alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek

Disimulasikan dengan Bagus, tapi Harus Ada Antisipasi

Dibolehkannya Menggelar Hajatan di New Normal

03 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

JAGA KEBERSIHAN: Tamu diwajibkan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum memasuki acara simulasi hajatan pernikahan di Pendapa Manggala Praja Nugraha

JAGA KEBERSIHAN: Tamu diwajibkan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum memasuki acara simulasi hajatan pernikahan di Pendapa Manggala Praja Nugraha (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Kinerja Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 bersama satuan tugas (satgas) yang ada di desa bakal lebih berat lagi. Hal itu seiring diperbolehkannya hajatan digelar kembali di new normal nanti.

Hal itu dilakukan mengingat tidak ada yang bisa menjamin kondisi di lapangan ketika hajatan dimulai. Apakah bisa dilakukan sesuai tutorial yang telah dibuat, dengan menerapkan protokol kesehatan. Bisa saja tamu yang diundang  datang secara bersamaan sehingga terjadi kerumunan.

"Kalau proseduralnya seperti yang telah dicontohkan dan ditentukan memang baik karena sudah tertata. Namun, kami tidak tahu seperti apa kondisi yang mungkin nanti terjadi," ungkap Pelaksana Harian GTPP Covid-19 Trenggalek Djoko Rusianto.

Dia melanjutkan, dalam pelaksanaannya, GTPP tidak tahu berapa undangan yang nantinya tersebar. Dikhawatirkan penyelenggara tidak bisa mengendalikan jumlah undangan yang masuk beserta jaga jaraknya. Ditambah, penghitungan hari baik yang dilakukan oleh tokoh masyarakat setempat sehingga bisa saja dalam satu hari ada dua bahkan lebih hajatan yang ada tiap desa.

"Apalagi ada adat di desa yang tidak bisa dikesampingkan. Seperti undangan yang disebar 50, bisa saja yang datang 200 dengan berbagai kendaraan. Ditambah dalam penentuan hari baik yang biasanya tiap desa ada satu orang yang sama dalam penentuan itu. Pastinya hasilnya sama-sama satu hari baik," jelasnya.

Jika hal tersebut terjadi, pastinya GTPP harus siap melakukan langkah antisipasi. Itu dilakukan semata untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19 karena hadir dalam hajatan. Seperti yang terjadi di beberapa daerah lain, yang pengantin dan beberapa tamu undangan terkonfirmasi positif hingga ada yang meninggal. Dari situ, perlu pencermatan betul-betul kegiatan tersebut di lapangan.

Dengan kata lain, dalam pelaksanaan ini, selain GTPP, satgas yang ada di desa benar-benar dilibatkan. Yang menjadi perhatian kegiatan tersebut yakni orang desa awam, yang mengikuti hajatan tersebut dan tidak mengetahui terkait protokol kesehatan. Peran serta satgas desa perlu dikedepankan. Selain itu, wajib hukumnya berkoordinasi dengan GTPP terkait izin yang nantinya dikeluarkan dalam satu hari, luas area untuk menggelar hajatan, jumlah undangan, dan apakah sudah sesuai yang disimulasikan atau tidak.

"Pasti semua orang tidak tahu dalam praktiknya nanti seperti apa. Jadi koordinasi antara penyelenggara dengan petugas wajib dilakukan. Karena ini tanggung jawab sepenuhnya ada di penyelenggara yang mengajukan izin. Satgas maupun GTPP tinggal mengawasi apakah pelaksanaannya seperti yang diterangkan dalam pengurusan izin atau tidak," jlentreh kepala pelaksana BPBD Trenggalek ini.

Seperti yang diberitakan, para kepala desa (kades) di wilayah Kota Keripik Tempe tampaknya harus berhati-hati dalam mengeluarkan rekomendasi masyarakat yang ingin melaksanakan hajatan. Pasalnya, tidak ada yang bisa menjamin apakah hajatan yang nantinya dilakukan aman daru penularan virus korona atau tidak.

Perlu dilakukan pendalaman di tingkat pemerintahan desa (pemdes). Mengingat satgas diketuai oleh kades. Sehingga sebelum memberikan rekomendasi, harus ada komitmen antara satgas Covid-19 desa dengan penyelenggara. Intinya hajatan harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Seperti yang telah dicontohkan di Pendapa Manggala Praja Nugraha, kemarin (30/6). (jaz/ed/tin)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia