alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Menilik Konservasi Penyu Desa Masaran

16 Mei 2020, 08: 56: 55 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Achmad Wais, S.St.Pi - Pengawas Perikanan Ahli Muda - Ditjen PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan

Achmad Wais, S.St.Pi - Pengawas Perikanan Ahli Muda - Ditjen PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan (Achmad Wais)

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati, penyu memang digolongkan sebagai satwa yang dilindungi sementara dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, penyu digolongkan dalam salah satu jenis ikan. Rasa peduli terhadap kelestarian penyu tersebutlah yang mendorong masyarakat Desa Masaran, Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) bernama “Pokmaswas Mutiara Laut Masaran”. Pembentukan Pokmaswas ini dirasa tepat karena memiliki payung hukum yang jelas tertuang pada Pasal 67 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan yang menyebutkn bahwa "Masyarakat dapat dilibatkan dalam membantu pengawasan perikanan". Pembentukan Pokmaswas di Desa Masaran, Kecamatan Munjungan mempunyai tugas dan fungsi pengawasan dan konservasi penyu.

Di tempat konservasi penyu ini telah dilakukan konservasi terhadap dua ekor penyu sisik dan dua ekor dewasa jenis penyu hijau. Penyu Sisik dan Penyu Hijau masuk dalam ketegori Apendix I yang artinya termasuk  spesies yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Meski masih terbilang sederhana,  tempat konservasi  ini telah memiliki satu unit tempat penetasan telur dan tiga unit kolam penampungan penyu dan tukik.

Pemerintah Desa Masaran juga sangat mendukung pelestarian penyu. Pemerintah Desa bahkan berencana menyusun aturan desa berupa Peraturan Desa berkiatan dengan pelestarian penyu tersebut. Selain pelestarian penyu Pemerintah Desa juga berusaha mengedukasi masyarakat  untuk peduli dengan pelestarian sedari kecil. Pelibatan elemen perempuan nelayan dalam pelestarian penyu di Desa Masaran juga sangat terlihat. Perempuan nelayan juga sangat berantusias dalam pelestarian penyu ini.

Menjadi sebuah perenungan bersama bahwa penyu merupakan hewan yang dilindungi bahkan beberapa spesies penyu sudah terancam punah. Kepunahan penyu ditentukan oleh dua faktor ancaman yaitu ancaman alami dan ancaman dari manusia.  Ancaman alami berupa abrasi pantai, vegetasi pantai. penghalang, dan predator alami seperti biawak, sedangkan ancaman dari manusia meliputi pencurian, illegal fishing, jual beli telur dan sisik penyu, pemboman, potassium, pencemaran habitat, dan kehilangan area peneluran (Spotila, 2004; Lam, 2006).

Di Indonesia, perburuan penyu terjadi karena nilai ekonomis yang tinggi. Konsumsi telur dan daging semakin meningkat. Hasil kerajinan karapas yang indah dan mahal harganya banyak dijajakan di lokasi–lokasi wisata (Priyono, 1989). Populasi penyu yang terus menurun menyebabkan diperlukannya upaya perlindungan dan pelestarian. Upaya konservasi spesies tersebut dilakukan agar kelestarian penyu dan keseimbangan ekosistem laut tetap terjaga. Oleh sebab itu dirasa tepat jika “Pokmaswas Mutiara Laut Masaran” tetap melakukan upaya pelestarian penyu ini. Tantangan ke depan adalah faktor biaya pemeliharaan kawasan konservasi ini. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa faktor biaya operasional memang menjadi alasan kehancuran sebuah kawasan konservasi yang dirintis oleh masyarakat. Di masa yang akan datang, Penulis mengharapkan Pemerintah Desa Masaran, Pokmaswas, dan stakeholder terkait lainnya bekerjasama mendukung upaya pelestarian penyu sehingga tidak mengalami kegagalan pengelolaan sebagaimana terjadi pada upaya konservasi penyu di tempat lainnya.

(rt/rak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia