alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

Berbiaya Besar, Penyakit Jantung Dijamin Penuh JKN-KIS

26 Maret 2020, 10: 36: 24 WIB | editor : Retta wulansari

Berbiaya Besar, Penyakit Jantung Dijamin Penuh JKN-KIS

KOTA, Radar Tulungagung - Status penyakit jantung sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia tentu bukanlah hal yang asing. Seperti yang diungkapkan dr Evit Ruspiono, SpJP,  salah satu dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Kabupaten Tulungagung.

Menurut dia, penyebab terbesar kematian karena penyakit jantung koroner (PJK). Apalagi ini tidak ada penyebab, tetapi yang ada adalah faktor risiko. Pertama, genetik. Kalau orang tuanya ada riwayat PJK, anaknya bisa jadi kena. Kemudian lifestyle dan kurang olahraga, maka risikonya akan meningkat. Faktor lainnya seperti punya hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. “Untuk lifestyle, menurut saya ya olahraga itu nomor satu. Untuk menurunkan kemungkinan penyakit jantung, nomor dua baru makanan,” ujarnya.

Pria yang juga menjadi pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Tulungagung ini melanjutkan, adanya program JKN-KIS bagi penderita penyakit jantung tentu sangat membantu.  Sebab, penanganan kesehatan terhadap penyakit jantung berbiaya besar. “Dengan bertambahnya usia, pasti penyakit jantung datang. Karena salah satu faktor risikonya adalah usia lanjut. Tapi kalau kena di usia 50 tahun kan sayang,” tambahnya.

Pria ramah ini melanjutkan, PJK itu hanya bisa dicegah, bukan disembuhkan. Kalau terpaksa harus sakit akan memerlukan biaya sangat besar, berkisar puluhan sampai ratusan juta rupiah. Misalnya harus memasang ring atau bedah jantung bypass. Setelah itu harus minum obat-obatan selamanya. “Di era JKN, karena dana itu di-cover penuh pasti sangat menguntungkan untuk peserta. Masyarakat akan tenang dalam bekerja tanpa memikirkan lagi biaya yang besar saat terkena penyakit tersebut,” terangnya.

Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta JKN-KIS agar mendaftar sebagai antisipasi terhadap keadaan yang tidak diinginkan terjadi. Karena tidak tahu kapan akan sakit. “JKN itu asuransi sebagai bentuk antisipasi terhadap keadaan yang tidak diinginkan terjadi. Mobil saja diasuransikan, apalagi badan, mestinya akan lebih penting. Semua tidak mengetahui kapan jatuh sakit. Untuk itu, harus banyak penyuluhan dan edukasi berkali-kali untuk masyarakat yang belum ter-cover asuransi,” paparnya.

Evit pun meminta pemerintah setempat harus turun ke bawah untuk menyadarkan itu sampai jangka panjang. “Itu tugas pemerintah juga karena diperuntukkan masyarakat,” tegasnya.

Terhadap program JKN-KIS, dia secara positif mendukung dan berharap program ini terus berjalan dengan terus memperbaiki kelemahan yang ada agar nantinya bisa menjadi semakin sempurna. Apalagi baru lima tahun berjalan, kalaupun ada kelemahan itu wajar dan  harus diperbaiki. Makanya ada kendali mutu kendali biaya (KMKB). KMKB itu suatu siklus untuk perbaikan. Jadi, suatu program jangan mengharapkan semuanya selesai sempurna.  “Ya, semangat saja untuk memperbaiki, step by step tapi terarah. Teruskan saja, JKN ini program yang sangat baik, tetapi butuh kesabaran untuk memulai dan me-monev-nya. Memang membutuhkan jangka panjang untuk meraih sempurna. Lama-lama akan sempurna, harus positive thinking,” ujarnya.

Baginya, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Karena penyakit jantung bisa dicegah dengan gaya hidup sehat. Di antaranya olahraga sejak usia muda, tidak merokok, serta makan makanan yang sehat dan berimbang. Selain itu, PJK bisa menyerang di usia 40 sampai 90 tahun. “Semakin tinggi usia, faktor risiko juga tinggi. Maka kemungkinan terkena penyakit jantung semakin tinggi,” jelasnya.

Bila didapatkan kelainan seperti hipertensi, diabetes, maupun  kolesterol tinggi, sebaiknya dikendalikan sesuai hasil konsultasi dari dokter keluarga. Bila dokter keluarga mencurigai ada masalah, akan dikonsultasikan ke spesialis jantung dan akan dilakukan exercise test (treadmill). “Bagi saya, nomor satu itu exercise. Kalau masih muda bisa aerobik, lari, atau bersepeda. Kalau usia 50 tahun ke atas bisa jalan cepat, sehari 30 menit cukup. Karena kalau orang tua biasanya lututnya kurang baik,” tandasnya.

(rt/rak/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia