alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Omzet Pedagang Jajan Terjun Bebas

06 Mei 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Retta wulansari

SEPI KONSUMEN: Pemilik toko jajanan khas Trenggalek yang sedang merapikan dagangannya kemarin (5/5).

SEPI KONSUMEN: Pemilik toko jajanan khas Trenggalek yang sedang merapikan dagangannya kemarin (5/5). (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Omzet sebagian pedagang jajanan khas Trenggalek di Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan, turun drastis. Tak tanggung-tanggung, penurunan omzet hingga menyentuh angka 80 persen.

Penjual jajanan, Sri Muawadah mengaku, bila dibandingkan dengan penjualan saat bulan puasa di tahun lalu, omzet penjualan kalah jauh. Menurut dia, penjualan jajanan khas Trenggalek pada Ramadan kali ini paling merosot. Bahkan penjualan tak lebih dari 5 kilogram (kg)/hari. “Turun sekali,” ungkap Sri.

Wanita berjilbab itu melanjutkan, penghasilan ketika lagi ramai-ramainya, seperti hari Sabtu, Minggu, atau bulan-bulan Ramadan (tahun lalu, Red) bisa meraih omzet hingga Rp 20 juta per hari. “Kini gara-gara korona tinggal Rp 100-200 ribu,” ujar dia.

Mayoritas konsumen jajanan khas adalah para pemudik. Acapkali mereka menyempatkan mampir membeli jajanan khas Trenggalek sebelum pulang kampung. Sempadan jalan pun sering digunakan untuk parkir para pemudik. “Selama ada korona itu sepi yang beli. Tidak ada yang pariwisata, pengunjung yang belanja juga sepi. Kendaraannya tidak ada orang mandek (berhenti, Red),” jelas dia.

Sri, panggilan Sri Muawadah mengaku, tidak berani membeli stok jajanan lagi karena stok yang dipersiapkan untuk Lebaran 1441 Hijriah belum habis. Dia juga tidak mengetahui kapan akan menyetok kembali. “Terakhir belanja sebelum korona, biasanya stok cukup untuk seminggu,” cetus dia.

Penurunan daya beli konsumen yang drastis ternyata tidak memengaruhi harga jual. Menurut Sri, harga jajanan khas sementara ini masih seperti biasa. Semisal jajan yang sering diburu selama Ramadan biasanya alen-alen dengan Rp 25 ribu/kg dan tempe keripik Rp 40 ribu/kg. “Alen-alen 1 kuintal dalam seminggu habis, sekarang masih sisa banyak,” ungkapnya.

Hal yang sama dirasakan Mukayan, penjual jajanan lainnya. Kata dia, omzet menurun hingga lebih dari separo. Kini untuk memperoleh penghasilan Rp 150 ribu per hari begitu sulit. “Kalau dulu per hari bisa mendapat omzet hingga Rp 5 juta,” kata dia.

Dia melanjutkan, hal yang menjadi kendala pedangang adalah masa kedaluwarsa. Kondisi itu membuat pedagang memutar otak untuk menjual jajanannya. Meninjau dalam situasi itu, kata Mukayan, jajanan khas Trenggalek bisa jadi turun harga. “Mungkin sekali terjadi turun harga,” ungkapnya. 

(rt/pur/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia