alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Harga Kerupuk Masih Gurih

15 Mei 2020, 10: 40: 22 WIB | editor : Alwik Ruslianto

PRODUKSI: Beberapa orang tampak melakukan pengemasan kerupuk yang akan dipasarkan ke pasar rakyat dan penjual keliling.

PRODUKSI: Beberapa orang tampak melakukan pengemasan kerupuk yang akan dipasarkan ke pasar rakyat dan penjual keliling. (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

KEDUNGWARU, Radar Tulungagung - Banyak para pelaku usaha yang mengeluhkan penurunan pendapatannya karena dampak coronavirus disease (Covid-19). Tapi hal itu tak belaku pada salah satu produsen kerupuk yang berada di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru. Selama masa pandemi Covid-19, penjualannya justru mengalami peningkatan.

Pemilik sekaligus produsen kerupuk, Yopi Syamsudin mengatakan, adanya Covid-19 tidak memengaruhi daya beli masyarakat. Terbukti, tiap harinya dia mampu menjual 90 persen dari total produksi kerupuknya, yakni sebanyak 1.000 bungkus dengan harga Rp 1.500 tiap bungkusnya. “Alhamdulillah sampai kini daya beli masyakat masih stabil, tidak ada pengaruh yang cukup signifikan terhadap penjualan,” tuturnya.

Ada dua jenis kerupuk yang dijual oleh Yopi, yakni kerupuk minyak dan pasir. Untuk kerupuk minyak, banyak masyarakat yang meminati kerupuk uyel. Sedangkan untuk kerupuk pasir, banyak masyarakat yang meminati kerupuk bawang. Kerupuk pasir memang disengaja hanya menjadi pendamping dalam produksi kerupuk minyak. “Karena kerupuk pasir hanya sebagai pendamping saja. Biasanya kami bisa menjual 150 bungkus tiap harinya dengan harga Rp 2.500 per bungkus,” ungkap pria ramah itu.

Yopi menjelaskan, usaha kerupuk ini merupakan usaha keluarga sejak 12 tahun yang lalu. Hal yang sama juga dirasakan oleh saudaranya yang berada di Kecamatan Gondang, tidak ada dampak Covid-19 terhadap daya beli masyarakat. Selama ini usaha kerupuk keluarga ini sudah memiliki penjualan yang cukup luas, yakni Pasar Rakyat Ngemplak dan Pasar Rakyat Ngranti. “Selain di pasar, kami juga menggandeng penjual keliling. Kira-kira ada 70 pedagang yang sudah menjalin kerja sama,” jelasnya.

Untuk memproduksi kerupuk yang terbilang banyak itu, Yopi tiap harinya membutuhkan 50 kilogram (kg) kerupuk mentah, dengan kebutuhan minyak sekitar 60-70 liter untuk sekali goreng. Produksi biasanya dilakukan mulai pukul 08.00 sampai 16.00 dengan menggerakan empat pekerjanya. “Untuk mendistribusikan ke pasar-pasar biasanya mulai pukul 02.30,” ujar pria dua bersaudara itu.

Yopi mengaku, selama tiga tahun terakhir ini daya beli masyarakat terhadap kerupuk semakin tahun semakin meningkat. Mungkin masyarakat sudah menjadikan kerupuk sebagai pelengkap pokok makanan untuk sehari-hari. Apalagi hari ini sudah mendekati Hari Raya Idul Fitri, tentu banyak permintaan. “Penjualan kerupuk tiap tahunnya mengalami peningkatan meski tidak drastis,” pungkasnya. (ham/ed/ris)

(rt/rak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia