alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

Bisa Tampung 30 Pasien

20 Maret 2020, 14: 20: 59 WIB | editor : Retta wulansari

BUTUH WAKTU: Pelatihan pemakaian APD di Puskesmas Ngantru.

BUTUH WAKTU: Pelatihan pemakaian APD di Puskesmas Ngantru. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung - Hanya dua puskesmas yang dipilih untuk jadi puskesmas penyangga RSUD dr Iskak Tulungagung dalam mengantisipasi jika terjadi lonjakan jumlah pasien akibat virus korona atau Covid-19 ini. Pemilihan dua puskesmas itu karena mempertimbangkan lokasi yang jauh dari permukiman dan di kecamatan tersebut terdapat dua puskesmas

Namun untuk mempersiapkannya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung butuh waktu seminggu. Lantaran banyak yang harus disiapkan. Di antaranya sumber daya manusia (SDM) hingga alat pelindung diri (APD).

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Bambang Triono mengatakan, dua puskesmas yang dipilih itu, yakni Puskesmas Bangunjaya di Kecamatan Pakel dan Puskesmas Ngantru di Kecamatan Ngantru. Kedua puskesmas tersebut dipersiapkan sebagai bentuk antisipasi jika terjadi outbreak (penularan yang tidak terkendali) hingga membuat daya tampung RSUD dr Iskak Tulungagung overload. Mengingat RSUD dr Iskak menjadi andalan rujukan lima daerah sekitar.

"Pertimbangan pemilihan dua puskesmas itu, yakni jauh dari permukiman dan di kecamatan tersebut terdapat dua puskesmas. Sehingga jika satu puskesmas diminta untuk jadi penyangga, maka pasien umumnya bisa di-cover oleh puskesmas lain," jelasnya.

Namun untuk menyiapkannya, Bambang mengaku butuh waktu seminggu. Sebab, banyak kesiapan yang harus dilaksanakan. Di antaranya melakukan pelatihan sesuai standar SOP rumah sakit bagi petugas puskesmas yang ditunjuk, APD, dan lainnya. Selain itu, juga mempersiapkan pengalihan kunjungan pasien umum ke puskesmas lain di satu kecamatan.

"Saat ini masih proses penyiapan. Nantinya, jika tim satgas menilai kesiapan kedua puskesmas ini sudah dianggap mampu menjalankan sebagai puskesmas penyangga, maka secara otomatis kedua puskesmas ini tidak melayani pasien umum. Dan hanya melayani pasien dengan pengawasan (PDP)," jelasnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr Iskak Tulungagung Supriyanto menjelaskan, Tulungagung memiliki satu rumah sakit umum daerah yang juga menjadi rumah sakit andalan lima daerah sekitar. Itu karena RSUD dr Iskak merupakan rumah sakit rujukan regional. Lantas mengantisipasi adanya lonjakan pasien hingga membuat RSUD overload rujukan PDP Covid-19, pihaknya usul ke pemkab untuk menjadikan puskesmas rawat inap sebagai buffer.

"Nah, kami harus menjaga jangan sampai ada overload. Karena jika overload, risiko terburuk harus melakukan lockdown rumah sakit dan pegawai yang terpapar juga dirumahkan. Dan kondisi itu lebih susah," jelasnya.

Nantinya, kedua puskesmas penyangga tersebut hanya menerima untuk pasien dalam pengawasan (PDP). Dan dari koordinasinya dengan dinkes, dua puskesmas tersebut diketahui bisa menampung hingga 30 pasien.

"Jadi ada tiga kriteria, yaitu ODP (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan), dan Covid-19. Nah, untuk ODP cukup melakukan isolasi di rumah, sedang PDP nantinya dirawat di dua puskesmas yang ditunjuk itu. Jika kondisi PDP semakin parah, maka baru dirujuk ke ICU RSUD dr Iskak," terangnya.

Disinggung terkait tenaga kesehata, Supriyanto mengatakan, untuk petugas kesehatan akan di-mix antara petugas dari puskesmas dan RSUD dr Iskak. Tentunya, petugas dari puskesmas akan dilakukan pembekalan dan pelatihan dulu sesuai standar operasional di rumah sakit dalam menangani pasien suspect Covid-19. Dalam penanganan PDP tentu akan dilengkapi dengan APD.

"Terkait pembiayaan penanganan PDP, semuanya digratiskan karena sepenuhnya ditanggung pemerintah," tandasnya.

(rt/lai/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia