alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Sisi Lain Petugas Posko Covid-19 Tulungagung

Rela Kurangi Waktu dengan Keluarga hingga Bertugas saat Hamil

23 Maret 2020, 20: 04: 59 WIB | editor : Andrian Sunaryo

TETAP BEKERJA: Di sela-sela aktivitas petugas posko Covid-19, mereka bencengkerama untuk hilangkan penat.

TETAP BEKERJA: Di sela-sela aktivitas petugas posko Covid-19, mereka bencengkerama untuk hilangkan penat. (Hamam/RATU)

Demi panggilan jiwa, kami rela meninggalkan keluarga untuk melakukan ibadah sosial. Jangan anggap kami tidak takut Covid-19. Dari perasaan yang paling dalam, kami juga takut. Tapi ketakutan kami akan sirna ketika jiwa kami terpanggil demi keselamatan banyak orang. Itulah ungkapan dari beberapa petugas posko Covid-19 di Tulungagung.

MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kota, Radar Tulungagung

Siang itu terlihat beberapa orang sedang fokus di hadapan layar monitor. Mulut yang tertutup masker dan terlihat kerutan di dahi mereka. Nampak jelas mereka sedang berkonsentrasi dan terjaga. Ya, mereka adalah petugas posko Covid-19 Tulungagung. Setiap hari mereka harus menginput data dari satu orang ke orang lain, dari penelpon satu ke yang lain. Hal itu mereka lakoni setiap hari selama 24 jam.

Sejak tiga hari yang lalu, posko Covid-19 ini didirikan. Guna menampung keluh kesah masyarakat Tulungagung yang merasakan indikasi virus Covid-19. Agar lebih efektif dan efisien posko Covid-19 Tulungagung, membentuk empat tim yang terdiri delapan orang pada setiap timnya. Setiap tim harus bekerja selama 12 jam dan tak mengenal tanggal merah.

Tapi, dari semua itu, sekretaris sekaligus koordinator tim dua, Didik Eka mengungkapkan, tugas ini merupakan panggilan jiwa. Dia melakoni tugas ini dengan senang hati tanpa ada tekanan. Karena baginya, ini adalah panggilan jiwa. "Meskipun saya harus mengurangi waktu saya dengan keluarga saya,” ungkap pria berkacamata itu.

Ketakutan tertular Covid-19 tentu ada pada setiap orang, termasuk petugas posko. Kendati demikian, rasa ketakutan itu harus diminimalisasi karena harus memberi rasa aman bagi orang lain. “Di saat banyak orang ketakutan Covid-19, saya harus menjadi orang yang dapat menghilangkan ketakutan tersebut. Meskipun rasa takut itu juga menghampiri diri saya,” ungkap Didik.

Pria yang sudah 31 tahun menjadi ASN itu bersyukur bahwa keluarganya sangat mendukung pekerjaannya. Meskipun awalnya muncul kecemasan itu juga ada di keluarganya. "Tapi setelah saya memberikan pemahaman kepada keluarga, alhamdulillah keluarga sangat mendukung saya. Apalagi anak saya yang selalu mendukung saya,” jelasnya.

Terkadang ketika merasa suntuk, ada macam-macam momen yang membuat hilangnya suntuk tersebut. “Ada berbagai macam cara kami untuk menghilangkan suntuk. Seperti kami berebut makanan, cerita lucu tentang hoax Covid-19, sampai kami cerita hantu-hantu,” tuturnya sambil tertawa.

Sementara itu, semangat juga terlihat pada Candra Idawati selaku anggota tim dua, sekaligus membidangi data dan informasi di posko Covid-19. Candra yang sedang mengandung anak keduanya yang sudah berumur 35 minggu itu mengatakan, tugas ini adalah ibadah baginya. “Dalam tugas ini, saya meniatkan sebagai bentuk ibadah. Jadi saya merasa tenang dalam menjalankan tugas ini,” ungkapnya.

Candra mengaku tidak ada ketakutan dalam menjalankan tugas ini, yang memiliki risiko besar. Apalagi dia sedang mengandung. “Saya tahu risiko dalam tugas ini. Namun saya juga telah mempersiapkan diri dengan alat perlindungan diri (APD). Saya tidak takut dengan Covid-19 karena saya yakin Allah akan melindungi saya. Karena Covid-19 juga ciptaan Allah,” jelas perempuan dua anak itu.

Sama seperti Didik, keluarga Candra sangat mendukung sekali apa yang dilakukannya. “Alhamdulillah suami dan anak saya dapat memahami pekerjaan saya. Bahkan, setiap saya bekerja, suami selalu mengantar saya,” pungkasnya.

Perempuan berumur 35 tahun itu mengatakan, kondisinya tidak akan menghambat dalam menjalankan tugas di posko Covid-19. “Dengan kondisi saya yang hamil saat ini, saya akan berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankan tugas saya. Meskipun terkadang saya merasa lelah, bagi saya itulah namanya ibadah,” tandasnya. (*)

(rt/rak/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia