alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Pengalaman Dewi Sutini, Pengusaha Perahu

Tertipu Ratusan Juta, Bergegas Bangkit dan Raih Kesuksesan

02 Juli 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BANGGA DENGAN HASIL SENDIRI: Dewi menunjukkan arsip jenis-jenis perahu hasil dari usahanya.

BANGGA DENGAN HASIL SENDIRI: Dewi menunjukkan arsip jenis-jenis perahu hasil dari usahanya. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Melihat ada peluang usaha pembuatan perahu, membuat Dewi Sutini banting setir dari mengandalkan pendapatan sebagai keluarga nelayan, beralih menekuni usaha pembuatan perahu. Usaha itu cukup langka di Kecamatan Munjungan karena hanya dia yang bisa membuat perahu dengan berbahan fiber.

MATAHARI mulai beranjak tenggelam di ufuk barat, tapi aktivitas di rumah Dewi Sutini, Desa Masaran, Kecamatan Munjungan, masih terlihat sibuk. Sekitar 10 orang beramai-ramai mendorong perahu dari halaman rumah, menyeberang ke area lapang.

Sesekali mereka menyerukan hitungan satu, dua, tiga, sebagai tanda agar mereka memacu tenaga semaksimal mungkin untuk mendorong. Di antara 10 orang tersebut, ada yang masih berusia muda. Yang usia lanjut pun ada. Namun, semangat dia tak kalah dari yang muda.

Perahu itu berukuran cukup panjang. Moncong dan ekornya membentang melebihi jalan penghubung antarrumah tangga (RT). Lebih dari 6 meter panjangnya. Pada moncong perahu diikat tali, tepat di atas bak pikap dengan beralaskan ban. Sedangkan pada bagian ekor, diletakkan di atas roda. Perahu itu dipindahkan dengan posisi tengkurap. "Agar moncong tidak lecet atau rusak," ungkap Dewi Sutini.

Usai perahu itu berhasil dipindahkan. Masih ada tahap lagi yang membutuhkan teknologi katrol dengan ketinggian sekitar 2 meter. Kegunaannya untuk mengangkat setengah badan perahu. Tak jauh dari perahu itu, telah siap truk dengan bak yang sudah dibuka. Nantinya perahu itu akan diangkut menggunakan truk. "Ini pesanan dari Gresik," katanya.

Ibu dari lima anak ini agak lupa kapan usaha perbaikan kapal itu didirikan. Dia mengira-ngira kalau usaha itu sudah sejak empat tahun lalu. Selama itu, pengalaman menggeluti usaha itu pun tak luput dari cerita pilu. "Pernah dulu kena tipu, telanjur buat kapal pesiar, tapi tak dibayar tuntas," kata dia dan raut wajahnya pun sedikit murung.

Sekitar 2017 silam, kata Dewi, dia pernah mendapat tawaran untuk membuatkan kapal pesiar keluarga di Gresik. Kapal itu dipesan dari seorang wakil rakyat. "Dia anggota dewan perwakilan rakyat (DPR)," cetusnya. Tawaran itu pun disetujui oleh suaminya. "Karena suami kalau udah akrab gitu, jadi mau-mau aja," ungkapnya. Padahal, lanjut dia, pembuatan kapal pesiar itu membutuhkan biaya yang tak sedikit. "Hampir Rp 300 juta dulu buat kapal itu," ucapnya.

Selama proses pengerjaan kapal, benar pemesan selalu memantau setiap perkembangan. Tapi, kata Dewi, masih proses pengerjaan sudah menuai banyak kritikan. Padahal, DP yang diberikan itu kurang. "Sudah minta ini, minta itu," imbuhnya. Dewi pun enggan melanjutkan ceritanya karena hanya kisah pilu ketika mengingat saat-saat itu. "Sempat trauma karena modal untuk pembuatan kapal pesiar itu dari utang di bank," kata dia.

Efek trauma itu dirasakan hingga beberapa bulan. Sampai akhirnya Dewi memutuskan untuk merintis usahanya lagi. Dia mulai menerima pesanan perbaikan perahu dan usaha itu melejit hingga kini.

Ide awal Dewi menemukan usaha perbaikan perahu ini bermula karena keluarganya berlatar belakang nelayan. Menggantungkan rezeki dari hasil perikanan. Ibunya dulu juga punya perahu slerek besar (perahu yang digunakan untuk menangkap ikan). Pengalaman sedari kecil itu pun membuat Dewi akrab di dunia perkapalan, mengerti seluk-beluk nelayan yang butuh perahu. "Ya, kadang kalau kapal itu harus diperbaiki. Sedangkan orang yang memperbaiki itu harus punya keahlian," ucapnya.

Ide awal itu membuka usaha sebagai perbaikan kapal, kata dia, itu terinspirasi dari pengalaman-pengalaman yang dulu-dulu. Sering memperbaiki kapal di Kabupaten Pacitan khususnya. Kemudian ide itu pun mencuat tentang bagaimana cara membuka usaha perbaikan perahu di Bumi Menak Sopal. “Tim pembuatan perahunya dari orang lokal sini, tapi ada seniornya asli orang dari Jawa Barat. Orang sini juga diajari, tapi pengalamannya masih butuh pengalaman lagi,” jelasnya.

Dewi mengaku, keahlian untuk membuat perahu masih sangat langka. Begitu pun di Pacitan. Hingga kini orang lokal belum ada yang mampu membuat perahu mulai dari nol. Bisanya masih sebatas untuk perbaikan. Untuk itu, dia pun berinisiatif untuk menjalin kerja sama dengan seorang ahli dari Jawa Barat yang kerap disapa Didik. “Mulanya dari ahli lalu membawa rekan dan kini rekannya sudah pandai-pandai dan ditarik di sini,” kata dia 

Menurut dia, tahap yang cukup menyulitkan adalah tahap pembuatan cetakan. Sulit bukan dalam arti proses pembuatannya. Namun, lebih pada modal yang dikeluarkan. Dewi menyebut, ada lima cetakan yang dimilikinya. Di antaranya masih proses pembuatan. Model perahunya termasuk yang terbaru. “Ini aja ada tiga cetakan perahu yang sudah tak terpakai lagi karena modelnya sudah usang,” ungkapnya. 

Biaya untuk pembuatan cetakan itu tergolong cukup mahal. Dewi mengatakan, biasanya memerlukan biaya mencapai Rp 40 juta. Pasalnya, untuk pembelian resin butuh sekitar Rp 9 juta dan Rp 8,5 juta per drum. 

Melihat dari proses pembuatannya, tergantung permintaan konsumen. Dewi bilang, ada yang 10 hari harus jadi. Ada juga asal diselesaikan tanpa terbatas waktu. Sebab, sebagian masyarakat juga masih memiliki kepercayaan, kalau membuat perahu harus mengikuti hari-hari tertentu. Pada tanggal ini juga harus sudah selesai. “Tim saya hanya ada satu. Jadi dari prioritas mana-mana yang minta didahulukan. Yang penting tidak sampai mengecewakan konsumen,” ucapnya. 

Pandemi Covid-19 juga sempat memengaruhi produksi perahunya. Di bulan Juni ini masih dua perahu yang diselesaikannya. Padahal sebelum ada kemunculan virus itu, Dewi bisa memproduksi hingga enam perahu selama tiga minggu. “Enam perahu itu dari pengadaan pemerintah, lalu ahlinya itu pulang karena wabah korona. Jadi kalau wabah korona ini mereda, dia juga kembali lagi ke sini,” tegasnya. 

Menilik jenis-jenis perahu yang pernah diproduksinya. Dewi mengaku bisa membuatkan berbagai model perahu. Baik untuk perahu nelayan maupun wisata. Pasalnya, kedua jenis perahu itu pernah dibuatnya. Tinggal menuruti desain perahu yang diminta para konsumen. “Tergantung permintaan. Mau model gimana itu bias, asal berbahan fiber,” kata dia. Pemasaran perahu dari Dewi tidak sebatas lokal Trenggalek, tapi sudah sampai di luar Pulau Jawa. (tra/ed/tin)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia