alexametrics
Kamis, 09 Apr 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Novy Aprilia Saputri, Pemilik Sanggar Seni Paras Sodo

18 Maret 2020, 20: 50: 59 WIB | editor : Retta wulansari

MENJIWAI: Novy Aprilia Saputri ketika menari dengan gaun merah muda.

MENJIWAI: Novy Aprilia Saputri ketika menari dengan gaun merah muda. (NOVY APRILIA SAPUTRI FOR RATU)

Berangkat dari pesan almarhumah gurunya dulu untuk terus melanjutkan kesenian tari, menginspirasi Novy Aprilia Saputri sampai bisa menjadi guru dan mentor tari di Bumi Menak Sopal. Kini, anak didiknya lebih dari 60 muda-mudi. 

RUANG dengan luas 6 x 12 meter itu adalah tempat Novy Aprilia Saputri melestarikan budaya kesenian tari untuk generasi penerus di Bumi Menak Sopal. Dalam seminggu, selama tiga kali, Putri -sapaan akrab Novy Aprilia Saputri- mengalokasikan waktu untuk mengajarkan kesenian tari. 

Totalitas Putri mengajarkan seni tari tak lepas dari sosok Sri Mulatsih (mantan guru SMAN 1 Trenggalek, Red) yang telah meninggal dunia beberapa waktu silam. Waktu itu, Putri menilai guru seni tarinya terus memperjuangkan kesenian tari di Trenggalek, meski dengan kondisi yang sakit keras. Sehingga dari perjuangan seorang guru itu dapat menggerakkan hati Putri untuk terus menekuni kesenian tari dan melestarikannya. “Put, tak titipkan semuanya, dijaga, dan terus kembangkan. Namun keesokan harinya, beliau wafat,” kata Putri ketika mengingat pesan terakhir gurunya itu.

Perjalanan karir menari Putri dapatkan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sampai 2012 lalu. Selama berkarir di bidang tari, Putri berhasil mendapat 20 prestasi. Prestasi terakhir yang dia raih pada 2018 lalu, ketika dirinya masuk menjadi 10 penyaji unggulan sebagai penata rias dan busana dalam rangka festival tari se-Jawa Timur (Jatim). Bermodal keyakinan, anak bungsu dari dua bersaudara itu memberanikan diri untuk membuka sanggar tari. “Awalnya dulu saya hanya iseng-iseng karena banyak event, tapi kemudian keterusan. Akhirnya memutuskan membuka sanggar tari,” ungkap warga pemilik sanggar seni Paras Sodo itu. 

Mengawali membuka sanggar itu membutuhkan kesabaran karena awalnya peserta sanggar tak lain adalah anak-anak tetangga rumah. Namun lambat laun, peserta didiknya mulai bertambah banyak sekitar tahun 2015. “Kalau ada event-event biasanya ambil dari sanggar saya,” kata dia.

Selama mendidik generasi penerus untuk bisa menari, Putri merangsang kecintaan anak pada menari, sebelum mengajarkan hingga ke tingkat selanjutnya. Semisal, dengan menanamkan esensi kesenian menari dan menambahkan gerakan kreasi agar anak bisa menikmatinya. “Menambah gerakan yang atraktif,” ungkap wanita kelahiran 1990 itu. 

Dia tidak memungkiri, kemajuan zaman membuat kesenian tari juga mengalami banyak perkembangan sehingga kini semakin banyak jenis tarian-tarian modern. Namun di tengah berkembanganya seni tari modern, semakin mengikis eksistensi tarian tradisional. Untuk itu, untuk melestarikan seni tari tradisional itu tetap perlu inovasi-inovasi atau kreasi, tapi tetap mempertimbangkan nilai seni tari tradisional. “Seperti menambah gerakan-gerakan centil atau memakai kostum yang glamour, tapi tidak mengurangi nilai tarian tradisional,” cetusnya.

Putri meneguhkan hati untuk melestarikan kesenian tari tradisional karena ada nilai yang tidak ditemui pada seni tari modern. Menurut dia, tari tradisional menyingkap nilai unggah-ungguh sebagai karakter asli dari tanah air. Dia pun berharap, kesenian tari tradisional tetap lestari. “Tari tradisional itu tidak hanya soal menari, tapi di dalamnya juga ada etika,” ungkapnya.

(rt/pur/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia