alexametrics
Sabtu, 04 Jul 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

Pedagang Hewan Harus Bawa Surat Jalan

30 Juni 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Infografis

Infografis

KOTA, Radar Tulungagung – Mendekati Idul Adha, Pemkab Tulungagung akan memperketat protokol kesehatan di setiap pasar hewan di Tulungagung. Jika didapati pedagang hewan yang tidak membawa surat jalan dari daerah asal, petugas akan menyuruh mereka kembali ke daerah asal.

Wakil Juru Bicara (Jubir) Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Tulungagung Galih Nusantoro mengatakan, mendekati Idul Adha, pihaknya akan memperketat di setiap pasar hewan. Menurutnya, yang harus diwaspadai dalam mencegah penularan Covid-19 adalah pedagang dari luar Tulungagung. “Karena proses jual beli menjelang Idul Adha di pasar hewan itu biasanya naik 100 persen,” tuturnya.

Bagi pedagang dari luar Tulungagung, wajib membawa surat jalan dari daerah asal. Selain itu, mereka harus sudah dilakukan pengecekan rapid test untuk memastikan bahwa ia dalam kondisi yang sehat. Jika nanti didapati pedagang yang tidak membawa surat jalan, konsekuensinya adalah tidak bisa memasuki pasar dan terpaksa harus putar balik. “Sebenarnya yang berbahaya itu adalah sopirnya, soalnya ia melakukan perjalanan antar kota,” ujar Galih.

Pria ramah itu menambahkan, di setiap pintu masuk pasar hewan akan dibuatkan check point untuk melakukan pengecekan surat jalan dan suhu tubuh para pedagang tersebut. Jika nanti terdapat pedagang yang memiliki suhu tubu di atas 37 derajat, akan langsung dibawa ke layanan kesehatan. “Jika nanti suhu tubuh tetap tinggi, maka akan dilakukan rapid test. Jika hasilnya reaktif, segera kami akan langsung mengambil tindakan,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu pedagang hewan kurban, Saim Soimun mengungkapkan, bulan menjelang Idul Adha saat ini, sudah banyak orang yang membeli hewan kurban. Namun karena adanya Covid-19, jual-beli hewan kurban pun sangat sepi. Akhirnya, tahun ini dia tidak berani menyetok hewan kurban dengan jumlah banyak. “Biasanya saya menyetok hingga 300 ekor kambing. Tapi dengan kondisi saat ini, saya hanya berani menyetok 100 ekor kambing,” ungkapnya.

Dia mengatakan, penurunan daya beli hewan kurban mencapai 60 persen jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, penurunan daya jual hewan kurban tersebut tidak memengaruhi harga jual hewan kurban atau masih di kisaran harga yang wajar. Mulai dari harga Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta. “Untuk harga masih stagnan saja, ya di kisaran Rp 2 juta,” papar pria asal Desa Serut, Kecamatan Boyolangu itu.

Saim menjelaskan, penurunan harga penjualan tidak sepenuhnya dipengaruhi aturan di pasar hewan yang ketat selama pandemi Covid-19. Menurutnya, penurunan penjualan hewan kurban lebih didasarkan pada faktor rendahnya daya beli masyarakat. Kini pihaknya mengubah strategi penjualan dengan jemput bola. Yakni dengan cara menghubungi para pelanggan tetap yang biasanya melakukan pembelian hewan kurban. “Saya akan berusaha menghubungi dengan data pelanggan yang kami miliki,” pungkasnya. (ham/ed/ris) 

(rt/dre/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia