alexametrics
Rabu, 08 Jul 2020
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek

Banjir Rob, Nelayan Justru Panen Ikan

30 Mei 2020, 15: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TETAP CARI IKAN: Seorang nelayan sedang berlayar menggunakan kapal di Pantai Mutiara, Kecamatan Watulimo, beberapa waktu lalu.

TETAP CARI IKAN: Seorang nelayan sedang berlayar menggunakan kapal di Pantai Mutiara, Kecamatan Watulimo, beberapa waktu lalu. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

WATULIMO, Radar Trenggalek - Sebagian warga nelayan memilih tetap menangkap ikan kendati ada fenomena banjir rob. Pasalnya, di balik peristiwa itu, ada nelayan yang meyakini saat ombak kasar, maka ikan-ikan besar justru bermunculan. 

Ketua Paguyuban Nelayan Kecamatan Watulimo Bambang Supiyat mengungkapkan, banjir rob atau ombak krasak adalah fenomena tahunan. Menurut dia, masih ada nelayan yang berani melaut, tapi juga ada yang tidak. Pasalnya, ketika ada nelayan yang khawatir melihat kasarnya ombak di pesisir, mereka cenderung mengurungkan niat untuk melaut. “Jarak sekitar 5 mil ke tengah laut, kondisi ombak itu justru stabil atau normal,” kata dia. 

Selama ada ombak krasak, lanjut dia, nelayan memilih melaut pada siang hari. Sebab, ikan yang berhasil ditangkap berjenis, ikan kue (Mubara, Red) maupun tongkol. Sedangkan untuk malam harinya kosong, hanya ada di teluk dengan jenis teri. “Seperti di sungai atau dam itu banyak ikan yang loncat-loncat. Karena ikan itu perlu oksigen juga. Jadi kalau gelombangnya keras, ikan besar muncul. Buktinya, Kamis pagi (28/5) lalu  ada teman yang dapat ikan kue hingga tiga ton,” cetusnya. 

Di sisi lain, Bambang mengaku ombak krasak mulai stabil sejak kemarin (29/5). Ombak itu tidak menyebabkan kerusakan perahu-perahu nelayan. Dampaknya hanya meluber hingga masuk ke kios-kios warga. “Kalau di Prigi hanya sampai di bibir pantai, tidak sampai ke taman wisata. Namun kalau di Simbaronce, ombaknya hingga masuk ke kios karena jarak kios  dekat dengan bibir pantai,” ujarnya. 

Disinggung imbas ombang krasak dengan tahun-tahun dulu, Bambang menjawab, khususnya di Pantai Prigi tidak terlalu tinggi karena sudah ada dinding pembatas. Menurut dia, sebelum ada dinding pembatas, ombak meluber hingga ke jalan. “Jadi sekarang air tidak meluber ke jalan,” tegasnya. 

Seperti diberitakan lalu, sejumlah angkringan di pesisir Pantai Konang, Dusun Sukorejo, Desa Nglebeng, Kecamatan Panggul, rusak akibat banjir rob atau banjir air laut. Para pedagang menunggu banjir mereda untuk memperbaiki sejumlah angkringan yang rusak.

Pedagang ikan asap, Makaren mengaku mengenal banjir rob dengan istilah banjir grasak (istilah lokal, Red). Banjir itu biasa datang tiap Mei maupun November, tapi banjir rob besar terjadi tiap empat tahun sekali. Pada tahun ini, sambung dia, banjir terjadi sejak Selasa lalu (24/5). Yang diprediksikan hingga pekan depan. (tra/ed/tri)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia