alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Deni Susanto, Perajin Beduk Asal Jatimulyo

Pilih Kayu Nangka dan Kulit Sapi, Suara Lebih Nyaring dan Menggelegar

25 Juni 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TELATEN: Deni (kanan) sedang memasang kulit sapi pada beduk buatannya.

TELATEN: Deni (kanan) sedang memasang kulit sapi pada beduk buatannya. (DENI FOR RATU)

Keberadaan beduk menjadi salah satu bagian dari masjid di nusantara. Tak heran, perajin alat penanda masuknya waktu salat ini pun masih eksis di pasaran. Hal itu dirasakan Deni Susanto, perajin asal Desa Jatimulyo, Kecamatan Kauman. Agar berbeda, dia melengkapi jagrak beduk dengan ukiran kaligrafi dan candrasengkala.

SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Kauman, Radar Tulungagung

Samar-samar terdengar dari kejauhan suara mesin penghalus kayu yang berasal dari rumah sekaligus bengkel mebel milik Deni Susanto di Desa Jatimulyo, Kecamatan Kauman. Debu dan serbuk kayu pun tampak beterbangan di tengah terik matahari kala Koran ini berkunjung.

Dari asal suara itu, tampak kesibukan para pekerja. Ada yang sibuk memotong kayu, ada pula yang sedang memasang kulit sapi ke kerangka kayu yang telah dibentuk seperti tabung besar.

Deni saat ditemui menjelaskan, tabung besar yang tengah dikerjakan ini akan dibentuk menjadi sebuah beduk. Beduk buatannya berbeda dengan perajin lainnya. Dia menggunakan kulit sapi dan kayu pilihan. Kulit sapi sendiri dipilih karena dinilai memiliki suara yang lebih nyaring saat ditabuh. Sedangkan bahan kayu, dia pilih dari kayu nangka yang didapat dari wilayah Kecamatan Pagerwojo. Sebab, kayu nangka kerap dipercaya bisa membuat suara yang dihasilkan lebih menggelegar.

"Kulit sapinya ini pilihan. Jadi, hasil suaranya akan lebih memuaskan. Ini (kulit, Red) kebetulan saya ambil dari Pasuruan karena beberapa daerah termasuk di Tulungagung kosong," katanya.

Untuk membuat beduk memang butuh keahlian. Ada pakem pembuatan agar beduk mendapatkan hasil suara yang diinginkan. Sehingga pengerjaan beduk ini sangat hati-hati. Mulai proses dari pemotongan, pemekaran kayu, pemasangan bilah kayu, hingga pemasangan kulit sapi di kedua sisinya.

"Tak ada kesulitan berarti sih. Pembuatan beduk ini ukurannya harus tepat. Kalau sudah tahu pakemnya mudah," tegasnya.

Yang menjadi spesial, beduk buatannya dilengkapi dengan jagrak atau gayor yang dihiasi kaligrafi dan candrasengkala. Sehingga beduk ini akan terlihat lebih bernilai seni tinggi.

"Ini diameternya 100 sentimeter (cm). Pengerjaannya kurang lebih satu bulan. Lamanya pengerjaan ini karena kami menunggu pesanan kulit sapi yang sesuai ukuran ini," tuturnya.

Sementara untuk pemasaran, Deni masih menggunakan sistem getok tular. Namun, direncanakan akan merambah pemasaran ke online melalui media sosial (medsos) seperti Instagram. Ini agar jangkauan lebih luas.

"Prospek ke depannya insyaallah menjanjikan. Karena kebutuhan beduk cukup tinggi," tuturnya.

Disinggung apakah ada pengaruh permintaan pesanan mabel selama pandemi Covid-19? Deni mengaku ada, tapi tidak signifikan. Bahkan menurut dia, sekarang mulai menggeliat sejumlah pesanan berbagai model mabel, termasuk pesanan beduk ini.

"Ya, mungkin awal itu karena lebih mengutamakan kebutuhan sehari-hari. Tapi sekarang sudah ada geliatnya," tandasnya.  (*)

(rt/lai/alwk/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia