alexametrics
Minggu, 31 May 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Buat Thethek Melek,

Warga Desa/Kecamatan Campurdarat, Tangguk Rezeki di Tengah Korona

Beromzet Jutaan, Sempat Dicemooh Orang

07 April 2020, 18: 50: 59 WIB | editor : Retta wulansari

RAUP UNTUNG: Beberapa thethek melek hasil kreasi Sutrisno sekeluarga saat dijemur di bawah terik matahari, kemarin (6/4)

RAUP UNTUNG: Beberapa thethek melek hasil kreasi Sutrisno sekeluarga saat dijemur di bawah terik matahari, kemarin (6/4) (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Situasi tidak menentu akibat merebaknya wabah korona atau Covid-19 tidak menyurutkan kreativitas Sutrisno sekeluarga. Warga Desa/Kecamatan Campurdarat ini mampu menangguk rupiah dari pembuatan thethek melek. Dimana benda yang terbuat dari pelepah kelapa ini konon bisa dibuat untuk tolak balak.

DHARAKA R. PERDANA, Campurdarat, Radar Tulungagung

Merebaknya Covid-19 membuat banyak orang berpikir dua kali untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Kendati demikian, ada segelintir orang yang justru menangguk rezeki dari merebaknya pandemi yang menyerang banyak negara di dunia ini.

Contohnya apa yang dilakukan Sutrisno dan keluarganya. Melihat banyaknya masyarakat yang berminat pada thethek melek, warga Desa/Kecamatan Campurdarat ini melihat adanya peluang untuk mendapatkan rezeki tambahan. Apalagi dia tahu persis, kultur budaya di masyarakat sekitar masih memegang teguh peninggalan leluhur, khususnya dalam menghadapi pageblug. "Banyak yang mencari benda ini, sehingga kami memutuskan untuk membuatnya," katanya saat Koran ini bertandang ke rumahnya, kemarin (6/4).

Menurut pria 47 tahun ini, sebagian masyarakat memang masih mempercayai, memasang thethek melek bisa dijadikan penghalau dari segala marabahaya. Khususnya merebaknya virus korona. Sehingga banyak warga setempat yang memasangnya di depan rumah. "Lagipula untuk pembuatannya terhitung mudah. Yakni dari pelepah kelapa  atau bongkok dan cat," imbuhnya.

Trisno-sapaan akrabnya -melanjutkan, meskipun bahan baku pelepah kelapa merupakan benda yang mudah ditemukan, namun saat ini cenderung sulit dicari. Usut punya usut, banyak orang yang memanfaatkanya untuk pembuatan boneka menyeramkan itu. Bahkan dia sampai harus mendatangkan dari wilayah Watulimo, Kabupaten Trenggalek yang secara berkala diantar salah satu kenalannya. "Harganya pun cenderung naik, padahal sebelumnya hampir tidak ada nilainya. Karena hanya dimanfaatkan untuk kayu bakar," tuturnya.

Hal senada diungkapkan Vemas Fahriyansah, putra bungsu Sutrisno. Menurut dia, saat ini banyak orang yang menjual thethek melek di pasar dengan harga Rp 15 ribu per biji. Karena yang dijual di pasar warnanya biasa saja, dia pun berinisiatif untuk membuat yang berwarna-warni dan berbagai motif menarik. "Paling banyak dibuat menyeramkan. Tetapi ada juga yang digambari dengan tokoh kartun biar anak-anak pada suka," ungkapnya sambil tertawa.

Pemuda berkulit sawo matang ini mengakui, merebaknya virus korona memang mendatangkan berkah bagi keluarganya. Setiap hari selalu ada pesanan pembuatan thethek melek yang menghampiri. Padahal, awalnya dia hanya iseng memosting di media sosial, ternyata animo masyarakat cukup positif menanggapi hasil karyanya itu. "Banyak pemuda sekitar sini yang ikut membuat. Kebetulan rumah saya berdekatan dengan warung kopi, sehingga mereka yang datang ngopi justru banyak yang ingin turut serta membuat,," ujarnya.

Vemas-sapaan akrabnya-, tidak memungkiri, ada kejadian lucu yang dialaminya. Pernah dia dicemooh orang yang menganggapnya kurang kerjaan menjual pelepah kelapa yang dicat. Selain itu, pernah juga melerai orang yang berebut ingin membeli thethek melek buatannya itu. Hal ini menandakan jika karyanya sudah diakui banyak orang dan cukup dicari. "Saya sering tertawa sendiri. Namun,  bagi saya, saat musim pandemi seperti ini bukan alasan untuk hanya berdiam diri. Lagipula ini juga menjadi bagian untuk melestarikan tradisi peninggalan leluhur," tuturnya sambil terus menggoreskan kuas.

Disinggung seberapa besar keuntungan yang didapatnya, pemuda 17 tahun ini mengaku tidak menghitung. Namun dari perhitungan kasar, satu pikap thethek melek bisa menghasilkan omzet hingga Rp 1 juta. Tinggal dikurangi biaya produksi untuk pembelian cat dan bongkok. "Sampai hari ini (kemarin) masih banyak yang menanyakan untuk membeli. Saya pun hanya bisa membuat semampunya dengan dibantu teman-teman. Yang terpenting semua mau melukis apapun hasilnya," katanya.

Meskipun kelihatannya sepele, dari setiap goresan kuas mereka juga mengandung doa. Setiap cat yang menempel di bongkok bisa diibaratkan upaya untuk menekan pandemi korona agar bisa segera sirna. 

(rt/rak/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia