alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Melihat Ritual Thethek Melek di Dusun Wajak, Desa Wajak Kidul

20 Maret 2020, 18: 20: 59 WIB | editor : Retta wulansari

TOLAK COVID-19: Warga mengambil topeng thethek melek yang dibuatnya untuk dipasang di teras rumahnya.

TOLAK COVID-19: Warga mengambil topeng thethek melek yang dibuatnya untuk dipasang di teras rumahnya. (SITI NURUL LAILIL M/ RATU)

Merebaknya virus korona atau Covid-19 yang semakin meluas, membuat sebagian warga di RT 05/ RW 02, Dusun Wajak, Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, menggelar ritual tolak bala. Yakni dengan memasang topeng thethek melek di teras rumah masing-masing. Mereka meyakini tradisi orang zaman dulu itu bisa menghindarkan dari malapetaka, musibah, atau pagebluk (wabah) seperti Covid-19.

Sepintas, jika melihat rumah-rumah di permukiman warga RT05/RW02 Dusun Wajak, Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, kemarin (19/3), tak ada yang membedakan dengan hari-hari biasanya. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, terdapat pelepah kelapa (bongkok) yang digambari topeng wajah dan diletakkan di depan atau teras rumah.

Ada yang meletakkan hanya dengan disandarkan di dinding, ada yang digantung di tiang teras rumah. Dilihat dari dekat, topeng tersebut membentuk wajah yang seram lengkap dengan mata, hidung, mulut, dan telinga.

 Pemasangan topeng tersebut bukan tanpa sebab. Mendengar dari berbagai media, wabah virus korona atau Covid-19 yang semakin merebak, membuat warga setempat resah. Sehingga mereka memutuskan untuk membuat tolak bala yang dulu pernah dibuat oleh orang tuanya untuk usir atau tolak pagebluk (wabah) yang melanda masyarakat.

"Ini tradisi orang tua zaman dulu. Tolak bala berupa topeng thethek melek ini dipercaya bisa usir pagebluk," kata salah satu warga, Srini.

Wanita berusia 70 tahun itu menjelaskan, kondisi sekarang sudah pernah dialaminya. Saat masa kecilnya, terdapat pagebluk yang juga meresahkan masyarakat. Lantas, dia pun berembuk dengan keluarga dan berinisiatif membangkitkan tradisi orang tua dulu dengan membuat tolak bala tersebut.

"Orang tua dulu mengajari ini. Kami pun berharap benar dan mempasrahkan semuanya kepada Yang di Atas. Ini salah satu upaya kami," katanya

 Topeng yang dibuat oleh dia dan warga setempat tidak sembarangan. Dalam adatnya, topeng bukan terbuat dari kayu, melainkan pelepah kelapa atau bongkok. Selanjutnya, dalam pembuatannya, warga harus mengambil air wudu terlebih dahulu. Lalu mengecat bongkok dengan dasar putih dari kapur bangunan (gamping) dan menggambar membentuk wajah lengkap panca indra dengan abu arang. "Kalau batal, ya harus wudu lagi. Jadi tidak sembarangan buat ya," tegasnya.

Setelah topeng tersebut selesai dibuat, tokoh sesepuh lingkungan setempat membacakan doa-doa yang bertujuan untuk meminta keselamatan dari ancaman wabah Covid-19 ini. Dia mengatakan, tradisi orang tua Jawa yang dijalankan bukan hanya membuat tolak bala untuk pagebluk seperti ini. Ada tradisi lain, seperti mengusir bencana angin kencang (puting beliung) dengan memukul kentongan dan lainnya.

"Terakhir, topeng-topeng ini ditaruh di teras. Diharapkan wabah itu tidak masuk ke lingkungan atau bahkan rumah kami," jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Yasmini. Dia mengatakan, ada sekitar 11 rumah yang melindungi rumah atau lingkungan mereka dengan topeng thethek melek ini. Dia tak menampik jika memasang topeng tersebut di era seperti sekarang ini terbilang aneh dan seakan tak berguna. Tapi, apa yang dilakukan warga ini murni hanya menjalankan tradisi orang tua dulu. Bahkan, dia dan warga lain tak akan mengambil hati jika ada orang yang menganggap itu kuno, tidak masuk akal, bagian musyrik, atau lainnya.

"Ini murni jalankan tradisi. Tidak ada salahnya mencoba sembari menjaga tradisi yang ada. Sedangkan, kondisi sekarang tetap kami pasrahkan marang Gusti Allah," jelas wanita yang aktif menjadi anggota Lembaga Pemberdayaan Perempuan (LPM) Desa Wajak Kidul ini.

 Dia dan warga berharap wabah ini segera berhenti. Agar dia dan warga lain bisa beraktivitas seperti biasa tanpa takut terinfeksi virus yang sudah menelan ratusan korban jiwa ini. "Karena Covid-19 ini, kegiatan yasinan harus diberhentikan sementara sesuai instruksi untuk mencegah penyebaran. Kami tak berhenti berdoa kepada Allah agar wabah ini segera berhenti," tandasnya. 

(rt/lai/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia