alexametrics
Senin, 13 Jul 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Manfaatkan Limbah Tong Jadi Berguna

Sulap Limbah Tong Jadi Furnitur Menarik

30 Mei 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

KREATIF: Nanang Wahyudianto dan Moh. Riza Saputra menyelesaikan pesanan stool tong di kediamannya di Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut.

KREATIF: Nanang Wahyudianto dan Moh. Riza Saputra menyelesaikan pesanan stool tong di kediamannya di Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Wabah coronavirus disease (Covid-19) yang tak kunjung usai tentu juga berdampak pada para pegiat seni. Namun, hal tersebut tak membuat padam ide kreatif Nanang Wahyudianto dan Moh. Riza Saputra. Dengan sedikit kreativitas, dua pemuda ini menyulap tong bekas menjadi perabotan unik dan cantik.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Ngunut, Radar Tulungagung

Beberapa limbah kaleng atau timba bekas wadah cat tembok terjajar rapi di teras rumah milik Nanang Wahyudianto di Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut. Sebagian masih dicat warna dasar, tapi sebagian lain telah dilukis dengan berbagai motif. Sehingga tidak tampak jika wadah tersebut merupakan wadah bekas cat tembok. Kerajinan yang diberi nama stool tong ini merupakan karya dua pegiat seni, Nanang Wahyudianto dan Moh. Riza Saputra.

Nanang mengatakan, stool tong merupakan sebuah kursi atau meja mini yang terbuat dari bekas wadah cat. Agar tampil unik dan beda, stool tong karyanya dia padukan dengan seni lukis. Berkolaborasi dengan teman sesama pegiat seni, Moh. Riza Saputra, stool tong miliknya mulai dilirik pasar. Terlebih untuk furnitur di kafe maupun rumah dengan desain modern minimalis. “Saya yang bagian mengecat dasar, Riza yang melukis. Karena dasar dia adalah pelukis, ini kolaborasi kami sebagai sesama pegiat seni,” jelasnya.

Pemuda 34 tahun ini mengatakan, ide awal membuat stool tong ini bermula dari banyaknya wadah cat bekas di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu, melihat referensi di media sosial (medsos), desain interior berbagai kafe dan rumah mulai memanfaatkan barang-barang bekas. “Kesan vintage (kuno) dari barang bekas justru sekarang dimanfaatkan untuk perabotan kafe maupun rumah. Seperti kursi dari tong ini, meja dari besi bekas. Saya kemudian tertarik untuk mencoba,” terangnya.

 Diakuinya, adanya wabah coronavirus disease (Covid-19) ini berimbas pada para pegiat seni. Salah satunya pelukis mural. Sebelumnya, para pelukis mural ini banjir pesanan untuk membuat jasa melukis kafe dan taman kanak-kanak (TK). Namun adanya wabah ini membuat jasa lukis mural kian sepi. “Saya mengajak Riza untuk berkolaborasi. Karena wabah seperti ini tentu berimbas pada kami juga. Jadi selagi harus tetap di rumah, kami mencoba membuat karya baru dengan tetap menggunakan bakat seni kami,” ungkapnya.

Sementara Moh Riza Saputra mengaku kerajinan ini tergolong hal baru yang dia geluti. Meski demikian, dia bersyukur karena produknya mulai dilirik pasar. Ukurannya yang ringan dan dipadu dengan desain unik stool tong ini cocok digunakan untuk teras rumah maupun taman. Untuk membuat satu stool tong dibutuhkan beberapa proses. Mulai dari pembersihan tong, pewarnaan cat dasar, melukis gambar sesuai permintaan, pembuatan alas duduk di bagian penutup tong, hingga penyelesaian akhir pengecatan dengan antigores agar warna tong tetap awet. “Kami bagi tugas. Mas Nanang yang bagian pembersihan, pengecetan dasar, dan pembuatan alas duduk. Saya bagian desain lukis dan finishing,” ujarnya.

Riza tak menampik, proses paling lama adalah pada proses desain lukis. Sebab, disesuaikan dengan tingkat kerumitan pada masing-masing desain. Setidaknya dia dan Nanang membutuhkan waktu dua hingga tiga hari untuk pembuatan satu set stool tong. Dia pun mematok harga Rp160 ribu hingga Rp180 ribu untuk satu unit stool tong.

Untuk pemasaran, pemuda 25 tahun ini menggunakan medsos seperti Facebook dan Instagram untuk promosi. Meski baru menggeluti sekitar dua bulan terakhir, pesanan stool tong karyanya telah merambah hingga pasar Surabaya, Jogjakarta, Jakarta, dan Bandung. “Alhamdulillah pesanan banyak dari luar kota. Terutama kota besar yang memang memiliki desain interior lebih beragam,” tandasnya. (ed/ris)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia