alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Pengusaha Kue Kering di Tengah Pandemi

Sempat Syok ketika Pesanan Dibatalkan, Percaya Dapatkan Berkah Ramadan

16 Mei 2020, 15: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

JANGAN SAMPAI TUTUP: Para pekerja di pabrik roti milik Sri Wulandari menyelesaikan pesanan ketika mendekati Hari Raya tahun ini.

JANGAN SAMPAI TUTUP: Para pekerja di pabrik roti milik Sri Wulandari menyelesaikan pesanan ketika mendekati Hari Raya tahun ini. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Pandemi korona berdampak signifikan terhadap beberapa sektor usaha. Tak terkecuali bagi Sri Wulandari, salah satu pengusaha kue kering asal Kota Keripik Tempe. Maklum saja, fenomena itu menjadikan aktivitas perekonomian yang ditekuninyaseakan mati suri. Untuk tetap bertahan ditengah kelesuan, dia harus intens berinovasi memutar otak agar tetap produksi.

ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek

Sektor industri merupakan salah satu bidang usaha yang ikut terdampak akibat adanya pandemi korona seperti saat ini. Sebab, dengan berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus korona, memicu semakin melemahnya daya beli masyarakat. Hal itu ditambah distribusi barang yang terganggu dengan adanya berbagai kebijakan yang diterapkan. Seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pengecekan masyarakat yang masuk di check point, dan sebagainya. Tak ayal, hal itu mengakibatkan para distributor banyak yang menggagalkan pesanan karena takut barang yang dipesan tak laku.

Hal seperti itu yang sempat dirasakan Sri Wulandari, pengusaha kue kering asal Kelurahan Kelutan. Hal itu terjadi saat awal pemerintah pusat mengumumkan darurat korona.

Ketika Jawa Pos Radar Trenggalek berkunjung di rumanya kemarin (15/5), Sri Wulandari terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Maklum, berkat usaha kerasnya, perlahan dia mulai bangkit tetap produksi dan tidak merumahkan para pekerjanya. Itu terlihat jelas ketika para pekerjanya sibuk mengolah adonan kue di ruang produksi yang letaknya tepat samping rumahnya.

Terdengar suara mesin penggilingan adonan kue di lokasi tersebut. Di saat bersamaan, ada pekerja melakukan tugasnya masing-masing, mulai memasukkan adonan ke mesin, mencetak adonan, memasukkan ke oven, hingga mengemasnya. Itulah gambaran situasi yang ada saat itu dan seperti hari-hari biasa. "Syukurlah usaha saya ini masih tetap produksi kendati ketika awal-awal korona sempat stres dan drop," ungkap Sri Wulandari.

Itu terjadi lantaran sebelum pandemi korona, dirinya mendapat banyak pesanan baik yang datang dari luar kota hingga luar pulau. Dari situ, dirinya menyiapkan berbagai keperluan untuk melakukan produksi. Seperti membeli bahan baku, yaitu mentega dan tepung terigu, hingga memesan jasa ekspedisi yang nantinya mengantarkan pesanan tersebut. Namun apa mau dikata, ketika semua telah siap dan bahkan barang baku telah tiba, tiba-tiba pemerintah menyatakan masa pandemi korona. "Setelah penetapan itu karena namanya pengusaha tak mau rugi, mereka langsung membatalkan pesanan karena takut jika nanti tidak laku," katanya.

Sontak hal tersebut membuat Wulan (sapaan Sri Wulandari, Red) kaget dan syok. Mengingat pesanan yang akan dikerjakan tersebut lumayan banyak hingga modal yang dikeluarkan untuk memenuhinya juga cukup banyak. Hal itu ditambah para distributor yang biasa menjadi mitra kerjanya dalam menyalurkan kue kering juga tidak bergerak. Sehingga saat itu tidak ada pesanan kue kepada dirinya.

Hal tersebut membuat para pekerjanya bertanya-tanya terkait kelanjutan tempat bekerjanya tersebut. Sebab, mereka takut jika berhenti produksi dan harus dirumahkan seperti para pekerja lainnya. "Melihat kondisi itu, saya tidak tega jika harus merumahkan mereka dan membiarkan berton-ton mentega juga tepung terigu tidak terpakai. Maka saya memutuskan untuk tetap produksi dengan segala risiko yang terjadi," ujar Wulan.

Bersamaan itu, dirinya terus mempromosikan ke para distributor dan masyarakat luar jika stok kue masih ada. Baik melalui pesan pribadi maupun media sosial (medsos) yang dimiliki. Sebab, dirinya percaya Ramadan selalu membawa berkah dan tradisi Lebaran akan tetap ada meski di tengah pandemi korona. Gayung pun bersambut, memasuki bulan April, tiba-tiba ada yang menghubunginya dan meminta beberapa jenis kue. Tak ayal, kendati jumlahnya sedikit, dirinya memenuhi pesanan tersebut dan langsung mengirimnya.

Dari situ, dirinya menemukan beberapa pelanggan baru yang terus memesan hingga kini. Selain itu, ada langganan lama yang mulai bergerak dan juga melakukan pemesanan sehingga bahan baku yang didatangkan dahulu bisa terpakai dan sekarang mulai mendatangkan bahan baku lagi untuk memenuhi pesanan. "Saya tidak bisa berpikir seumpama pandemi korona terjadi setelah Lebaran, pasti produksi kue saya ini sudah tutup," jelas Wulan. (ed/tri)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia