alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Pendapatan Ojol Anjlok 50 Persen

07 April 2020, 13: 45: 59 WIB | editor : Retta wulansari

ILUSTRASI

ILUSTRASI (IST)

KOTA, Radar Tulungagung – Pandemi coronavirus disease (Covid-19) berdampak pada penurunan orderan ojek online (ojol). Sejak adanya kebijakan pemerintah tentang pembatasan aktivitas dan penerapan physical distancing, pendapatan para ojol di Tulungagung anjlok drastis. Tidak hanya pendapatannya yang anjlok, mereka juga khawatir terhadap keselamatan sendiri.

Sejak diberlakukannya kebijakan Pemkab Tulungagung tentang antisipasi penyebaran Covid-19, banyak masyarakat merasakan dampaknya, khususnya pada masalah perekonomian. Kali ini dampak itu dirasakan para driver ojol Tulungagung,

Salah satunya Devi Tyas Saputri. Perempuan itu mengatakan, adanya wabah Covid-19 ini sangat berdampak sekali pada pendapatannya. Bahkan pendapatannya menurun hingga 50 persen. “Sejak adanya Covid-19, orderan jadi sangat sepi sekali. Bagaimana tidak, dengan diberlakukannya physical distancing, tidak mungkin ada orang yang mau order. Apalagi saya menggunakan motor. Sedangkan untuk orderan makanan kami juga kesulitan. Karena banyak warung atau rumah makan yang tutup. Jadi mau gimana lagi,” ungkap perempuan berkerudung itu.

Tyas menjelaskan, kini bagi driver yang masih bekerja harus benar-benar safety di perjalanan. Walaupun terkadang dia juga takut. "Tapi kalau saya gak kerja, mau dapat uang dari mana. Maka saya memilih untuk bekerja dengan mempersiapkan peralatan keselamatan, seperti masker, sarung tangan, dan hand sanitizer. Itu pun kami siapkan sendiri. Tidak ada fasilitas dari perusahaan dalam wabah Covid-19 ini,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Ja'far, pengemudi ojol lain. Dia mengaku hanya mengandalkan orderan makanan saja dibanding mencari penumpang. “Pekerjaan saya hanya satu, yakni driver ojol. Saya bekerja itu mulai 08.00 hingga 22.00, itu pun saya hanya menerima orderan makanan saja. Dan jumlahnya tidak banyak, sekitar setengah orderan dari hari-hari biasa,” ujar pria berambut gelombang itu.

Pria lulusan sarjana itu hanya bisa bersyukur masih bisa mendapatkan orderan dalam kondisi yang seperti ini. Dia pun mengakui kebijakan pemerintah itu sudah baik. Tapi dia berharap pemerintah juga bisa bijak melihat kondisi seperti ini. "Ya, sementara ini saya hanya bisa bersabar dan bersyukur saja. Mau gimana lagi, yang penting saya sudah usaha. Rezeki kan sudah ada yang ngatur,” ungkapnya sambil tersenyum.

Sedikit perbedaan dilakukan Muhammad Syarif yang juga bekerja menjadi driver ojol. Karena kondisi yang tidak pasti, dia lebih memilih mencari penghasilan lain. “Sementara ini saya tidak menerima orderan. Pertama, itu risiko. Kedua, orderan pun sudah sepi. Jadi saya harus memutar otak agar perekonomian tetap tercukupi. Sekarang saya hanya bisa berjualan online saja. Meski tidak banyak, setidaknya ada pemasukan untuk menghidupi keluarga saya,” pungkasnya. 

(rt/rak/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia