sakit lain dan syukurlah kini sudah sembuh," jelasnya.

Dimintai tanggapan terkait hal tersebut, Bupati Trenggalak Moch. Nur Arifin tidak berucap satu patah kata pun. Dirinya memilih berziarah ke makam almarhumah dan langsung bertolak ke Pendapa Manggala Praja Nugraha untuk mengevaluasi kinerja RSUD dr Soedomo Trenggalek.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Direktur RSUD dr Soedomo, Sunarto menjelaskan, sebenarnya rumah sakit sudah melakukan perawatan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang ada. Namun, ada aduan tersebut pihaknya akan melakukan tracking. Sehingga jika memang laporan tersebut benar, pastinya akan diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku. "Kami selalu terbuka akan aduan yang ada sehingga terlebih dahulu akan kami cari kebenarannya. Untuk jenis sanksinya apa, nanti akan dilihat tingkat kesalahannya," jelasnya. (*)

(rt/zak/dre/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia