alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Lewat Lukisan Kaus, Lestarikan Kearifan Lokal

Kenalkan Seni dalam Lukisan, Pahami Keinginan Pemesan

20 Mei 2020, 19: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TELATEN: Sapto Priyono sedang menyelesaikan salah satu lukisan kaus di rumahnya, kemarin (19/5).

TELATEN: Sapto Priyono sedang menyelesaikan salah satu lukisan kaus di rumahnya, kemarin (19/5). (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Melukis bisa dilakukan di banyak media. Contohnya yang dilakukan Sapto Priyono, seniman asal Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo. Kaus polos pun menjadi media lukis, khususnya mengenai kearifan lokal.

DHARAKA R. PERDANA, Pagerwojo, Radar Tulungagung

Matahari tak begitu terik ketika Koran ini menginjakkan kaki di Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo. Bahkan bisa dikatakan cuaca cukup sejuk kendati waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Wajar saja, sejak beberapa hari yang lalu, hujan cukup sering mengguyur.

Kendati demikian, hal tersebut tidak berpengaruh pada penghuni rumah limas yang tidak jauh dari lapangan desa setempat. Meskipun dari luar terlihat sepi, ternyata si empunya rumah, Sapto Priyono, sedang sibuk menghadap sebuah kaus hitam dengan gambar barongan. “Sedang finishing beberapa lukisan kaus. Semua saya kerjakan sendiri,” katanya memulai obrolan.

Menurut dia, lukisan kaus memang bukan barang baru di dunia lukis. Karena menggoreskan kuas memang tidak hanya dilakukan di kanvas saja, tetapi juga bisa di kaus polos. Meskipun, cat yang digunakan tentu berbeda dengan lukisan kanvas. “Ini menggunakan cat sablon. Sehingga hampir tidak ada perbedaan dengan sablon pada umumnya,” tambahnya.

Yon, sapaan akrabnya melanjutkan, dalam berkarya dirinya memang tinggal menuruti keinginan pemesan. Namun di lubuk hatinya paling dalam, dia ingin berkonsentrasi pada lukisan yang berhubungan dengan kearifan lokal. Seperti tarian dan seni lainnya. Semua bisa diimplementasikan menjadi lukisan yang sedap dipandang mata. Ternyata animo masyarakat cukup baik dalam melihat hasil karyanya. “Hampir semua lukisan saya ini memang berhubungan dengan kearifan lokal yang hidup dan berkembang di masyarakat. Biar nantinya tidak cepat cures,” ujarnya.

Alumnus ISI Jogjakarta ini mengaku, tata cara melukis di kaus memang tidak ada perbedaan seperti lukisan pada umumnya. Yang utama tetap bermodal pada kesabaran dan ketelitian. Karena melukis juga bergantung pada mood si pelukis itu sendiri. Jika mood sedang tidak stabil, tentu harus dihentikan sejenak, lantaran itu bisa berpengaruh pada hasil goresan kuas di atas media kaus. “Kalau sedang tidak mood lebih baik tidak melukis dulu. Lebih baik cari kopi dan ngudut dulu, baru dilanjutkan,” akunya lantas tertawa.

Di saat pandemi korona seperti ini, ayah satu putra ini masih bisa bersyukur karena masih ada pesanan yang menghampirinya. Padahal saat kondisi normal, dia bisa menggarap ratusan pesanan lukisan kaus yang mayoritas dari luar kota. “Tetapi ada juga pesanan dari dalam daerah. Mungkin kendala yang saya rasakan adalah proses pengiriman yang lebih lama dibanding biasanya. Kan semua bergantung dari ekspedisinya juga,” tuturnya.

Untuk harga, pria berambut panjang ini menetapkan harga yang wajar. Semua bergantung pada tingkat kerumitan lukisan. Kendati demikian, sampai sekarang paling mahal dia melepas pada harga Rp 250 ribu, dan Rp 100 ribu yang paling murah. “Saya selalu berkomunikasi dengan pemesan. Sehingga mereka bisa mengetahui setiap proses pembuatan karena selalu saya kabari melalui WhatsApp,” ungkapnya.

Saat ini pun, pria yang identik dengan topi pet ini sedang mengumpulkan data mengenai lukisan kaus. Apalagi, dia diminta untuk mengisi buku data seni lukis yang sedang digarap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur. “Ini menjadi kebanggaan tersendiri dan memotivasi saya untuk terus berkarya,” tandasnya. (ed/ris)

(rt/rak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia