alexametrics
Sabtu, 04 Jul 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Pandemi Covid-19 Membawa Berkah

Pesanan Wastafel Melonjak, Omzet Naik 70 Persen

29 Juni 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BANJIR PESANAN: Yordan Andria Alwhisky memoles batu-batu kali yang telah selesai dibentuk untuk wastafel.

BANJIR PESANAN: Yordan Andria Alwhisky memoles batu-batu kali yang telah selesai dibentuk untuk wastafel. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Banyak hikmah yang dirasakan dari wabah Covid-19 ini. Salah satunya masih dapat mendulang pundi-pundi rupiah. Seperti yang dirasakan Yordan Andria Alwhisky, salah satu perajin batu kali yang kebanjiran pesanan wastafel akibat wabah Covid-19.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Campurdarat, Radar Tulungagung

Deru mesin pemotong menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Tulungagung ketika memasuki kediaman Yordan Andria Alwhisky di Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat. Memasuki ruangan yang berdinding kaca bening ini, berbagai wastafel dari batu sungai atau batu kali dan marmer terjajar rapi di lantai bawah.

Di salah satu sudut ruangan, seorang laki-laki berpostur tinggi sedang sibuk dengan sebuah wastafel di depannya. Sembari sesekali mengelap bagian dalam cekungan yang telah dipolesnya. “Mangga-mangga masuk sini mau lihat-lihat,” sambutnya ramah kepada koran ini.

Pria yang akrab disapa Yordan ini merupakan seorang perajin batu kali yang dibentuk untuk berbagai seni pahat. Mulai dari patung, wastafel cuci tangan, maupun seni pahat lainnya. Dia mengaku, semenjak merebaknya wabah coronavirus disease (Covid-19), pesanan wastafel di toko miliknya kian meningkat. Terlebih, kini pemerintah sedang gencar menerapkan protokol kesehatan di berbagai sektor kehidupan. Seperti tempat ibadah, rumah makan, hingga berbagai tempat umum lainnya. “Sekitar bulan Maret atau April kemarin mulai naik. Semakin meningkat ketika pemerintah gencar menerapkan protokol kesehatan dan menyongsong new normal,” jelasnya mengawali cerita.

Pria 29 tahun ini memulai berbisnis di bidang kerajinan batu dan marmer sejak 2007 lalu. Mulanya dia hanya memanfaatkan bahan baku dari marmer. Namun seiring berjalannya waktu, dia pun mulai mencoba berbagai bahan lainnya. Seperti batu kali dan batu fosil. Hasilnya, berbagai kerajinan miliknya telah melanglang buana di pasar nasional dan internasional.

Berkaitan wabah Covid-19, dia bersyukur dapat mengambil sisi positif dari pandemi ini. Wastafel karyanya laris diburu pembeli. Wastafel berbahan batu kali menjadi wastafel yang paling diminati pembeli. Selain harga lebih murah, batu kali memiliki nilai seni tersendiri dalam menonjolkan kesan alami. Selain itu perawatannya pun relatif lebih mudah jika dibandingkan dengan wastafel berbahan marmer. “Untuk saat ini paling laris yang berbahan batu kali. Harganya lebih murah, tapi kesan alaminya juga dapat,” imbuhnya.

Dalam sehari, ayah satu putra ini mampu membuat enam hingga tujuh wastafel ukuran standar. Yakni diameter 30 hingga 45 sentimeter (cm). Sehingga dalam satu bulan dia mampu menghasilkan sekitar 200 buah wastafel.

Disinggung mengenai tingkat kesulitan, pada dasarnya dia ini tidak terlalu menemukan kesulitan saat proses pengerjaan. Namun, karena kini masih banyak beberapa wilayah yang dibatasi, pengambilan bahan baku pun menjadi terbatas. Untuk pemasaran, wastafel-wastafel karyanya telah melanglang buana hingga Jerman, Bali, Jogjakarta, dan Jakarta. “Padahal, sebelum ada Covid-19, pesanan untuk wastafel hanya berkisar di 120 buah dalam satu bulan. Alhamdulillah ada peningkatan sekitar 70 persen dari sebelumnya,” tandasnya. (*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia