alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Ahmad Redam Sunalis dan Sampah Hasil Olahanny

Dari Kekhawatiran Ibu-Ibu, Bikin Pot Berbahan Popok Bayi Bekas

03 Juli 2020, 17: 45: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

KREATIF: Ahmad Redam Sunalis menunjukkan pot dari sampah popok bayi dan batako hasil kreasinya di TPST Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, beberapa waktu lalu.

KREATIF: Ahmad Redam Sunalis menunjukkan pot dari sampah popok bayi dan batako hasil kreasinya di TPST Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, beberapa waktu lalu. (MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH/RADAR BLITAR)

Lewat kreasinya, Ahmad Redam Sunalis, warga Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, ini berhasil menciptakan barang-barang bernilai guna dari sampah. Salah satunya batako dari abu sisa pembakaran sampah.

Dari kejauhan terlihat asap hitam menyembul keluar dari sebuah bangunan di tengah-tengah persawahan di Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, sore itu. Bau menyengat langsung tercium ketika Koran ini mendekati bangunan tersebut.

Asap hitam itu bukanlah efek kebakaran, melainkan asap hasil pembakaran sampah-sampah rumah tangga. Sampah-sampah itu sudah dipilah sebelumnya. Mana yang bisa didaur ulang kembali dan mana yang harus dimusnahkan dengan cara dibakar.

Sampah itu dibakar di tempat khusus di sebuah bangunan persegi berdinding tinggi menjulang. Sampah dimasukkan ke bangunan itu melalui lubang. Api yang sudah membara di dalam langsung membakar sampah-sampah itu.

Itulah aktivitas sehari-hari yang dilakukan Ahmad Redam Sunalis di tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) di Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro. Setiap hari Redam bersama tiga rekannya memilah dan membakar sampah-sampah yang dihasilkan oleh warga desa tersebut.

Di selatan tempat pembakaran itu tampak abu sisa pembakaran sudah menggunung. Abu itu sudah setinggi hampir 5 meter. "Abu itu biasanya digunakan untuk pupuk tanah bagi petani sekitar. Setiap kali musim jagung dibeli petani. Sekarung Rp 4 ribu," katanya saat ditemui di TPST, Rabu (1/7).

Namun karena belum masuk musim jagung, akhirnya abu tersebut menggunung di sudut bangunan TPST. Belum ada lagi petani yang membeli abu itu sebagai pupuk. Redam agak sedih.

Daripada terus menggunung, Redam pun memutar otak untuk mengurangi abu itu tanpa dibuat pupuk lagi. Dia mencari cara lain untuk bisa memanfaatkan abu itu. "Akhirnya saya cari referensi di internet. Kalau dulu buku jendela dunia, kini YouTube jendela dunianya," kelakar pria 36 tahun itu.

Situs penyedia sejumlah konten video itu pun dibukanya. Kemudian dicari video berkonten abu sisa pembakaran sampah. Saat itu, Redam langsung menemukan video tentang pemanfaatan abu sisa pembakaran.

Dibukalah video berisi tutorial tersebut. "Ternyata abu bisa dimanfaatkan untuk membuat batako. Saya belajar cara membuatnya," terang pria yang sudah enam tahun berjibaku dengan persampahan itu. Saat itu juga dia langsung mempraktikkannya. "Ini masih baru sekitar seminggu lalu. Itu hasil batakonya yang sudah jadi," lanjutnya lalu menunjukkan sejumlah batako tersebut.

Batako hasil cetakan Redam lumayan bagus. Tidak kalah jauh dengan cetakan batako pada umumnya. Bobotnya juga cukup berat. Batako itu terbuat dari campuran abu, semen, dan pasir. "Perbandingannya lebih banyak abunya. Setelah itu, dicampur rata langsung dicetak," jelasnya.

Berkat batako buatannya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar pun langsung tertarik. DLH bergegas menuju TPST tempat kerja Redam untuk melihat langsung wujud batakonya. "Alhamdulillah, DLH mau pesan 200. Katanya untuk sampel dulu," ujar pernah aktif sebagai pengurus karang taruna di desanya itu.

TPST tersebut berdiri di tanah bengkok atau tanah aset Desa Jatinom. TPST itu dikelola oleh desa dan baru aktif pada Januari lalu. "Sebelumnya sampah dibuang di lahan warga yang sudah disiapkan. Kebetulan ada warga berkenan. Namun setelah lahannya dibeli, akhirnya sudah tidak bisa lagi," beber Redam.

Ternyata kreativitas Redam tidak berhenti di batako. Dia juga membuat pot tananan. Bukan dari plastik maupun tanah liat, melainkan dari sampah popok bayi. Hiiii...Pasti jijik.Tapi tidak buat Redam.

Sampah-sampah popok bayi didapat dari warga. Setelah tiba di TPST, sampah popok bayi itu langsung dipilah. Dipisahkan sendiri. "Kemudian saya bersihkan gelnya. Gel ini butuh waktu setahun baru terurai. Kalau popoknya butuh sampai tiga tahun terurai," terang pria yang kini sedang menempuh kuliah di salah satu kampus swasta di Kota Blitar ini.

Setelah dibersihkan dari gelnya, popok itu langsung dicuci bersih. Tanpa dikeringkan, popok bekas itu langsung dicampur dengan adonan semen lantas dicetak membentuk pot. "Untuk satu pot butuh tiga popok," kata Redam sembari menunjukkan popok bayi bekas yang sudah dikumpulkannya itu.

Ide memanfaatkan sampah popok bayi menjadi pot tanaman itu sebenarnya berawal dari kekhawatiran para ibu-ibu di desanya. Setiap kali Redam mengambil sampah ke rumah warga, ibu-ibu yang memiliki bayi selalu mengingatkan agar tidak membakar popok bayi.

Sebab, menurut kepercayaan ibu-ibu, kalau popok bekas dibakar bisa mengakibatkan kulit si anak jadi gatal-gatal. "Itu kan mitos ya. Kalau ilmiah belum ada buktinya juga. Waktu itu saya bilang ke para ibu, okelah, nggak saya bakar," ujar pria yang mengaku pernah terjerumus dalam dunia narkoba ini.

Dia pun kebingungan harus diapakan popok-popok bayi yang sudah menumpuk di TPST itu. Apalagi, proses terurainya butuh waktu bertahun-tahun. Lagi-lagi YouTube jadi solusinya. "Akhirnya saya cari referensi ternyata ada. Salah satunya bisa dibuat pot tanaman. Lalu saya coba," terangnya.

Kini Redam belum memproduksi banyak pot tanaman dari sampah popok bayi itu. Dirinya masih terkendala tenaga dan bahan untuk mencetak. "Kalau nanti sudah ada uang, mungkin saya belikan cetakan biar lebih mudah. Sementara pakai cetakan pot bekas seadanya," ujar pria ramah ini.

Sementara untuk batakonya, Redam juga berkeinginan untuk menjualnya di pasaran. Namun dia masih ingin melihat harga batako di pasaran lebih dulu.

Jangan sampai harga batako dari abu sampah yang dijualnya itu lebih murah sehingga bisa menjatuhkan harga pasaran. "Malah kasihan nanti perajin batako di luar sana. Saya yakin ini (batako, Red) bisa bersaing," ucapnya optimistis. (*/ed/din)

(rt/kan/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia