alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Keteguhan Mbah Sumiati, Tekuni Kerajinan Gerabah sejak Era 90-an

20 Maret 2020, 20: 25: 59 WIB | editor : Retta wulansari

KOSENTRASI: Mbah Sumiati sedang membuat lambung kuali dengan batu dan tatap.

KOSENTRASI: Mbah Sumiati sedang membuat lambung kuali dengan batu dan tatap. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Sejak 1975 lalu, Sumiati, warga Desa Tamanan, Kecamatan Trenggalek, menekuni usaha sebagai pembuat gerabah. Dalam rentang waktu itu, membuatnya menyadari akan perubahan zaman. Dulu, desa itu dikenal sebagai sentra perajin gerabah, tapi kini hanya menyisakan segelintir saja yang masih mau melanjutkan usaha tersebut.

DI SEBUAH teras rumah nenek yang berusia 62 tahun (Sumiati, Red) terlihat beberapa kuali bertatapan langsung terik matahari. Kira-kira ada sekitar sembilan kuali yang masih berwarna hitam sedikit kecokelatan. Warnanya pun mengilap karena air yang masih merembes di sela-sela tanah liat itu.

Ukuran kuali-kuali itu disebut Sumiati dengan ukuran sedang karena kalau besar bisa sampai berukuran melebihi 30 sentimeter (cm). Dia mengaku tidak memproduksi gerabah dalam ukuran besar, mengingat kulit dan tulangnya semakin melekat. Sehingga tenaganya pun jadi lebih terbatas.

Sekitar pukul 10.00, satu per satu kuali yang dijemur di bawah terik matahari itu diambil untuk ditaruh di atas perbot (alat putar, Red). Dengan memakai alat berupa batu dan tatap, Sumiati mulai membuat bagian tengah kuali atau lambung. Tangan kirinya menggenggam batu, tangan itu berada di sisi dalam kuali. Tangan kanan memegang alat tatap. Tak..tak.. nada yang ditimbulkan ketika alat itu dipukulkan tidak terlalu kuat pada bagian luar kuali. 

Kaki kiri Sumiati menyentuh perbot, sesekali kakinya mengangguk-angguk hingga menggerakkan alat putar itu. Alat itu memutar dengan kecepatan yang konsisten. “Ini lagi membuat lambung, dibentuk agak melengkung,” ungkapnya. 

Kelihaian Sumiati membentuk gerabah itu dia pelajari sejak umurnya masih 17 tahun. Dahulu, Sumiati belajar membuat gerabah dengan ibunya. Tidak sampai berbulan-bulan, dirinya bisa membuat kuali hasilnya kepiawaiannya. Dia belajar membuat kuali untuk mencari pundi-pundi rupiah dengan menjual kuali-kuali tersebut. 

Ada dua ukuran gerabah yang diproduksi Sumiati, yaitu sedang dan kecil. Dia menjual kuali yang ukuran sedang itu dengan harga Rp 7.500, sedangkan ukuran kecil hanya Rp 3.500. Padahal, kuali itu kalau semakin kena panas, maka semakin kuat. Bahkan bisa sampai setahun lebih. Namun, kuat hanya dalam artian khusus karena kuali itu akan rusak ketika mengalami benturan keras. “Lama, Mas, dua tahun bisa,” kata dia. 

Dari masa ke masa, Sumiati merasakan ada perubahan tren yang drastis. Dulu Desa Tamanan sempat dikenal sebagai komoditas perajin gerabah karena nyaris orang-orang di desa itu memiliki pekerjaan serupa. Namun mendekati tahun milenium baru pada sekitar abad ke-21, generasi lama pembuat gerabah signifikan menurun karena usaha itu dinilai tak memberikan keuntungan yang cocok. “Dulu sampai delapan bakul (pemborong, Red) yang beli ke saya, tapi sekarang tinggal satu,” ujarnya.

Menurut nenek dengan enam cucu itu, usaha gerabah semakin punah karena orang tidak lagi membutuhkan kuali seperti dulu. Gerabah dulu adalah alat pokok untuk memasak makanan, kini sudah alat pemanas nasi, wajan dengan bahan lain, dan panci untuk merebus. Orang memasak pun kini tidak ada lagi yang menggunakan kompor tungku, tapi kompor gas. “Sekarang konsumennya terbatas. Bukan buat masak sayur, melainkan untuk membuat jamu,” ungkapnya. 

Di tengah usia yang semakin lanjut itu, Sumiati mengaku akan tetap meneruskan usaha dari warisan orang tuannya, biarpun ketiga anaknya tidak ada yang ikut meneruskan usahanya. Dia meneruskan usaha itu karena tidak memiliki keahlian lain untuk mendapatkan penghasilan. “Saya hanya bisa kerja gini, Mas, nggak keahlian lain,” pungkasnya. 

(rt/pur/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia