alexametrics
Rabu, 08 Jul 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Aloysius Yoseph Ismono, Perajin Masker Wajah untuk Tenaga Medis

09 April 2020, 20: 10: 59 WIB | editor : Retta wulansari

MANFAATKAN BAHAN: Aloysius Yoseph Ismono, dibantu sang istri, menyelesaikan pesanan masker wajah  di kediamannya kemarin (8/4).

MANFAATKAN BAHAN: Aloysius Yoseph Ismono, dibantu sang istri, menyelesaikan pesanan masker wajah di kediamannya kemarin (8/4). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Kelangkaan alat pelindung diri (APD) di tengah pandemi coronavirus disease (Covid-19) juga terjadi di Tulungagung. Kondisi ini menggerakkan Aloysius Yoseph Ismono untuk membuat masker wajah bagi petugas medis di rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Kedungwaru, Radar Tulungagung

Gulungan mika dan isolasi hitam terjajar di ruang depan kediaman Aloysius Yoseph Ismono di Perumahan Permata Kota Tiga Blok G Nomor 11, Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru. Tak jauh dari sana, seorang pria berkacamata tampak fokus mengukur lembaran mika menggunakan penggaris panjang. “Ini untuk membantu agar hasil potongannya lebih presisi dan pas,” ujarnya sembari membetulkan kacamatanya.

Pria yang akrab disapa Ismono ini adalah seorang perajin (crafter) berbagai macam barang bekas. Kini di tengah pandemi Covid-19) atau korona, dia pun menghabiskan waktunya untuk membuat masker wajah, khusus untuk para tenaga medis yang ada di rumah sakit, puskesmas, maupun layanan kesehatan lainnya. Berbahan dasar mika, spons helm, dan isolasi hitam, kini masker wajah buatannya diburu berbagai layanan kesehatan di Tulungagung dan Surabaya.

Dibantu sang istri, Scolastika Tri Restu Wilujeng, dalam sehari mampu memproduksi sekitar 250 lembar masker. Sehingga dalam kurun waktu satu minggu, dia mampu menjual 1.750 lembar masker. “Rata-rata dalam sehari ada 300-400 pesanan masker. Ini karena masker wajah memang menjadi barang sangat penting bagi tenaga medis untuk saat ini,” jelasnya.

Bapak dua anak ini mengatakan, produksi masker wajah baru dimulainya sekitar awal April lalu. Ini bermula salah seorang teman yang berprofesi sebagai dokter mengeluh kekurangan alat pelindung diri (APD). Salah satunya masker wajah. Lantas sang dokter pun memintanya untuk mencoba membuat masker wajah dengan memberinya contoh. “Mulanya seorang teman cerita ke saya kalau APD sekarang langka. Saya diminta untuk mencoba membuat masker wajah, dia pun membawa contoh ke saya untuk saya tiru,” terangnya.

Karena masker wajah memiliki standar tersendiri secara medis, Ismono pun mencoba membuat dalam jumlah terbatas untuk ditunjukkan kepada rekan-rekan dokter terlebih dahulu. “Ternyata masker buatan saya sudah sesuai. Di situ baru banyak yang pesan dari beberapa RS di Tulungagung dan Surabaya,” imbuhnya.

Pria 56 tahun ini mengaku, meski secara teknis tidak menemukan kendala, akhir-akhir ini mulai kesulitan menemukan bahan baku. Sebab, persediaan di toko juga terbatas. Sementara pengiriman dari luar kota mulai dibatasi. “Di satu sisi, ada beberapa perajin yang mungkin juga mencoba membuat sehingga bahan baku mulai sulit. Paling sulit itu mika dan isolasinya,”ungkapnya.

Untuk menjaga sterilisasi produk, sebelum di-packing, masker-masker ini disterilkan terlebih dahulu menggunakan cairan alkohol. Dia berharap upaya kecilnya ini dapat membantu para tenaga medis dalam menghadapi wabah Covid-19. 

(rt/nda/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia