alexametrics
Senin, 06 Apr 2020
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek

TMH Belum Mampu Sumbang PAD

Diprediksikan 2020 Bisa Mandiri

25 Februari 2020, 20: 40: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERSANTAI: Salah satu pengunjung sedang menikmati kawasan di Trenggalek Milk House.

BERSANTAI: Salah satu pengunjung sedang menikmati kawasan di Trenggalek Milk House. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RATU)

KOTA, Radar Trenggalek - Keberadaan Trenggalek Milk House (TMH) ditengarai belum bisa berjalan optimal, khususnya dalam hal menyumbangkan hasil penjualan produk yang mengarah ke pendapatan asli daerah (PAD). Alasannya, karena mayoritas produk yang dijual masih bersifat titipan, sehingga omzetnya pun masih sangat minim.

Kasi Bidang Industri Agro Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Elly Ariawati mengatakan, pada 2020 ini produksi rumah susu memang memulai ke arah PAD. Namun menurut dia, ada beberapa unsur yang menjadi kendala, seperti kebanyakan produk yang dijual adalah titipan dari Industri Kecil Menengah (IKM), sehingga omzetnya pun juga masih terbatas. "Belum mampu membayar ke PAD, karena masih sebatas untuk biaya operasional," ungkapnya.

Dia menjelaskan, kisaran omzet rumah produksi masih mengalami fluktuatif alias naik turun, karena tergantung jumlah pembeli. Mayoritas kelas usia yang membeli susu itu pun kebanyakan anak-anak sekolah, sehingga ketika hari-hari biasa omzetnya sebatas Rp 300 ribu, namun meningkat mencapai Rp 1 juta pada hari libur atau Minggu. "Setiap produk yang dijual mengambil laba sekitar Rp 500 - 1000," ujarnya.

Di sisi lain, kata Elly, komunal branding Cucapi belum dapat diterapkan karena rumah produksi susu yang berstandar badan pengawas obat dan makanan (BPOM) belum dibangun. Menurut dia, pada 2020 ini masih tahap proses perencanaan untuk lelang pembangunan rumah khusus produksi susu, sehingga pada 2021 mendatang bangunan selesai dan mulai menerapkan komunal branding. "Anggaran pembangunan sekitar Rp 1,2 Miliar (M)," kata dia.

Dia menambahkan, standarisasi itu penting untuk mencegah produksi susu mengandung bakteri-bakteri yang rawan merugikan konsumen. Sebagaimana susu itu sangat rentan dengan bakteri. "Sehingga rumah produksinya harus standar khusus dan berstandar BPOM," ungkapnya.

Sementara Petugas Trenggalek Milk House Hendy mengungkapkan, jumlah pengunjung tiap harinya sulit dideteksi, namun kebanyakan yang membeli susu dari kelas usia anak-anak. "Mayoritas anak SD yang beli," kata dia.

(rt/pur/dre/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia