alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Polisi Kantongi Kartu As Napi Asimilasi

22 Mei 2020, 10: 21: 56 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Infografis

Infografis

KOTA, Radar Trenggalek - Untuk sementara, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres menyebutkan belum ada narapidana (napi) yang berulah sejak ada kebijakan hak asimilasi dan integrasi di Bumi Menak Sopal. Kalaupun ada, pihaknya telah mengantongi beberapa kartu as napi. 


Kepala Satreskrim Polres Iptu Bima Sakti mengatakan, ada sekitar 90-an napi yang mendapat hak asimilasi selama Covid-19. Pihaknya pun mengaku terus berkoordinasi dengan pihak kejaksaan dan Balai Pemasyarakatan (Bapas). Sebab, dua instansi tersebut yang punya wewenang dalam hal pengawasan. “Para napi diawasi secara online tiap harinya,” ungkapnya. 



Bima, panggilannya mengaku, sampai kini memangi belum ada kasus tindak pidana yang dilakukan para napi. Selain itu, dia pun mengakui kalau potensi itu bisa terjadi karena sudah banyak kejadian tindak pidana yang menyeret napi asimilasi di daerah lain. “Tapi dugaan-dugaan mengarah pada napi asimilasi pasti ada. Hanya, kami belum mendapat pengaduannya terkait hal tersebut,” tegas dia. 

Menyinggung antisipasi terkait napi asimilasi yang berulah, kata dia, masyarakat tidak perlu khawatir. Ada beberapa upaya pencegahan yang terus dilakukan. Penerapan siskampling di desa-desa juga berguna menekan kriminalitas. Imbauan para anggota polisi di tengah masyarakat pun ditingkatkan, mengingat Lebaran semakin dekat. “Kita terus awasi di mana alamat para napi tersebut,” cetus dia. 


Selain itu, lanjut Bima, ada beberapa napi yang perlu pengawasan lebih ketat, terutama pelaku 3C (pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, dan pencurian kendaraan bermotor, Red). Namun, pengawasan tak kalah penting juga dilakukan untuk napi lainnya. “Secara khusus, pengawasan untuk satu atau dua orang itu belum ada,” ungkapnya. 

Seperti yang diberitakan, Kepala Rutan Kelas IIB Trenggalek tak tinggal diam ketika ada napi yang berulah saat jalani asimilasi dan integrasi di rumah. Napi itu bakal masuk straf cell (sel pengasingan, Red) selama sisa masa tahanan. Selain itu, dipastikan hukuman mereka juga lebih berat. “Kalau ada yang terlibat pidana lagi, maka hukumannya akan lebih berat,” tegas Sjamsudi Wahjunto.

Dia mengaku, menkumham telah menginstruksikan agar memperberat hukuman ketika ada napi yang terlibat kasus pidana lagi. Sementara untuk sel pengasingan sudah disiapkan di Rutan Kelas IIB untuk mengantisipasi kalau ada napi yang berulah. (tra/ed/tri)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia