alexametrics
Minggu, 31 May 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Para Pecinta Alam Trenggalek Membuat Masker Gratis

06 April 2020, 20: 05: 59 WIB | editor : Retta wulansari

TIDAK UNTUK DIJUAL: Anggota Koplag bersama masyarakat lainnya ketika menjahit kain untuk masker yang nanti dibagikan secara gratis.

TIDAK UNTUK DIJUAL: Anggota Koplag bersama masyarakat lainnya ketika menjahit kain untuk masker yang nanti dibagikan secara gratis. (KOPLAG FOR RADAR TRENGGALEK)

Kini harga masker sudah dibilang tidak wajar. Sebab, naiknya sekitar empat sampai lima kali lipat dari harga normal. Hal inilah yang mengusik kepedulian masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Pencinta Alam Trenggalek (Koplag) Adventure. Pasalnya, mereka bahu-membahu membuat masker dari kain yang nantinya dibagikan gratis ke masyarakat.

ZAKI JAZAI, Gandusari, Radar Trenggalek

Berbisnis dengan berdagang memang sah-sah saja dilakukan tiap masyarakat. Namun sebaiknya jangan memanfaatkan situasi pandemi korona untuk menjual peralatan yang kini dibutuhkan masyarakat guna mencegah penularan. Seperti masker dengan harga yang melambung tinggi. Sebab, hal tersebut akan membuat setiap orang kuwalahan untuk membeli masker. Hal itulah yang membuat para pemuda Koplag Adventure bahu-membahu bukan untuk mendaki, melainkan membuat masker yang nantinya dibagikan secara gratis.

Aktivitas sosial ini terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek berkunjung di salah satu rumah yang berada di wilayah Desa Krandekan, Kecamatan Gandusari, kemarin (5/4). Ada sekitar lima orang berada di lokasi tersebut dengan melakukan kegiatan seperti layaknya orang menjahit. Saat itu ada yang sibuk memotong bahan, menyetrika kain, hingga membuat masker. Namun beberapa di antaranya ada yang hanya membawa bahan untuk dijadikan masker.

Itu dilakukan mengingat dengan keterbatasan mesin jahit yang berada di tempat tersebut serta imbauan dari pemerintah tentang social distancing, membuat beberapa orang memilih menjahit bahan di lokasi masing-masing. Bukan hanya itu, mereka juga akan langsung membagikan masker secara gratis ke masyarakat umum yang memerlukan. "Situasi seperti ini serba sulit. Makanya karena yang membutuhkan masker banyak dan tidak boleh berkerumun, silakan jika ingin membawa bahan saja dan menjahit sendiri. Syaratnya hanya satu, jika sudah jadi, tidak boleh dijual," ungkap pemilik rumah yang sekaligus koordinator Koplag, Adri Suko Susilo.

Kegiatan seperti itu telah dilakukan komunitas ini sekitar awal bulan lalu ketika wabah Covid-19 mulai masuk Indonesia. Saat itu masker mulai langka. Jikapun ada, harganya sungguh melambung. Dengan keadaan seperti itu, banyak masyarakat yang menjual masker kain, tapi harganya tetal saja tinggi. "Jika dikakulasi dari bahan dan proses pembuatan, satu lembar masker kain dijual seharga Rp 2.500 sudah untung banyak. Namun saat ini harganya di kisaran Rp 10 ribu. Makanya saat itu kami merasa miris akan harga yang begitu tinggi hingga teman-teman sepakat untuk membuat masker sendiri yang nantinya dibagikan," jlentreh-nya.

Dari situlah, dirinya dan beberapa teman dengan bekal uang pribadi mencoba membeli bahan yang digunakan. Juga tidak ketinggalan anggota lain melakukan donasi untuk dibelikan bahan guna membuat masker. Sedangkan untuk bahan yang dipakai, disesuaikan hingga mirip dengan masker bedah yang biasa dipakai petugas medis, yaitu kain spons dan kapas, juga tidak ketinggalan karet untuk memakaikan masker. Setelah bahan didapat, barulah dilakukan proses penjahitan.

Untuk proses, bermula pemotongan kedua bahan tersebut sesuai ukuran dan menyetrika kedua kain tersebut secara berhimpitan. Tujuannya, agar keduanya saling merekat dan mempermudah dalam hal penjahitan. Dari situlah, kedua bahan tersebut dibentuk dan dijahit hingga menyerupai masker bedah. "Bahan sama, tapi hanya kurang steril karena masker bedah buatan pabrik yang langsung bisa diseterilkan. Makanya sebelum dibagikan, atas saran teman yang juga anggota medis, masker itu dicuci dengan air hangat bercampur sedikit detergen untuk diseterilkan," jelas pria yang juga pengusaha konveksi ini.

Tak ayal, kegiatan tersebut memupuk kepedulian masyarakat lain untuk membantu dalam proses penjahitan dan memberikan donasi. Namun, dalam hal ini komunitas tidak bisa menerima donasi dalam bentuk uang, tapi langsung berbentuk barang. Makanya masyarakat yang ingin berdonasi dikumpulkan agar bersama-sama membeli bahan untuk membuat masker. Tentu saja kini bahan tersebut semakin sulit dan harganya berubah. "Kegiatan ini akan terus kami lakukan hingga harga masker kembali normal dan pandemi korona berakhir," imbuhnya. 

(rt/dre/zak/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia