alexametrics
Sabtu, 04 Jul 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Kundjarijah Gagal Berangkat Haji 2020

Ambil Hikmah, Perdalam Materi dan Perbanyak Ibadah

19 Juni 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TAK JADI BERANGKAT: Kundjarijah menunjukkan bukti pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BiPIH) kemarin (18/6).

TAK JADI BERANGKAT: Kundjarijah menunjukkan bukti pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BiPIH) kemarin (18/6). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Alat ibadah sudah siap, bahkan segala berkas dan dokumen telah disiapkan dengan baik. Hanya menanti jadwal berangkat. Namun sayang seribu sayang, rasa kecewa harus ditelan oleh Kundjarijah, salah satu calon jamaah haji (CJH) yang terpaksa gagal berangkat akibat pandemi Covid-19

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Kedungwaru, Radar Tulungagung

Rasa tak percaya masih menyelimuti Kundjarijah ketika melihat bukti pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BiPIH) yang sudah diterimanya. Tak hanya itu, matanya tampak sayu ketika memandang alat-alat ibadah dan baju-baju yang sudah dia siapkan ketika beribadah di Tanah Suci nanti. Namun sayang, keinginannya untuk dapat menginjakkan kaki di Tanah Suci tahun ini terpaksa harus gagal lantaran adanya wabah Covid-19. Ya, wanita yang akrab disapa Kun ini merupakan satu dari 1.197 calon jamaah haji (CJH) asal Kota Marmer yang dijadwalkan berangkat tahun ini, tapi harus mengalami penundaan akibat wabah Covid-19.

Wanita berusia 66 tahun ini mengaku sudah menanti sekitar 9 tahun untuk dapat berangkat memenuhi panggilan Allah SWT. Sebenarnya, sebelum mendengar adanya informasi pembatalan pelaksanaan ibadah haji, Kun sudah merasa ragu. “Sejak bulan Maret itu saya sudah merasa tidak enak. Seperti ragu mau berangkat apa enggak,” jelasnya mengawali cerita.

Meskipun merasa ragu, dia berusaha untuk menepis rasa khawatirnya dengan memperbanyak ibadah. Dia pun rajin mengikuti berbagai bimbingan dan materi yang diselenggarakan oleh kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH). Bahkan, dia lebih rutin mengulang materi yang telah didapatnya dari KBIH. Tak hanya itu, dia pun sudah dua kali menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapat vaksin. “Vaksin sudah dua kali, materi dari KBIH juga sudah. Saya berusaha seusai bimbingan saya ulang saat di rumah agar lebih mantap saat di sana nanti. Ternyata Allah SWT belum berkehendak,” terangnya.

Selain sudah mempersiapkan diri, nenek empat cucu ini memilih menerima kenyataan dengan rasa legawa. Meskipun sempat menelan rasa kecewa karena tidak dapat berangkat ke Tanah Suci tahun ini, dia merasa banyak hikmah yang dapat dipetik. Salah satunya mengenai kesiapan diri secara batin untuk dapat memenuhi panggilan Allah. “Mungkin ini cara Allah mengingatkan saya untuk lebih berserah diri, lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bukan hanya mementingkan kepentingan duniawi semata,” urainya sembari tersenyum.

Dengan mengambil hikmah dari peristiwa ini, warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, ini yakin dan percaya bahwa Allah SWT akan memberikan jalan yang terbaik untuknya. Termasuk niatnya dapat menunaikan ibadah haji. Untuk menutup rasa kecewa, dia pun memilih memperbanyak waktunya untuk mempelajari kembali materi-materi yang telah diterimanya dari KBIH.

Tak hanya itu, melihat kasus Covid-19 yang semakin melonjak, dia pun bersyukur jika pemerintah mengambil langkah penundaan pelaksanaan ibadah haji. Sebab, kesehatan tetap nomor satu. “Biar bagaimana pun, menjaga kesehatan itu juga salah satu perintah Allah. Wabah ini juga mengajarkan kita semua agar bersabar dan lebih berserah diri. Berserah bukan berarti menyerah, melainkan bagaimana dapat berusaha terhindar dari wabah ini,”ungkapnya. (*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia