alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Gara-Gara Hal Sepele, Ayah Tega Pukuli Anak

14 Mei 2020, 08: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

PRIA KEJAM: Tersangka KDRT terhadap anak kandung hendak rilis pers di Polres Trenggalek kemarin (13/5).

PRIA KEJAM: Tersangka KDRT terhadap anak kandung hendak rilis pers di Polres Trenggalek kemarin (13/5). ( HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Dari beberapa barang bukti yang dibeber Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Trenggalek, masih terlihat bercak-bercak darah melekat dan mengering di beberapa bantal hingga pakaian. Darah itu menandakan kebrutalan perilaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan ayah kepada anaknya sendiri di Kecamatan Pogalan, Kamis silam (26/3). “Benar ada kejadian KDRT, tersangka berinisial JP dan korban (anak tersangka, Red) berinisial PS. Selanjutnya, kronologi akan disampaikan kasatreskrim,” ungkap Wakapolres Kompol Wiji Rahayu.

Kasatreskrim Iptu Bima Sakti mengungkapkan, ada beberapa barang bukti yang ditemukan di TKP, yaitu 2 bantal yang terdapat bercak darah, 1 potong kaus yang dapat bercak darah, 1 buah HP Andromax, 1 buah charger, 1 potong kayu berukuran 60 sentimeter (cm), dan selimut  yang ada bercak darah.

Menurut kronologis, ujar Bima, kasus KDRT itu dilaporkan salah satu kerabat pelaku dan korban pada 26 Maret lalu. Menurut dia, rumah kerabat itu berdekatan. “Dari saudara korban, pas pagi sekitar pukul 06.00 itu mau mandi, tapi melihat ada bercak darah,” ungkapnya.

Dalam pendalaman kasus, lanjut dia, KDRT terjadi sekitar pukul 03.00 ketika PS (korban, Red), perempuan, yang masih berusia 14 tahun itu lagi tidur. JP (pelaku, Red) yang berusia 49 tahun mulanya membangunkan korban untuk memperbaiki HP yang tak mau mengisi ketika diisi. Namun, korban yang sedang tidur itu tidak merespons permintaan tersangka. Tak pelak, kata Bima, sontak pelaku memukul korban. “Pelaku tidak puas, lalu mengambil kayu berukuran 60 cm untuk dipukulkan ke korban. Secara berkali-kali,” kata dia.

Menurut Bima, pukulan kayu membuat beberapa bagian di tubuh korban mengalami luka robek dan patah tulang. Seperti di kepala bagian kiri yang robek sekitar 4 cm dan kepala bagian belakang sekitar 5 cm. Sedangkan lengan korban mengalami patah tulang. “Korban hanya berusaha menangkis pukulan dari pelaku,” sambungnya.

Pihaknya mengaku, pelaku sudah menjalani tes psikiatri. Hasil tes itu menyebutkan bahwa pelaku tidak mengalami gangguan jiwa. Sehingga hal itu menjadi acuan pelaku akan sepenuhnya bertanggung jawab atas perbuatannya. Disinyalir pelaku disangka kena pasal 5 huruf a jo pasal 44 ayat (2) UURI Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan UURI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UURI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dengan ancaman pidana kekerasan anak 5 tahun, apabila dilakukan orang tua kandung, maka akan ditambah sepertiga. “Ancaman penjara 10 tahun,” cetus dia.

Dari beberapa keterangan saksi, kata bisa, pelaku punya riwayat temperamental. Emosinya meletup-letup. Namun, tegas dia, kejadian KDRT itu baru kali pertama. “Kondisi anak sudah membaik, tidak ada tanda-tanda trauma atau memburuk. Korban tetap sekolah,” ungkapnya.

Sedangkan dari pengakuan JP (tersangka, Red), dia mengakui kejadian itu memang berawal dari telepon tidak mau menyala dan ketika meminta tolong, tapi korban tak menggubris. “Kali pertama (kejadian KDRT, Red). Gitu sajalah cukup,” cetus dia dan mengakhiri pembicaraan. (tra/ed/tri)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia