alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Petugas Kebersihan di Tempat Isolasi Covid-19

Rangkap Tugas dan Rela Jauh dari Keluarga

18 Mei 2020, 19: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

INDRA BAYU

INDRA BAYU (INDRA BAYU FOR RATU)

Dari puluhan petugas kebersihan yang ada di IAIN Tulungagung, hanya ada satu orang yang memberanikan diri untuk menjadi petugas kebersihan di rumah susun mahasiswa (rusunawa) dan mahad IAIN Tulungagung, yang kini dijadikan sebagai tempat isolasi orang-orang terpapar coronavirus disease (Covid-19). Hanya demi kemanusiaan Indra Bayu melakoni pekerjaan yang penuh risiko tersebut.

MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kedungwaru, Radar Tulungagung

Siang itu terik matahari perlahan mulai menyengat tubuh. Tampak dari kejauhan seorang laki-laki berbaju hitam duduk di teras masjid. Dia adalah Indra Bayu, orang yang bertanggung jawab atas kebersihan tempat isolasi di rusunawa dan mahad IAIN Tulungagung. Dari 50 petugas kebersihan yang dimiliki oleh IAIN Tulungagung, hanya Indra Bayu yang memberanikan diri mengambil tugas tersebut.

BERANI: Bayu sedang membersihkan tempat isolasi orang yang terpapar Covid-19.

BERANI: Bayu sedang membersihkan tempat isolasi orang yang terpapar Covid-19. (INDRA BAYU FOR RATU)

Bayu, sapaan akrabnya, menceritakan bagaimana dia bisa menjadi satu-satunya petugas kebersihan di tempat yang penuh bahaya itu. Awalnya setelah rusunawa dan mahad IAIN Tulungagung ditetapkan sebagai tempat isolasi, dari birokrasi kampus menawarkan kepada 50 petugas kebersihan, siapa yang bersedia menjadi petugas kebersihan di tempat isolasi tersebut. Dari tawaran tersebut, ternyata tidak ada petugas kebersihan yang berani mengambil tugas tersebut. “Ketika tidak ada orang yang berani mengambil, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengambil tugas ini,” tuturnya.

Keberanian itu muncul berdasarkan rasa kemanusian yang muncul pada saat itu. Bayu mengungkapkan, jika tidak ada satu pun petugas yang berani mengambil tugas ini, bagaimana nasib orang-orang yang diisolasi. Mereka yang diisolasi juga manusia, tidak pantas jika mereka mendapatkan stigma semacam ini. “Mereka itu sama dengan kita, sama-sama manusia yang tidak pantas didiskriminasi. Apalagi mereka kini membutuhkan bantuan,” ungkapnya.

Pria ramah itu menjelaskan, pada dasarnya tugas Bayu adalah bertanggung jawab untuk membersihkan rusunawa dan mahad saja. Tapi karena hanya dia yang berani memasuki tempat isolasi, akhirnya banyak tugas yang harus dia back up. Mulai dari membersihkan taman, membenahi air dan listrik, membelikan kebutuhan orang-orang yang diisolasi, hingga memberikan memotivasi kepada orang-orang yang sedang diisolasi. “Saya membersihkan dari satu kamar pasien ke kamar pasien lain. Biasanya jika ada pasien baru, saya memberikan motivasi kepada mereka karena rata-rata pasien baru itu masih tertekan secara psikologis,” jelasnya.

Pada awalnya, Bayu juga merasa takut jika nanti terpapar Covid-19. Tapi berkat pembekalan yang diterimanya dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mengenai protokol apa saja yang harus dijaga saat menjalankan tugas, Bayu telah mendedikasikan hidupnya penuh untuk menjalankan tugas tersebut. “Karena mati dan hidup itu adalah kehendak Allah SWT. Saya bekerja seperti ini karena lillahita’ala,” ujarnya.

Saat disinggung bagaimana dengan keluarganya, Bayu mengatakan, mulai menjalankan tugas ini, istrinya kembali ke rumah ibunya untuk keamanan bersama. Dan sudah empat minggu Bayu tidak bisa bertemu dengan anak semata wayangnya yang masih berusia tiga tahun. Hanya melalui video call Bayu bisa melepaskan rasa kangennya dengan keluarganya. Bahkan, Lebaran tahun ini Bayu harus merelakan untuk tidak berkumpul bersama keluarganya. “Demi kebaikan keluarga saya, lebih baik seperti itu. Selain itu, saya juga jarang pulang karena masyarakat di sekitar ada yang takut terhadap pekerjaan saya,” ungkapnya sembari tersenyum.

Tidak ada rasa menyesal sedikit pun atas pekerjaan yang dipilih Bayu. Sebaliknya, dia merasa senang dengan pekerjaannya kini. Banyak cerita dan pengalaman yang diperoleh Bayu. Dari itu semua, Bayu mendapatkan makna hidup yang sebenarnya, yakni bagaimana sesama manusia bisa saling menghargai dan tolong-menolong satu sama lain. “Saya senang memiliki teman baru, banyak cerita yang bisa saya petik. Semoga wabah ini dapat segera berakhir,” pungkasnya. (ed/rka)

(rt/rak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia