alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek

Glaukoma Bisa Sebabkan Kebutaan

18 Maret 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Retta wulansari

DIPERIKSA: Seorang dokter (kanan) sedang memeriksa kesehatan mata pasien.

DIPERIKSA: Seorang dokter (kanan) sedang memeriksa kesehatan mata pasien. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Salah satu penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan, yakni penyakit glaukoma. Penyakit itu patut diwaspadai karena tidak dapat dikenali hanya dengan ciri-ciri fisik saja, tapi harus melalui hasil screening dan pemeriksaan medis.

Dokter Spesialis Mata RSUD dr Soedomo, dr Sri Mariati mengatakan, ada dua tipikal pasien glaukoma, yaitu akut dan kronik. Pasien akut lebih mudah dikenali karena timbul gejala bengkak di sekitar mata, nyeri, pusing, hingga muntah. Namun ketika pasien dengan gejala kronik, sering kali pasien itu datang dengan kondisi yang cukup parah. Sebab, tidak ada gejalanya di tubuhnya. “Perbandingan pasien dengan gejala akut dan kronik sama-sama banyak, 50-50,” ujarnya.

Wanita berjilbab itu melanjutkan, tipikal penyakit glaukoma dapat ditengarai dari dua faktor: primer atau sekunder. Faktor primer dapat dipengaruhi karena ada unsur keturunan, semisal kalau ada orang tua (ortu) atau kakek/nenek yang terkena glaukoma, maka ada kemungkinan garis keturunannya berpotensi mengidap penyakit tersebut. 

Indikasinya, unsur genetik (gen, Red) membuat struktur mata hampir sama, maka jika salah satu ortu ada yang terkena glaukoma, seharusnya anak-anaknya harus segera memeriksakan kesehatan matanya. “Kalau orang glaukoma memiliki tekanan bola mata tinggi tapi cairan itu bisa keluar karena saluran pembuangannya sempit/menutup,” kata dia. 

Sedangkan ketika cairan tidak bisa keluar, akibatnya cairan menekan pada area-area mata, seperti saraf mata. Cairan yang terlalu lama menekan bisa mengakibatkan saraf mata rusak. Ketika itu terjadi, maka penderita biasanya sudah tidak bisa melihat (mengalami kebutaan, Red). “Tekanan bola mata tinggi menyerang nervus dua. Itu bagian dari fungsi penglihatan. Kalau pucat tidak bisa melihat, sedangkan kalau masih normal, warnanya masih merah-kemerahan,” ungkapnya. Pemicu kedua penyakit glaukoma, bisa disebabkan faktor sekunder. Seperti terbentur, trauma, gula darah, katarak yang tidak kunjung dioperasi, dan sebagainya. 

Di sisi lain, gejala yang muncul ketika menderita glaukoma bisa mengalami penglihatan lapang pandang. Yakni dapat diumpamakan seperti melihat di lingkaran kunci. Jadi penglihatan pada bagian atas-bawah/kanan kiri-kiri tidak bisa, tapi pandangan lurusnya masih berfungsi. “Nanti kalau sudah berat, dia kalau jalan nggrayang-nggrayang karena pandangannya hanya lurus yang terlihat,” ujarnya.

(rt/pur/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia