alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Nasib Witana, Sopir MPU di Tengah Pandemi

Pernah Berencana Gelar Demonstrasi, Namun Gagal Karena Diredam Polisi

18 Mei 2020, 19: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TERDAMPAK COVID-19: Witana sedang berdiri di sebelah MPU-nya dengan mengenakan masker.

TERDAMPAK COVID-19: Witana sedang berdiri di sebelah MPU-nya dengan mengenakan masker. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Sebagian sopir mobil penumpang umum (MPU) berharap secuil keajaiban segera menghampiri. Semoga saja tetap ada penumpang yang setia membutuhkan jasanya, kendati ada wabah Covid-19. Maklum, mereka tak sembarangan mengurungkan niat untuk kerja karena mereka sadar ada tuntutan ekonomi yang harus dipenuhi.

HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kota, Radar Trenggalek

 

AKTIVITAS calon penumpang di terminal MPU yang berada di sebelah selatan Pasar PON begitu sepi. Hanya menyisakan pemandangan dua unit MPU yang diparkirkan di bawah terop memanjang ke arah timur dan barat.

Terminal MPU itu berada di Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek. Kadang sebelum ada wabah Covid-19, satu-dua hingga belasan penumpang sudah menunggu di sekitar terminal. Kadang juga ada penumpang yang menunggu di dalam mobil jenis ELF. 

Tipikal penumpang MPU, kadang adalah orang-orang pasar yang menenteng sayur-mayur atau beberapa barang. Rentang usia mereka juga banyak yang telah berumur dan didominasi dari kaum hawa. 

Penumpang MPU sering juga berasal dari wilayah-wilayah perbatasan Bumi Menak Sopal. Ada yang dari Kecamatan Munjungan, Suruh, Gandusari, dan sebagainya. Mereka masih butuh jasa MPU untuk mengantarkan dari rumah hingga ke Trenggalek kota.

Kemunculan Covid-19 diakui Witana sekitar dua bulan lalu. Sejak marak adanya virus korona dan adanya kebijakan-kebijakan pemerintah, tren penumpang MPU pun semakin merosot melebihi 50 persen dari penghasilan biasanya.  Dia mengatakan, bahkan penurunannya bisa mencapai 70 persen. 

Dalam kondisi normal, Wita (ejaan Jawa dipanggil Wito, Red) -sapaan akrab Witana- mengaku, rata-rata untuk omzet per hari saat sebelum ada Covid-19 itu bisa meraup Rp 100 ribu. Namun sejak ada virus tersebut, bagi Wito, untuk mendapatkan Rp 30 ribu itu sangat sulit. 

Betapa tidak, Wito berangkat dari Desa Ngulungkulon, Kecamatan Munjungan hingga ke terminal MPU sejak pukul 06.00. Namun hingga sekitar pukul 14.00, belum sepersen pun dia dapatkan karena tak ada penumpang. “Belum ada sama sekali,” kata dia.

Padahal, biaya operasional dari Munjungan-Trenggalek sedikitnya mengeluarkan Rp 75 ribu per hari. Dan ketika belum ada penumpang, maka bisa dipastikan akan merugi. “Untuk beli solar,” ungkapnya. 

Dia tak menyangkal, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa sopir MPU itu orang kaya karena punya mobil. Tapi di balik itu, kata Wito, untuk mendapat mobil itu harus utang karena tak punya uang. Sedangkan dulu, dia utang hingga Rp 100 juta untuk mendapatkan mobil ELF tersebut. “Belum lunas lah,” kata dia.

Hingga pada titik pemuncak, ungkap Wito, pernah beberapa waktu lalu para sopir hendak untuk menggelar aksi demonstrasi. Menyuarakan aspirasi para sopir yang terkena imbas dari pandemi Covid-19. Namun aksi itu diredam aparat kepolisian sehingga tidak jadi dilakukan. “Ada 38 sopir MPU dari Kecamatan Munjungan,” kata dia.

Isu demonstrasi para sopir MPU akhirnya mulai diperhatikan. Sebab, para sopir MPU telah didata sebagai penerima bantuan, baik yang dari pusat maupun daerah. Wito mengaku, dirinya juga ikut didata sebagai penerima bantuan. Hanya, bantuan itu belum diterimanya. “Dari total 38 sopir, ada dua yang sudah mendapat bantuan,” cetus dia. 

Wito tak menargetkan berapa bantuan akan diterima atau jenis bantuan apa yang akan dia dapat, dia tetap mensyukurinya. Di balik itu, dia tetap akan bekerja karena bantuan itu dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Anak saya tiga: pertama baru masuk kuliah, barusan menikah. Dan dia minta uang untuk usaha, padahal situasinya seperti ini (Covid-19, Red). Kedua, barusan lulus SMP. Dan ketiga masih SD kelas II,” jelasnya. 

Dia pun berdoa agar pandemi ini bisa cepat usai. Aktivitas penumpang kembali normal sehingga penghasilan bisa meningkat. “Semoga cepat hilang dan bisa pulih kembali,” cetusnya. (ed/tri)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia