alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Melihat Aktivitas Tagana Tulungagung

Sering Mendapat Stigma, Tetap Jalankan Misi Kemanusiaan

15 Mei 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

SEMANGAT: Tampak relawan Tagana Tulungagung sedang mendistribusikan logistik kepada puluhan orang terpapar Covid-19 yang sedang menjalani isolasi.

SEMANGAT: Tampak relawan Tagana Tulungagung sedang mendistribusikan logistik kepada puluhan orang terpapar Covid-19 yang sedang menjalani isolasi. (TAGANA TULUNGAGUNG FOR RATU)

Banyak orang yang berusaha menjauh dari paparan coronavirus disease (Covid-19). Namun bagi tujuh pemuda yang tergabung dalam Taruna Siaga Bencana (Tagana) Tulungagung, saat inilah waktu untuk bertugas demi menjalankan misi kemanusiaan. Setiap hari mereka harus bertatap muka dengan puluhan orang-orang yang terpapar Covid-19 untuk menjamin kebutuhan hidup mereka selama menjalani isolasi di rumah susun mahasiswa (rusunawa) dan mahad IAIN Tulungagung.

MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kedungwaru, Radar Tulungagung

Menjadi salah satu relawan Tagana Tulungagung bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, dalam menjalankan tugas ini, perlu fisik dan mental yang kuat. Terbukti, dari 28 anggota Tagana Tulungagung, hanya tujuh orang yang mampu mengemban tugas mulia ini. Salah satu anggota Tagana Tulungagung, Imam Syafii mengatakan, minimnya anggota yang bertugas disebabkan lingkungan tempat tinggal tidak siap menerima tugas ini.

Imam menambahkan, kebanyakan alasan anggota tidak mengambil tugas ini karena tidak siapnya mental diri sendiri, keluarga, dan lingkungan tempat tinggal. Selain itu, tugas ini sangatlah berbahaya. Karena kemungkinan risiko tertularnya Covid-19 sangatlah tinggi. “Dengan risiko tinggi, kami harus menyiapkan peralatan perlindungan diri yang mencukupi,” tuturnya.

Dalam percepatan penanganan Covid-19, Tagana Tulungagung memiliki tugas bertanggung jawab untuk menyalurkan logistik kepada puluhan orang terpapar Covid-19, yang kini sedang menjalani isolasi. Namun seiring waktu berjalan, tidak hanya menyalurkan logistik yang menjadi tanggung jawab mereka. Bahkan, menjadi tempat konsultasi orang yang terpapar Covid-19 harus mereka lakoni atas nama kemanusiaan. “Kini tugas kami bertambah, mulai dari pendataan orang masuk-keluar, penyaluran logistik, penyediaan kebutuhan pasien, dan konsultasi melalui WhatsApp,” paparnya.

Meski banyak tanggung jawab yang harus dipikul para relawan Tagana Tulungagung, masih ada juga hambatan di luar itu. Bukannya mendapatkan dukungan dari lingkungan, malah sebaliknya. Banyak stigma yang muncul yang berdampak pada diskriminasi yang dialami oleh relawan Tagana Tulungagung di lingkungan tempat tinggal. “Hal semacam itu sudah kami lalui. Ya, alhamdulillah setelah kami berikan pemahaman, masyarakat sekitar dapat memahami tugas yang kami jalankan,” jelas pria ramah itu.

Imam mengungkapkan, Lebaran tahun ini akan menjadi Lebaran yang berbeda. Jika melihat kondisi saat ini, tentu pantang untuk mundur, meski hanya sekadar merayakan Lebaran. Karena bagi mereka, yang paling terpenting saat ini adalah Tagana Tulungagung harus siap untuk memenuhi kebutuhan puluhan orang yang terpapar Covid-19 tersebut. “Kami sudah membuat jadwal piket di Lebaran. Tapi kayaknya kami akan merayakan Lebaran di pos ini,” ungkapnya sembari tersenyum.

Saat disinggung bagaimana persediaan alat pelindung diri? Imam mengatakan, hingga kini stok alat pelindung diri (APD) mulai menipis. Padahal, pihaknya sudah meminimalisasi alat pelindung diri. Bahkan untuk tetap menjaga ketersediaan, terkadang pihaknya mencuci APD sesuai protokol kesehatan. Setiap kali kami memasuki zona merah (area rusunawa dan mahad), kami harus memakai APD yang lengkap. Untuk penghematan, biasanya kami mencucinya kembali sesuai protokol kesehatan,” ujarnya.

Imam mengimbau kepada masyarakat agar tidak memberikan stigma terhadap para relawan yang memperjuangkan kehidupan orang banyak. Selain itu, dia juga berdoa semoga wabah ini segera berakhir. Dari sepanjang pengalamannya menangani bencana, wabah Covid-19 inilah yang paling sulit dibandingkan dengan penanganan bencana alam. “Saya harap berhentilah memberikan stigma kepada siapa pun karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalah,” pungkasnya. (ed/ris)

(rt/rak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia