alexametrics
Kamis, 09 Apr 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Dr Mohamad Arfi, SpP Tangani Kasus Korona

Sempat Dilarang Bekerja oleh Buah Hati, Anggap Semua Ada Risiko

18 Maret 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Andrian Sunaryo

DEDIKASI: Dr Mohamad Arfi, SpP memeriksa laporan berkas pasien di RSUD dr Iskak, kemarin (17/3).

DEDIKASI: Dr Mohamad Arfi, SpP memeriksa laporan berkas pasien di RSUD dr Iskak, kemarin (17/3). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Setiap profesi memiliki risiko masing-masing. Begitu pun dengan petugas medis. Di tengah merebaknya virus korona, dr Mohamad Arfi, SpP, tetap setia dengan profesinya untuk menjadi garda terdepan dalam penanganan kasus Covid-19.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Kedungwaru, Radar Tulungagung

Di tengah merebaknya kasus corona virus disease (Covid-19) di berbagai wilayah, tentu meninggalkan berbagai cerita. Termasuk bagi para petugas medis yang menjadi garda terdepan dalam penanganan virus yang kali pertama ditemukan di wilayah Wuhan, Tiongkok ini. Dr Mohamad Arfi, SpP, salah satunya. Dokter spesialis paru RSUD dr Iskak Tulungagung ini menjadi salah satu petugas medis yang terlibat langsung dalam penanganan kasus Covid-19. “Iya, bisa dibilang ini pengalaman baru untuk saya, di tengah profesi saya sebagai dokter paru,” jelasnya mengawali cerita.

Arfi, sapaan akrabnya mengatakan, pada dasarnya menangani pasien terduga terinfeksi Covid-19 maupun pasien-pasien yang lain adalah sama. Hanya saja, setiap kasus medis memiliki standard operation procedur (SOP) penanganan masing-masing. Lantaran kasus Covid-19 merupakan kasus baru, tak heran jika berbagai macam informasi bermunculan dan sempat menimbulkan kepanikan di masyarakat.

Arfi mengaku sempat kaget ketika sekitar Februari lalu, tempatnya bekerja menerima rujukan pasien asal Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, yang dicurigai terinfeksi virus korona. Namun, mengingat profesinya sebagai dokter yang dituntut harus selalu sigap menolong setiap pasien, menjadi motivasinya untuk menepis rasa khawatir. “Sempat kaget juga saat kali pertama itu. Karena saat itu kondisinya sedang outbreak juga. Namanya profesi, saya tepis semua rasa khawatir itu. Ditambah hasil pemeriksaan awal, hasil lab dan foto rontgen pasien bagus, saya semakin yakin bahwa kondisi pasien akan baik-baik saja,” bebernya.

Meski dia yakin kondisi pasien hanya sebatas radang tenggorokan ringan, sesuai dengan SOP penanganan virus Covid-19, pasien tetap harus diambil swab hidung, swab tenggorokan, darah, dan sampel skutum atau dahak. Ini untuk membuktikan bahwa pasien negatif virus korona.

Pria kelahiran Jakarta, 28 Juni 1973 ini mengaku, rasa khawatir ketika menangani kasus Covid-19 juga muncul dari keluarga. Terlebih kedua buah hatinya yang masih berusia 15 dan 10 tahun. Bahkan, sang buah hati sempat melarangnya untuk menangani kasus Covid-19 dan memintanya untuk berhenti berhadapan dengan pasien-pasien terduga Covid-19. “Sempat juga saat itu anak-anak bilang ‘Papa nggak usah ngurusin korona lagi, papa di rumah saja’,” tuturnya menirukan celotehan kedua buah hatinya.

Ramainya pemberitaan di berbagai media mengenai kasus Covid-19, membuat kedua buah hatinya khawatir dengan keselamatannya. Beruntung, sang istri yang juga memiliki latar belakang di bidang kesehatan selalu setia mendukungnya. Sehingga dia dan sang istri saling memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai virus korona. “Ya, untungnya istri saya sangat paham pekerjaan saya. Jadi kami saling memberi edukasi ke anak-anak saat merengek. Namanya masih anak-anak mau bagaimana lagi,” imbuhnya seraya tertawa.

Disinggung mengenai berbagai cerita tenaga medis yang turut terpapar virus Covid-19, warga Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, ini mengaku prihatin dengan musibah tersebut. Namun, bagaimana pun juga sebagai sesama petugas medis, risiko terpapar virus selalu ada. Untuk itu, dia bersama-sama dengan petugas medis selalu untuk tertib dengan protokol pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Yakni dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap sesuai dengan standar. “Ya, ini memang risiko pekerjaan kami sebagai petugas medis. Tapi saya yakin, kami bekerja nothing to lose saja. Kami berniat membantu pasien. Semoga rekan-rekan sesama petugas medis diberi kesehatan selalu,” harapnya.

Untuk itu, dia pun mengimbau masyarakat untuk tidak perlu panik secara berlebihan. Sebab, penanganan kasus seperti virus Covid-19 ini harus didukung semua pihak. Baik pemerintah, petugas kesehatan, maupun masyarakat luas. Salah satunya dengan mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing. Dengan demikian, masyarakat pun turut membantu menekan laju penularan virus korona. Sehingga risiko tertular pun dapat mengecil. “Biar bagaimana pun, ini harus saling mendukung, masyarakat sebaiknya menerapkan social distancing dan menjaga gaya hidup sehat dan bersih. Itu upaya kecil yang memiliki dampak besar,” tandasnya. (*)

(rt/nda/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia