alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Anom Trio Setiawan, Perajin Wayang

Dapat Pengalaman Spiritual yang Sulit Diterima Akal Sehat

15 Mei 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BUTUH KETELATENAN: Anom Trio Setiawan sedang menunjukkan proses pewarnaan wayang purwa. 

BUTUH KETELATENAN: Anom Trio Setiawan sedang menunjukkan proses pewarnaan wayang purwa.  (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Anom Trio Setiawan, seorang perajin wayang sejak duduk di bangku kelas V sekolah dasar (SD). Selama puluhan tahun menggeluti seni warisan budaya itu, dia beberapa kali mendapatkan pengalaman spiritual. Terlebih ketika dirinya membuat sepasang gunungan.  

HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Karangan, Radar Trenggalek

WABAH virus korona (Covid-19) tak menyurutkan Anom Trio Setiawan untuk membuat wayang. Bagaimanapun aktivitas menjadi perajin wayang itu adalah satu-satunya mata pencahariannya. Anom tak menyangkal omzet penjualan wayang merosot drastis ditengah pandemi itu. Sebab, pandemi itu membuat sejumlah jadwal pagelaran wayang berujung dibatalkan karena ada larangan untuk membuat kerumunan. 

Dulu sebelum kemunculan pandemi Covid-19, Anom mampu meraup omzet hingga Rp 3 juta per bulan. Namun sejak dua bulan lalu, untuk mendapat Rp 1,5 juta per bulan pun sulit. Wabah itu memaksa perajin wayang asal Desa Kedungsigit, Kecamatan Karangan, hanya kuat bertahan. Dia tetap tabah kendati harga jual wayang sudah mulai turun. 

Dengan kondisi itu, Anom hanya mengandalkan media sosial (medsos) untuk memasarkan wayang-wayangnya. Pasalnya, melalui cara itu, namanya bisa dikenal dari orang-orang di luar Bumi Menak Sopal. Bahkan, kebanyakan konsumennya didominasi dari luar daerah. Seperti Jakarta, Solo, dan Surabaya. Pernah juga sekali karyanya dibeli orang bule. “Ada orang amerika dulu pernah ke rumah beli wayang,” ungkap dia. 

Di balik kiprahnya menjadi perajin wayang, Anom adalah pria ramah. Dia punya tubuh tinggi, berpostur agak kurus. Warna kulitnya seperti kulit sawo. Dia, pria kelahiran 1993 yang memiliki darah seni. Ayahnya adalah seorang pedaling yang dikenal dengan Ki Boras. Dari ayahnya, Anom kenal dengan wayang. Sejak kecil dirinya sudah akrab dengan seni budaya leluhur tersebut.

Alumni SDN 3 Karangturi itu ingat, dirinya sudah menekuni cara pembuatan wayang sejak kelas V SD. Mulai dari tahap pertama hingga akhir. Tahap pertama pembuatan wayang berbahan kulit, biasanya dimulai dari perendaman. Proses awal itu setidaknya memerlukan waktu sekitar sehari. Secara teknis, perendaman itu dengan menempelkan kulit di atas papan, dipaku, baru direndam. Tujuannya, agar kulit tidak melengkung sebelum menuju proses selanjutnya. “Kalau sudah selesai, baru proses penjemuran,” kata dia. 

Untuk menjadi perajin wayang, butuh ketelatenan. Pasalnya, proses pembuatan wayang begitu panjang. Dan proses yang kadang menuai kebosanan ketika memasuki proses pengukiran. Sebagai perajin yang bertahun-tahun menggeluti bidang itu, dia juga sering merasa bosan. Namun, Anom punya cara lain untuk mengembalikan mood tersebut. “Ke pantai untuk menjernihkan pikiran, seringkali itu efektif,” ujarnya. 

Tak dimungkiri, ketika masuk proses pengukiran. Perajin wayang harus menguasai beberapa motif pakem, seperti bubukan, tratasan, bubuk miring, intan-intanan, dan sebagainya. Beberapa pakem tersebut sebagai ciri khas dari wayang. Karena dalam wayang, dikenal beberapa kasta yang membedakan antara wayang satu dan wayang lainnya. “Ada pakem tersendiri antara wayang dari kasta raja, ksatria, hingga rakyat biasa,” tegasnya. 

Bagi Anom, semua jenis wayang pernah dia buat. Mulai dari wayang purwa sampai kreasi. Wayang purwa adalah wayang yang sering digunakan lumrahnya pagelaran wayang. Sedangkan wayang kreasi adalah wayang yang diambil dari potret wajah seseorang. Biasanya wayang itu digunakan sebagai koleksi. 

Selama berkarir dalam dunia perajin, Anom pernah mendapat pengalaman spiritual yang kadang sulit dicapai akal manusia. Beberapa kali dia mendapat permintaan dari konsumen yang meminta agar dalam pembuatan wayang butuh tirakat. Sebagai perajin, Anom pun menyetujuinya, yakni dengan cara puasa. 

Menurut pria muda itu, ketika mengantarkan sepasang gunungan ke konsumen. Dia menaruh wayang gunungan itu di bagasi mobil, tapi mesin mobil tak mau menyala sama sekali. Butuh waktu untuk mengecek kesalahan mesin, tapi mesin tetap tak mau menyala. Hingga akhirnya, Anom tak sengaja memindahkan wayang itu ke bangku bagian depan mobil. Dan siapa sangka, mesin itu mau menyala dengan mudah. “Pernah juga mimpi, ada yang menyarankan untuk membuat motif ini-itu. Dan ketika bangun, memikirkan mimpi itu, ternyata apa yang disarankan memang lebih bagus,” jelasnya.

Anom menambahkan, wayang yang dibuat dengan tirakat memiliki kharisma yang berbeda dengan wayang yang biasa. Sebab, banyak orang yang bilang, kalau kharisma wayangnya lebih menarik dan hidup dibanding wayang yang biasa. 

Karya-karya ciptaan Anom dibanderol dengan harga yang bervariasi. Seperti jenis kulit, biasanya dijual dengan harga Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta. Untuk jenis mika, dijual dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu. Menilik kualitas dari kedua bahan, ungkap Anom, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, terutama dalam segi harga. Wayang jenis kulit menjadi lebih mahal karena proses pembuatannya butuh waktu lama. Sedangkan wayang jenis mika itu lebih simpel dengan harga yang terjangkau. “Paling ramai itu wayang jenis mika karena harganya lebih murah dari kulit. Tapi juga bisa tahan lama,” cetus dia. (ed/tri)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia