alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Ahmad Tegar Sunu, Penghobi Sugar Glider

Nutrisi Karbohidrat, Vitamin dan Protein Harus Seimbang

01 Juli 2020, 21: 15: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TELATEN : Ahmad Tegar Sunu Prakoso merawat sugar glider miliknya

TELATEN : Ahmad Tegar Sunu Prakoso merawat sugar glider miliknya (ADITYA YUDA SETYA PUTRA/RADAR BLITAR)

Hobi memelihara satwa mungkin sudah biasa. Tapi memelihara satwa sekaligus mengembangbiakkannya untuk dijadikan lahan bisnis boleh jadi beda. Seperti Ahmad Tegar Sunu Prakoso yang memelihara dan mengembangbiakkan mamalia jenis sugar glider. Berikut kisahnya.

Sejak sepekan terakhir, hawa dingin mulai terasa di wilayah Blitar mulai sore hingga dini hari. Maklum, di masa peralihan dari musim penghujan ke kemarau, cuaca dingin bisa saja terjadi. Jaket tebal wajib dikenakan jika hendak beraktivitas di luar rumah.

Meskipun udara terasa dingin, seorang pemuda terlihat sedang asyik bermain-main dengan beberapa satwa di rumahnya di Kelurahan Sumberdiren, Kecamatan Garum. Terlihat juga beberapa kandang hewan berbagai ukuran. Dia adalah Ahmad Tegar Sunu Prakoso. Seorang penghobi sekaligus breeder (peternak) beberapa jenis satwa mulai dari jenis ular hingga sugar glider sejak beberapa tahun belakangan. Khusus untuk jenis sugar glider, Tegar mengaku satu tahun ini mulai mengembangbiakkan jenis mamalia kecil ini.

Semua berawal dari kecintaannya pada satwa. Terlepas apakah itu satwa reptil atau mamalia. Karena itu, jangan heran kalau di rumah Tegar terlihat seperti Taman Safari Mini. "Faktor utama karena pecinta binatang. Gak mandang reptil, mamalia, bahkan serangga juga. Dasarnya pecinta hewan," terang pria 27 tahun ini.

Karena mulai tertarik dengan jenis sugar glider, Tegar pun memutuskan mulai mempelajari segala hal yang berkaitan dengan jenis mamalia marsupial ini (hewan berkantong). Mulai dari jenis makanan, habitat, cara perawatan, dan cara mengembangbiakkannya. Tegar menyimpulkan bahwa memelihara sugar glider terbilang mudah dan tidak memerlukan perawatan khusus seperti jenis hewan lain. "Perawatan khusus tidak ada. Yang penting kebersihan kandang," ujarnya.

Selang beberapa waktu. Tegar memiliki beberapa pasang. Dia mengaku, meskipun perawatan sugar glider terbilang mudah, untuk sugar glider anakan tetap harus diberi perhatian khusus karena sangat lemah dan rentan. Pasalnya begitu lahir, anak sugar glider berukuran hanya sebesar biji beras. Lalu sang induk akan “menyimpan” anaknya di dalam kantong sampai si anak berusia dua bulan. "Dua bulan baru keluar kantong dan masih belum berbulu. Jadi tidak boleh sering dipegang," tandasnya.

Lalu di usia 3,5 bulan, anakan sugar glider mulai diberi asupan makanan tambahan selain dari susu induknya. Yakni berupa bubur bayi. Mungkin terdengar aneh, tapi Tegar mengungkapkan, bubur bayi mengandung nutrisi dan tekstur yang pas bagi bayi sugar glider yang nantinya akan membantu pertumbuhan si bayi.

Apabila sudah dewasa, asupan nutrisinya harus seimbang agar tidak mudah terserang penyakit serta tetap lincah dan aktif. Seperti buah untuk asupan vitamin, bubur bayi untuk karbohidrat, dan jenis serangga kecil untuk protein. "Makanan harus mengandung vitamin, karbohidrat, dan protein," terang anak ketiga dari tiga bersaudara ini.

Begitu sugar glider sudah dewasa, orientasinya berubah menjadi lahan bisnis. Pasalnya, kendati berukuran mungil, harga sugar glider di pasaran bisa menyentuh nominal jutaan. Bahkan, ada beberapa jenis tertentu yang bisa mencapai angka puluhan juta.

Tegar mengungkapkan, untuk jenis sugar glider yang biasa atau classic grey, harganya berada di kisaran Rp 300-350 ribu per ekor. Sedangkan untuk jenis creamino, harganya mencapai Rp 3-3,5 juta per ekor. Sedangkan untuk jenis albino, harganya mencapai Rp 4-4.5 juta per ekor. "Yang paling mahal jenis creamino. Harganya bisa puluhan juta," ungkap Tegar.

Disinggung terkait kendala jika ingin berbisnis sugar glider, Tegar mengaku sempat terkendala dengan beberapa faktor internal maupun ekternal. Faktor eksternalnya, adanya gangguan hewan lain pada si sugar glider. Misal tikus atau kucing. Sedangkan untuk faktor internal, kadang terjadi sudden dead atau kematian mendadak pada hewan peliharaannya. Namun, dia mengaku selama ini dirinya sudah banyak belajar dan dapat mengantisipasi hal-hal tersebut.

Dia pun berpesan kepada sesama pecinta satwa atau mereka yang ingin memulai berbisnis jual-beli satwa agar, mempelajari betul semua yang berkaitan dengan satwa yang akan dikembangbiakkan. Dan yang tidak kalah penting, selalu membeli satwa dari sesama penghobi atau membeli dari peternak langsung dan bukannya mengambil satwa dari alam liar yang nantinya akan mengganggu ekosistem yang ada di habitat asli si satwa. "Pelajari dulu. Habitatnya seperti apa, makanannya apa. Kalau bisa beli yang dari peternak. Jangan ambil di alam," pungkasnya. (*/ed/din)

(rt/dre/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia