alexametrics
Kamis, 09 Apr 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Mengenal Syafira Putri Ramadhani, Penggiat Sastra Asal Trenggalek

26 Maret 2020, 20: 20: 59 WIB | editor : Retta wulansari

BANGGA: Syafira Putri Ramadhani yang getol inisiasi jiwa sastra generasi milenial melalui puisi.

BANGGA: Syafira Putri Ramadhani yang getol inisiasi jiwa sastra generasi milenial melalui puisi. (SYAFIRA PUTRI RAMADHANI FOR RATU)

Sebagai pemudi yang mengantongi banyak prestasi dalam bidang sastra, ternyata ada banyak hal yang melatarbelakangi Syafira Putri Ramadhani menekuni bidang tersebut. Dia berharap bisa menginisiasi para generasi milenial untuk menumbuhkan kecintaan pada karya sastra. Agar karya itu tidak hanya diunggah di media sosial (medsos), tapi juga dilestarikan dalam bentuk buku. 

SEBAGIAN orang memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan diri. Seperti yang dilakukan Syafira Putri Ramadhani. Wanita kelahiran 1999 ini punya kebiasaan menulis di buku diari. Buku harian yang berukuran mungil itu dia gores menggunakan tinta mangsi. Agaknya, ketertarikan Syafira merekam peristiwa bukan dengan karya sastra bentuk cerpen atau novel, tapi melalui puisi. 

Bagi Syafira, puisi adalah kata yang penuh makna. Melalui satu diksi secara ringkas kata itu, dapat merekam serangkaian peristiwa. Pemilihan diksi-diksi dia dapatkan, dari sosok WS Rendra yang sedikit-banyak menginspirasinya. Meski begitu, Syafira memiliki ciri khas sendiri dalam melukiskan suasana batinnya. “Kita berpuisi itu bebas mengutarakan hal yang ingin diutarakan, tapi tetap dalam kaedah berbahasa Indonesia yang benar,” ungkapnya.  

Dia mengutarakan kegelisahannya ketika mengamati fenomena generasi milenial yang sebenarnya memiliki potensi untuk karya sastra. Namun, potensi-potensi itu kurang berkembang ketika tulisan-tulisan mereka hanya berakhir untuk konsumsi pribadi di medsos. “Apalah arti membuat puisi, tapi kita tidak bertanggung jawab atas tulisan kita,” ungkap anak pertama dari dua bersaudara ini. 

Syafira mengilustrasikan, kebebasan berekspresi melewati puisi bisa menyampaikan pesan lebih terarah. Sebab, tulisan itu dibuat melalui serangkaian konstruksi pemikiran. Semisal ketika menyinggung penyelenggaraan pemerintah daerah yang kurang pro terhadap kesejahteraan rakyat. “Puisi itu lebih efektif dibanding mengikuti demonstrasi yang anarkis,” ujarnya. 

Sampai kini, anak dari Markani dan Wiwik Andayani itu sudah membuat sebanyak 20 karya sastra jenis puisi. Beberapa puisi-puisinya pun berhasil menembus juara I pada ajang cipta puisi se-Kabupaten Trenggalek, termasuk juara I lomba geguritan putri tingkat SMA/SMK/MA pada HUT Ke-71 Proklamasi Kemerdekaan RI pada 2016 lalu. “Saya tidak terpaku dengan satu gaya bahasa. Kadang persuasif, kadang pakai hiperbola, dan sebagainya,” kata dia. 

Kecintaan pada puisi itu amat terasa ketika Syafira membacakan puisi dengan tajuk alam dan budaya Indonesia jati diriku. Suara lantangnya bisa menggerakkan hati pendengar atas sikap manusia terhadap alam dan budaya adiluhung itu. “Ada 20 baris kalimat dalam puisi itu,” ungkap mahasiswi jurusan psikologi Universitas Negeri Malang ini. 

Kebanyakan karya puisi yang Syafira buat bertemakan alam, terutama di Bumi Menak Sopal karena dia ingin menyampaikan pesona alam Trenggalek. “Kebetulan saya gemar jalan-jalan. Jadi kalau mood, langsung saya tulis,” pungkasnya. 

(rt/pur/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia