alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Pengusaha Kue Kering Asal Bumi Menak Sopal

Sebagai Pengingat Berinovasi Bikin Kue Desain Masker

22 Mei 2020, 19: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

SEMANGAT: Tini Sulistyoningsih  sedang menunjukkan kue kering  masker buatannya.

SEMANGAT: Tini Sulistyoningsih sedang menunjukkan kue kering masker buatannya. (TINI SULISTYONINGSIH FOR RADAR TRENGGALEK)

Bagi Tini Sulistyowatiningsih, pandemi Covid-19 menjadi titik balik agar pelaku usaha tetap eksis memasarkan produk-produknya. Menurut dia, pelaku usaha harus bisa membaca situasi itu menjadi sumber inovasi. Seperti halnya ketika Tini berhasil menciptakan kue masker. Kue itu mampu menarik para konsumen di tengah kelesuan ekonomi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). 

HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Panggul, Radar Trenggalek

RENTETAN pengalaman dia jalani selama bertahun-tahun dengan bergelut di bidang usaha. Hal itu semakin membuat Tini Sulistyowatiningsih mampu belajar arti dan esensi berwirausaha. Pengalaman itu membuat dia meyakini bahwa wirausaha adalah perjalanan hidup. Memulai dari nol hingga memetik buahnya. 

Prinsip usaha yang diyakini Tini itu seiring berjalannya waktu juga mulai ditanamkan kepada keenam anaknya. Dia tak muluk-muluk, memimpikan anak-anaknya bisa menjadi aparatur sipil negara (ASN). Menurut dia, profesi seperti itu adalah bonus. Sebelum itu, anak-anaknya perlu belajar tentang esensi berwirausaha.

Alasan Tini tertarik dengan dunia usaha itu simpel. Seberapa tinggi jabatan seseorang, selama mereka pegawai/karyawan, maka mereka masih memiliki bos. Namun, seberapa kecil usaha, ketika dia punya karyawan, maka mereka sudah dianggap bos. Mereka telah membuka lapangan pekerjaan dan menyalurkan sebagian dari rezeki-Nya. 



Selain menjadi pelaku usaha, Tini juga dipercaya sebagai Ketua Paguyuban Oender Pontjo Soediro. Sebuah perkumpulan para UMKM di Kecamatan Panggul. Dia juga sebagai salah satu wanita yang getol menyuarakan aspirasi-aspirasi para UMKM Panggul agar mereka bisa bangkit. 

Sebagai pelaku usaha, kemampuan yang perlu diasah adalah inovasi. Kemampuan itu yang membuat para pelaku usaha bisa terus eksis, kendati diterpa cobaan seperti pandemi Covid-19. Dalam kacamata pengusaha, pandemi itu justru bisa menjadi sumber inspirasi untuk pengembangan produk-produknya. Pasalnya, pengusaha kue juga butuh mengikuti tren, layaknya dunia fashion. “Kalau saya monoton, tiap tahun bikin menu itu-itu saja. Takutnya pelanggan akan bosan,” ungkapnya. 

Pandemi muncul sekitar 1,5 bulan lalu dan datang ketika para pelaku usaha hendak meraup omzet setinggi-tingginya. Sebab, dalam waktu dekat akan masuk bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Biasanya di momen itu, permintaan kue kering melonjak secara signifikan. 

Agaknya, lonjakan konsumen itu tidak terjadi tahun ini karena seabrek kebijakan terkait larangan berkerumun. Otomatis daya serap pasar pun lesu secara signifikan. Kondisi itu tak menyurutkan wanita berkacamata ini. Dia memilih untuk bangkit dengan membuat kue kering masker. Fisiknya, kue itu berbentuk bulat, ada topping yang menyerupai wajah yang sedang mengenakan masker. “Dari cokelat, topping itu dibentuk seperti masker,” kata dia. 

Sebelum membuat kue kering masker, Tini sempat bingung dengan penamaannya. Dia memiliki dua opsi kala itu, kue korona atau kue masker. Cukup lama dia berpikir, akhirnya Tini memilih untuk kue masker sebagai namanya. “Kalau pakai nama korona, nanti yang kita pasarkan justru virusnya. Jadi saya pilih masker agar masyarakat lebih sadar untuk memakai masker,” jelasnya

Selama bulan puasa dan menjelang Lebaran, kata Tini, penjualan kue cukup bagus karena tiap hari minimal bisa menjual lima lusin. Pemasaran itu melalui media sosial (medsos) maupun pelanggan tetap. Dari sisi rasa, Tini tak mengubah kualitas yang dulu-dulu karena rasa itu masih diminati konsumen. Hanya, dia memberi sentuhan anyar di produknya agar lebih cantik. “Rasa itu penting. Tapi selama konsumen cocok, maka rasa itu tetap dipertahankan,” cetus dia. 

Dalam produksinya, Tini dibantu dua anak, suami, dan temannya. Produksi tak terpaku pada jam-jam tertentu. Kadang pagi atau malam hingga tiba waktu sahur. Menurut dia, ketidaktentuan produksi itu karena dirinya hanya memproduksi kue sesuai permintaan. Dia tak lagi memproduksi banyak untuk stok barang karena hal itu berisiko untuk tahun ini. “Kemarin itu dengan anak-anak pukul dua pagi baru tidur usai produksi,” kata dia. (ed/tri)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia