alexametrics
Sabtu, 04 Jul 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Agus Beternak Burung Murai Batu Medan

Mulai dari Nol, Rasakan Satu Tahun tanpa Hasil

29 Juni 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

PAHAM KARAKTERISTIK: Agus ketika memberi makan anakan murai batu medan hasil penangkarannya sendiri.

PAHAM KARAKTERISTIK: Agus ketika memberi makan anakan murai batu medan hasil penangkarannya sendiri. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Burung murai batu Medan sudah tidak asing lagi bagi para kicau mania. Burung ini merupakan salah satu jenis burung terbaik di kelasnya untuk dikoleksi. Namun di balik merdunya kicau burung tersebut, butuh kesabaran, ketelatenan, dan keterampilan untuk membudidayakannya. Seperti yang dialami Agus Setyawan, salah satu peternak murai batu Medan di Trenggalek.

ZAKI JAZAI, Durenan, Radar Trenggalek

Pastinya, mayoritas para pecinta burung berkicau akan kepincut akan keindahan dan kemerduan kicau yang lantang, bervariasi, juga merdu dari murai batu Medan. Inilah yang terasa ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung di salah satu rumah masuk wilayah Desa Panggungsari, Kecamatan Durenan kemarin (25/7). Saat itu, di rumah tersebut terdapat satu ruang yang difungsikan sebagai tempat kandang burung murai batu Medan. Sehingga bisa dipastikan di tempat itu ada puluhan sangkar yang semuanya berisi burung tersebut.

Bersamaan itu, terlihat seorang di salah satu sangkar berukuran sedang dengan isi empat ekor burung. Ya, pria itulah Agus Setyawan, pemilik rumah sekaligus peternak murai batu Medan. “Inilah kegiatan yang saya lakukan hampir setiap hari. Sebab untuk mulai beternak, jika ingin berhasil, harus sabar,” ungkapnya kepada Koran ini.

Hal itu bukanlah tanpa alasan. Karena pria yang akrab disapa Agus ini sudah memulai beternak burung yang berasal dari keluarga Turdidae tersebut sekitar sembilan tahun lalu atau pada 2011 silam. Bermula ketika dirinya mengikuti sebuah acara pameran burung berkicau. Apalagi sebelumnya dirinya telah hobi datang ke acara burung berkicau dan ikut gantangan burung.

Lama-kelamaan dirinya tertarik untuk menernakannya, Dia pun langsung membeli sepasang burung tersebut. Bersamaan itu, dirinya juga belajar teknik beternak burung. “Saya beternak burung ini memulainya dari nol. Makanya saat itu banyak mencari ilmu dari peternak lainnya,” katanya.

Dasi situlah, Agus mendapatkan cara beternak burung tersebut dengan cara area kandang tidak boleh ada suara bising, tidak boleh dilihat sembarang orang. Tujuannya, agar burung tidak stress sehingga bisa betah di kandangnya dan mau kawin hingga bertelur dan menetas. Dengan demikian, sangkar tempat menjodohkan burung tersebut harus ditutupi dengan kelambu atau sejenisnya. Berpedoman ilmu tersebut dirinya langsung mempraktikkannya.

Namun sayang, setelah mempraktikkan ternyata tidak berhasil. Sebab, itu membuat burung yang dipeliharanya tambah stres hingga mati. Tak ayal, itu membuat putus asa karena satu pasang indukan kala itu dihargai Rp 5 juta yang merupakan nominal sedikit besar waktu itu. Kendati demikian, hal itu tidak membuatnya menyerah, justru semakin membuatnya lebih semangat dalam menekuninya. Namun karena kekurangan materi indukan yang bagus, lebih dari satu tahun dirinya tidak bisa mendapatkan hasil dari beternak tersebut.

Berdasarkan pengalaman itulah, dirinya kembali membeli sepasang burung tersebut dan mulai beternak dengan caranya sendiri. Kendati beberapa kali gagal menjodohkan, Agus terus mencoba hingga dirinya menemukan cara yang tepat untuk beternak. Sebab setelah lebih dari satu tahun beternak, dirinya mulai mengerti karakteristik burung tersebut. “Karena kondisi seperti itu, bisa dikatakan baru tahun kedua beternak murai ini saya tidak mendapatkan hasil,” ujar pria 38 tahun ini.

Sebab berdasarkan pengalamannya, burung murai merupakan jenis burung yang memiliki daerah atau teritorial sendiri. Sehingga jika sudah menyatakan tempat tersebut merupakan teritorialnya, cenderung mempertahankan dan hanya mau kawin maupun mengerami telurnya di teritorialnya tersebut. Untuk itu, sebelum memulai proses perkawinan terlebih dahulu melepaskan indukan betina di sangkar tersebut. Jika betina telah menyatakan sangkar tersebut sebagai daerah teritorialnya, langsung dilepaskan pejantan.

Tujuannya, kendati sang betina tidak suka akan kedatangan pejatan tersebut dan menaunginya, tidak sampai membunuh. Sebab, betina tidak ada naluri untuk membunuh. Dari situlah, Agus terus menjodohkan murai peliharaannya hingga cocok dan mau kawin. “Hal yang penting dalam menjodohkan baik jantan maupun betina tidak boleh dari satu peranakan dengan gen yang sama. Sebab jika itu terjadi, kondisi perkembangan anaknya pasti tak sempurna,” tutur pria yang memiliki nama ring King Agus ini.

Tak ayal, hal tersebut membuat murai batu medan ternakannya banyak yang meminati. Pecinta burung yang akan membeli peranakannya bisa melihat indukannya langsung tanpa takut stres. Sehingga selain dari dalam daerah sendiri, burung ternakannya tersebut juga kerap dipesan dari luar daerah, seperti Solo, Jawa Tengah dan sebagainya. “Siapa pun pecinta burung yang akan membeli peranakan murai dari saya ini pasti senang karena bisa melihat langsung indukannya,” jelasnya. (*)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia