alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radartulungagung
Home > Sportainment
icon featured
Sportainment

Milik Pribadi, Perseta Tak Dapat Duit APBD

25 Februari 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Andrian Sunaryo

IKUT LIGA 3 PROVINSI TIDAK ? : Pemain Perseta Tulungagung celebrasi pada pertandingan beberapa waktu lalu.

IKUT LIGA 3 PROVINSI TIDAK ? : Pemain Perseta Tulungagung celebrasi pada pertandingan beberapa waktu lalu. (dok RaTU)

KOTA, Radar Tulungagung - Klub Persatuan Sepak Bola Tulungagung (Perseta) Tulungagung, dipastikan tahun ini tidak akan mendapatkan kucuran dana dari APBD, melalui Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Tulungagung. Pasalnya, klub tersebut ternyata berbadan hukum atas nama seseorang alias milik pribadi.

 Dengan klub atas nama pribadi, maka tidak menutup kemungkinan pada Liga 3 Provinsi yang digelar 6 Juli  mendatang, Tulungagung tidak akan mempunyai perwakilan di liga tersebut.

 Hal itu diungkapkan Ketua PSSI Tulungagung, Ahmad Baharudin. Menurut Baharudin-panggilan Ahmad Baharudin, berdasarkan kongres PSSI di provinsi beberapa waktu lalu, bahwa yang bisa mendaftarkan Perseta ke liga 3 provinsi adalah pemilik klub atau ketua klub. “Jadi untuk PSSI Tulungagung sebenarnya tidak memiliki klub sendiri yang ikut liga tiga di provinsi,” ungkapnya.

Sedangkan mengenai Perseta, lanjut Baharudin, karena sudah berbadan hukum pribadi,  dipastikan PSSI Tulungagung tidak akan memberikan anggaran. Sebab, dari Tulungagung yang ikut Liga 3 provinsi tidak hanya Perseta, tapi ada tiga klub lain. Yakni, Perseta, Akademi Arema, dan Naga Emas. “Jika nanti Perseta sendiri yang dibiayai, maka klub lain iri.  Selain itu, dengan kondisi tersebut, maka Perserta  ikut tidaknya liga tiga tergantung dari pemiliknya,” jelasnya.

 Dia mengatakan, sebenarnya Perseta secara sosial milik masyarakat Tulungagung. Namun secara hukum, klub yang berjuluk Laskar Badai Selatan ini adalah milik seseorang. Apabila nanti Perseta bisa dibalik nama atas nama  Pemkab Tulungagung, maka PSSI Tulungagung atau pemkab tetap membiayai Perserta agar ikut liga 3 provinsi.

Mengenai anggaran 2019 untuk Perseta, pria yang juga menjabat wakil pimpinan DPRD Tulungagung ini mengakui sekitar Rp 750 juta. Sedangkan tahun ini dana yang akan dikucurkan ke Perseta belum final.

 Dia mengatakan, jika pemilik klub tersebut tidak mau membalik nama atas nama pemkab, maka PSSI Tulungagung tidak akan membiayai perseta. “Yang dibiayai Perseta adalah kompetisi internal kabupaten Tulungagung, dan dimaksimalkan pembinaan anak-anak di Tulungagung,” katanya. 

Ketika ditanya sejak kapan Perseta berbadan hukum atas nama pribadi, Baharudin mengaku belum tahu detailnya. Tapi badan hukum itu diurus pada waktu PSSI ada dua versi kepemimpinan. Kala itu pada pemilihan kongres luar biasa dimenangkan La Nyala. Tapi ternyata menteri olahraga tidak mengakui kepemimpinan La Nyala, maka sepak bola di Indonesia dibekukan. Setelah itu muncul kepemimpinan baru dan muncul dua Perseta. Perseta  yang ikut La Nyala dan Perseta Tulungagung ikut kepemimpinan baru. Nah, ternyata yang diakui adalah Perseta Tulungagung. “Dan Perseta Tulungagung langsung mendapatkan liga 2 dan liga 1, dan itu sudah berbadan hukum,” katanya.

 Sementara itu, H. Anas, pemilik Perseta saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon tidak ada jawaban. Meskipun ada nada sambung aktif. (*)

(rt/rak/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia