alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Eni Kusrini, Perajin Masker Kain asal Desa Batangsaren, Kauman

24 Maret 2020, 20: 25: 59 WIB | editor : Retta wulansari

BANJIR ORDERAN : Eni Kusrini ditemui sat menjahit pesanan masker, kemarin

BANJIR ORDERAN : Eni Kusrini ditemui sat menjahit pesanan masker, kemarin (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

Di tengah merebaknya virus Korona atau Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan, masker penutup hidung dan mulut jadi barang yang banyak dicari. Tentu kondisi ini membawa berkah bagi pelaku usaha perajin masker kain rumahan. Seperti yang dijalankan Eni Kusrini. Wanita asal Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman ini mengaku permintaan masker terus meningkat. Bahkan, orderan datang tak hanya dari Tulungagung, tapi juga beberapa kota besar lainnya.

Setiap hari, aktivitas Eni Kusrini tidak lepas dengan gunting dan mesin jahit. Itu karena permintaan masker kain terus meningkat. Seperti kemarin (23/3), Eni sibuk dengan mesin jahitnya. Dia sedang menyelesaikan pesanan masker kain.

Tampak cekatan, dia menjahit satu per satu kain yang sudah dipolanya. Kemudian, dipasangkan karet yang telah disiapkan, selanjutnya dijahit. Dalam pemasangan karet, Eni cukup hati-hati. Karena pemasangannya bagian kiri maupun kanan harus sejajar. Karena nantinya berfungsi sebagai pengait. Setelah jadi, masker tersebut di tata. Dan di-packing dengan isi 20 masker per pack-nya.

"Sudah hampir seminggu ini, pesanan masker terus datang. Dan mereka mintanya cepat," katanya.

Dengan tingginya permintaan, Eni mengaku harus menambah tenaga dan meningkatkan jumlah produksi. Menurut dia, sekarang produksinya bisa mencapai 2000 buah masker perharinya dengan enam tenaga penjahit yang tak lain merupakan tetangga dan warga sekitar. Padahal, hari biasa hanya 600 buah perhari dengan tiga tenaga penjahit. Lantas untuk mencukupi permintaan itu para penjahit harus lembur.

"Karena permintaan tinggi tentunya saya harus meningkatkan hasil untuk penjahit agar lebih semangat juga. Yakni, jika biasanya masker dihargai Rp 100 perbuah, sekarang jadi Rp 200 perbuah," jelasnya

Eni mengaku, usaha yang dijalankannya sejak Maret 2005 silam ini hanya memenuhi permintaan masker kain sebuah pabrik di Sidoarjo. Bahkan sempat, pada 2006 dia berusaha mengembangkan usahanya di Bangil, Pasuruan. Tapi tidak berjalan mulus. Itu karena di sana tenaga lambat. Sehingga, hanya bertahan enam bulan. Lantas, diapun memutuskan fokus usaha di Tulungagung.

"Sekarang permintaan masker datang dari sejumlah apotik dan instansi lain," terangnya.

Masker produksi Eni berbeda dengan masker lainnya. Masker yang diproduksinya memiliki dua model yakni masker kain memakai filter dan tanpa filter. Filter ini, tambah Eni untuk menyaring artikel udara.

"Yang pakai filter itu, di dalam masker kain terdapat filter berupa kapas pembalut. Ini sesuai standar pabrik yang saya pasok," jelasnya.

Sedangkan bahan kain yang digunakan, kata wanita berusia 40 tahun ini, berbahan kain kaos jenis SBX, BG atau polikot. Jelas Eni, masker buatannya  bisa di cuci. Namun, jika pemakaian pabrik dianjurkan hanya sekali pakai.

"Sekarang pesanan banyak. Bahkan ada permintaan dari teman di Jakarta, tetangga juga ada untuk dikirim saudaranya di luar kota sana," jelasnya.

Di tengah harga masker yang terus meroket, Eni mengaku mematok harga Rp 18 ribu per pack dengan isi 20 masker tanpa filter dan Rp 30 ribu per pack dengan isi 20 masker dengan filter. Harga itu diakuinya meningkat karena harga bahan masker juga turut meningkat.

"Alhamdulillah, untuk bahan tidak kesulitan carinya. Hanya saja, harganya terus meningkat," katanya.

Meningkatnya permintaan masker seperti ini, diakui Eni pernah dialaminya. Saat itu, ketika peristiwa gunung Kelud. Pihaknya juga cukup kewalahan menerima permintaan masker. Karena masker sendiri bisa melindungi dari debu.

"Dulu juga pernah. Tapi hanya empat hari saja, kemudian menurun. Tapi kalau covid-19 semakin hari semakin meningkat. Mengingat masker sangat penting," tuturnya. 

(rt/lai/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia