alexametrics
Sabtu, 04 Jul 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
CS di Tempat Karantina Reaktif Covid-19

Tidak Sebatas Tuntutan Ekonomi, tapi Juga Kepentingan Sosial

25 Juni 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

SESUAI PROTOKOL KESEHATAN: M. Mukhit Murtadlo saat mengenakan APD lengkap di gedung dinkesdalduk dan KB yang digunakan sebagai tempat karantina. 

SESUAI PROTOKOL KESEHATAN: M. Mukhit Murtadlo saat mengenakan APD lengkap di gedung dinkesdalduk dan KB yang digunakan sebagai tempat karantina.  (ADLO FOR RADAR TRENGGALEK)

Bekerja sebagai cleaning service (CS) di tempat yang berisiko terpapar virus korona, bagi M. Mukhit Murtadlo adalah pilihan. Tidak sebatas tuntutan ekonomi, tapi juga untuk kepentingan kemanusiaan. 

 

HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kota, Radar Trenggalek

RUTINITAS petugas CS makin padat ketika pasien-pasien berdatangan. M. Mukhit Murtadlo bekerja sebagai CS di gedung dinas kesehatan pengendalian penduduk dan keluarga berencana (dinkesdalduk dan KB). Lokasinya berada di Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek. Gedung itu bukan untuk mengarantina para pasien yang terkonfirmasi positif, melainkan mereka yang hasil rapid test-nya reaktif. 

Adlo, sapaan akrab M. Mukhit Murtadlo mengakui, sebelumnya dia bekerja sebagai ojek online di Surabaya. Pernah juga menjadi CS di kantor Jawa Pos, Surabaya. Namun istrinya asli Trenggalek sehingga dia membangun rumah tangga di Desa Kedungsigit, Kecamatan Karangan. “Anak saya satu, masih umur 3,5 tahun,” ungkapnya. 

Menyanggupi pekerjaan CS di gedung karantina itu adalah opsi masing-masing. Benar, alasan awal Adlo karena tuntutan ekonomi. Tapi jarang sekali orang mengambil peluang pekerjaan itu ketika melihat risikonya. Nyawalah yang dipertaruhkan. Tidak untuk dirinya sendiri, tapi juga keselamatan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Adlo pun menyanggupi pekerjaan hingga risikonya. Bagi dia, selama pekerjaan itu benar, halal, dan baik untuk kepentingan sosial, dia sanggup menanggung risikonya. “Nggak apa-apa, itu risiko pekerjaan. Ada risiko dan tanggung jawabnya,” katanya bernada optimistis. 

Memiliki pekerjaan yang bersinggungan dengan Covid-19. Adlo bercerita, pasti pernah menjadi buah bibir di lingkungan rumahnya. Adlo pun mengakui butuh waktu untuk menjelaskan tentang pekerjaannya agar tetangga-tetangganya tak terlalu khawatir. Selain itu, dia juga menerapkan protokol kesehatan sendiri ketika di rumah. Adlo tak pernah langsung masuk rumah sebelum selesai berjemur di bawah terik matahari. “Sebisa mungkin saya menjaga diri dan orang-orang di sekitar,” ucapnya.

Dia mengaku, selama tiga minggu bekerja menjadi CS. Adlo bekerja selama di dua sif. Untuk sif pagi mulai pukul 06.00 hingga 13.00. Sedangkan sif siang mulai 13.00 hingga 20.00. Dalam pekerjaannya, dia membersihkan beberapa area ruangan mulai dari area hijau, kuning, hingga merah. Acapkali dia juga menyemprotkan disinfektan ke tempat yang paling sering disentuh, yakni gagang pintu, pagar, maupun pengaman balkon. “Semua area, tapi kadang tergantung kedatangan pasien. Kalau pasien datang, otomatis kami bersihkan area hijau dulu, lalu ke area merah,” ungkapnya. 

Ada segudang aturan yang harus dipatuhi selama bekerja sebagai CS. Bagi Adlo, itu lumrah dan tidak memberatkannya. Sebab, sudah menjadi protokol agar dirinya terhindar dari paparan Covid-19. “Tentunya kami juga pakai APD. Untuk semua peralatan, kami ambil dari gudang secara steril. Kalau barang yang sudah selesai dipakai, kami buang semua. Kecuali sprei, bantal, dan sampah,” kata dia. 

Menurut dia, khususnya untuk sprei, bantal, dan sampah, ditangani khusus rumah sakit. Karena sprei dan bantal masih dipakai lagi. Hal serupa juga berlaku untuk sampah. Limbah itu tidak boleh dibuang sembarang. (*)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia