alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Seniman Kawakan Menjadi Pengrajin Barongan

Lestarikan Seni Jaranan, Tak Pedulikan Keuntungan

19 Mei 2020, 19: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

MENOLAK BERHENTI: Budiono sedang menyelesaikan salah satu barongan di kediamannya, kemarin (18/5).

MENOLAK BERHENTI: Budiono sedang menyelesaikan salah satu barongan di kediamannya, kemarin (18/5). (DHARAKA R. PERDANA/RADAR TRENGGALEK)

Berasal dari salah satu wilayah pelosok di Kota Keripik Tempe, tidak membuat Budiono berhenti mencintai seni budaya tradisional. Warga Dusun Damas, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo ini terus membuat barongan meski untung yang didapat tak seberapa.

DHARAKA R. PERDANA, Watulimo, Radar Trenggalek

Wilayah pesisir selatan Trenggalek yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia yang biasanya panas terik, kali ini justru terasa sejuk. Sejak beberapa hari belakangan, hujan dengan berbagai intensitas justru rajin mengguyur. Alhasil ini membuat nyaman suasana untuk tetap berada di dalam rumah.

Kendati demikian, dalam suasana sejuk ini membuat Jawa Pos Radar Trenggalek bersemangat untuk menuju sebuah rumah yang tidak begitu jauh dari Pantai Damas di Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo.

Bersama seorang rekan perangkat desa setempat, Koran ini justru memilih untuk melintasi jalur di barat Pantai Cengkrong yang belum semua teraspal halus. Bahkan juga harus melalui jalan berlumpur yang mirip sungai kecil. Padahal jalur ini sebenarnya salah satu calon ruas jalur pantai selatan (pansela).

Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, sampailah di sebuah rumah yang berdiri tepat di belakang pos retribusi masuk Pantai Damas. Dari luar sudah terlihat jika empunya rumah memang sedang sibuk membuat barongan. Padahal dia sedang tidak enak badan. “Kolesterol sedang tinggi, tetapi tetap membuat barongan jika ada waktu luang,” kata Budiono yang saat itu sedang bersama istri dan dua cucunya.

Kakek 60 tahun ini mengaku jika pembuatan barongan ini dimulainya sekitar tiga tahun silam. Semua tidak terlepas adanya kelompok jaranan bernama Turangga Yaksa Kumbakarna yang berdiri di desa setempat. Apalagi dia tidak sampai hati melihat kesulitan rekan-rekannya untuk sekadar mencari barongan yang menjadi pelengkap pertunjukan. “Saya sendiri kebetulan memang menukang. Namun saya memang kadhung tresna pada seni budaya Jawa. Sehingga tidak mempermasalahkan, karena sudah menjadi kegemaran,” ujarnya lantas tersenyum.

Ayah dua putra ini mengakui, dirinya tidak ada yang mengajari tata cara pembuatan barongan. Semua dipelajari dari Youtube. Kendati demikian, dia berusaha membangun ciri khas barongan hasil kreasinya itu. Yakni diberi tanduk di bagian atas atau menyerupai naga. Ini tentunya cukup memberi perbedaan dibandingkan barongan yang biasa ditemui di pasaran. “Untuk memberi kesan sangar pun biasanya saya cat hitam. Tetapi kalau ada yang pesan dengan warna lain pun tetap melayani,” terangnya.

Meskipun terkesan biasa, namun kakek empat cucu ini menggarap setiap barongan dengan sepenuh hati. Apalagi dalam sanubarinya sudah tertanam tekad untuk melestarikan kesenian ini. Dia pun harus cermat memilih bahan baku kayu. Proses pembuatannya pun memakan waktu hingga sekitar dua minggu. Dan sudah terjual hingga luar Jawa. “Biasanya saya menggunakan kayu jenis jaran atau waru. Dan harga yang saya lepas di kisaran Rp 1,5 juta untuk yang lengkap. Jika tanpa jamang, harganya Rp 1 juta per unit,” paparnya.

Disinggung alasannya tetap membuat, padahal keuntungan yang didapat tidak seberapa. Berbeda dengan pembuatan pintu atau lemari yang tentu lebih menggiurkan. Dia dengan tegas menjawab, untuk menjaga kelestarian seni jaranan agar tidak segera punah. “Saya sendiri sebenarnya sejak muda sudah sering tampil sebagai pemain jaranan, ketoprak, maupun ludruk. Makanya ini menjadi andil saya dalam menjaga keberlangsungan seni ini agar tidak segera punah,” tegasnya.

(rt/rak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia