alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

Pasien Meningkat, Stok APD Menipis

RSUD dr Iskak Hanya Bertahan 10 Hari

26 Maret 2020, 17: 15: 59 WIB | editor : Retta wulansari

ALTERNATIF TERAKHIR: Ketua IDI Cabang Tulungagung Abu Marda menunjukkan contoh APD modifikasi.

ALTERNATIF TERAKHIR: Ketua IDI Cabang Tulungagung Abu Marda menunjukkan contoh APD modifikasi. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

KEDUNGWARU, Radar Tulungagung - Penyebaran virus korona atau Covid-19 semakin mengkhawatirkan. Bahkan setiap harinya, jumlah pasien dengan gejala Covid-19 terus ditemukan. Namun sayang, kondisi itu tidak diimbangi stok alat pelindung diri (APD) bagi tim medis yang menangani.

Seperti di RSUD dr Iskak Tulungagung, jumlah persediaan APD menipis. Bahkan, diprediksi hanya bertahan 10 hari ke depan. Itu karena kebutuhan RSUD cukup tinggi. Termasuk untuk menangani pasien suspect Covid-19.

Hal ini diungkapkan Direktur RSUD dr Iskak Tulungagung, Supriyanto melalui Kasi Informasi dan Pemasaran RSUD dr Iskak Tulungagung Moch. Rifai kemarin.

"Dalam kondisi ini, banyak sekali keterbatasan yang dialami rumah sakit, termasuk RSUD dr Iskak terkait ketersediaan APD. Bahkan, stok yang kami miliki terbilang menipis, hanya bertahan 10 hari," jelasnya

Padahal, kebutuhan APD cukup tinggi. Baik itu APD berupa masker, baju hazmat, kacamata pelindung, atau lainnya. Terlebih, RSUD dr Iskak menjadi salah satu rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani Covid-19. Bahkan jika dihitung, penanganan satu pasien dengan status pasien suspect Covid-19 yang dirawat di ruang isolasi, pihaknya membutuhkan kurang lebih 12 APD untuk dua sif.

"Satu sifnya ada enam dan APD itu hanya sekali pakai. Jika sudah keluar dari ruang isolasi dan tidak kontak lagi dengan pasien, maka APD itu harus dibuang," tuturnya.

Lantas untuk memenuhi kebutuhan, bagian manajemen sudah berupaya mencari dengan membeli dari sejumlah penyedia APD (pabrik, Red) atau lainnya. Namun jika hingga lima hari ke depan tidak kunjung mendapatkan karena stok di penyedia atau pabrikan kosong, pihaknya akan membuat APD alternatif, seperti masker kain.

"Ya itu opsi akhir ya. Tapi selama ini, kami masih mendapat bantuan dari sejumlah lembaga, termasuk pemerintah provinsi, Kementerian Kesehatan, lembaga masyarakat, bahkan selebgram. Namun, jumlahnya juga masih terbatas," tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Tulungagung Abu Mardah. Dia menjelaskan, tim satgas Tulungagung dan faskes pemerintah maupun swasta sudah berupaya mencari tambahan APD, tapi sulit didapat. Jikapun ada, harganya melambung tinggi. Itu karena produksi APD dari pabrik terbatas, sedangkan permintaan tinggi dari seluruh faskes di Indonesia dalam menangani para pasien suspect maupun pasien positif Covid-19.

"Sejumlah RS Swasta Tulungagung bahkan sudah kosong. Jika ditotal ketersediannya, termasuk stok milik RSUD dr Iskak yang memiliki jumlah lebih banyak dari RS lainnya, hanya bertahan satu bulan," jelasnya

Stok APD yang terbatas yang dimaksud tak hanya baju hazmat, tapi juga masker, kacamata pelindung, sepatu pengaman, masker, dan lainnya. Lantas jika memang kosong, pihaknya punya alternatif terakhir dengan memodifikasi APD. Tentunya sesuai dengan standar APD pada umumnya. Misalnya, dengan jas hujan plastik yang dimodifikasi sebagai baju hazmat, kacamata pelindung yang terbuat dari mika, dan lainnya.

"Modifikasi ini sudah dibentuk sesuai standar baju hazmat pada umumnya. Pemakaiannya juga sekali pakai," jelasnya

Selain itu, pihaknya melalui IDI Cabang Tulungagung juga melakukan penggalangan donasi APD yang disebar di medsos maupun WhatsApp. Penggalangan donasi APD ini, kata Abu, bisa berupa bentuk barang APD maupun dana untuk pengadaan APD yang diketahui kini memiliki harga yang tinggi. Seperti masker harganya tembus  Rp 150 ribu hingga 250 ribu per boks. Begitu juga baju hazmat, mencapai Rp 160 ribu per suit.

"Sudah ada yang masuk. Seperti masker dan lainnya. Namun untuk pembagiannya, kami petakan dulu. Faskes mana yang membutuhkan. Nanti pembagiannya akan dilakukan secara transparan. Di-posting di medsos kami," jelasnya.

Penggalangan donasi APD ini, kata Abu, tak hanya IDI Tulungagung saja yang menggelar. Hampir semua daerah. Sebab, kondisi stok APD di semua daerah juga mengalami keterbatasan. Padahal, APD sangat penting dan vital bagi tim medis yang menangani virus Covid-19. Mengingat, virus Covid-19 bisa ditularkan dengan cepat melalui droplet yang masuk ke tubuh melalui hidung, mulut, atau mata.

"Ini untuk safety tim medis kita yang telah berjuang. Jangan sampai mereka ikut tertular," tegasnya

Disinggung apakah langkah IDI Cabang Tulungagung ini bersinggungan dengan satgas Covid-19 yang dibentuk pemkab, Abu mengatakan tidak.  Sebab, beberapa anggota IDI ini juga tergabung dalam satgas. Maka, sebelum penggalangan donasi ini di-SK-kan, IDI klaim sudah berkomunikasi dengan satgas.

“Kami pun siap menerjunkan relawan untuk membantu pemerintah dalam menangani pasien,” tandasnya.

(rt/lai/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia